Kasus Covid-19 di Jabar Naik Usai Libur Panjang, Tetapi Tak Setinggi di Agustus
"Ini menandakan protokol kesehatan 3M dan pembatasan di destinasi wisata itu dilakukan dengan baik," ujar Gubernur Jabar, M Ridwan Kamil.
Kasus positif Covid-19 di Jawa Barat pascalibur panjang akhir Oktober lalu mengalami kenaikan. Di sisi lain, tingkat keterisian rumah sakit rujukan untuk pasien Covid-19 di Jawa Barat sudah masuk kategori tinggi.
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyatakan kenaikan yang terjadi tidak signifikan seperti pascalibur panjang saat Agustus 2020. Di sisi lain, ia mengklaim hal itu terjadi karena protokol kesehatan dan pembatasan di destinasi wisata berjalan baik.
Kenaikan kasus setelah libur logis sebagai konsekuensi aktivitas warga. Apalagi, Jawa Barat yang memiliki destinasi wisata menjagi pilihan warga untuk menghabiskan liburan.
"Dan memang risiko tinggi ada di kita karena penerbangan orang jarang. Sekarang orang berwisata naik sepeda motor atau mobil, dan orang Jakarta mayoritas larinya ke Jabar," kata dia melalui keterangan tertulis yang diterima, Jumat (13/11).
Satu hal lain yang harus diwaspadai adalah libur Natal dan Tahun Baru pada akhir Desember. Pemerintah daerah di kabupaten kota harus segera merancang sistem pencegahan terintegrasi di tempat-tempat wisata dan pintu masuk daerah.
"Hati-hati dan perbaiki (protokol kesehatan dan pembatasan pengunjung wisata), karena libur panjang akan hadir di bulan Desember," ucap dia.
Menko Bidang Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan yang berbincang dengan Ridwan Kamil secara virtual membenarkan kenaikan kasus terkonfirmasi Covid-1 pascalibur panjang.
Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Marves per 11 November 2020, kontribusi provinsi pada mortalitas nasional dua minggu pascalibur panjang Oktober di delapan dan lima provinsi mengalami penurunan, apabila dibandingkan dua minggu pasca-libur panjang Agustus.
Per 9-15 September kontribusi nasional terhadap penambahan kasus di delapan provinsi mencapai 77,8 persen, dan lima provinsi 13,4 persen. Sementara hampir dua minggu setelah libur panjang akhir Oktober penambahan kasus di delapan provinsi mencapai 63,4 persen dan lima provinsi 14,4 persen.
"Kalau kita lihat per 11 November total kasus terjadi kenaikan cukup banyak juga, tapi tidak sebanyak pada libur panjang bulan Agustus. Saya kira cukup berhasil juga teman-teman sekalian melakukan penanganan ini, karena sudah mau dua minggu (pascalibur panjang)," kata Luhut.
Catatan lain adalah jumlah laporan operasi yustisi protokol kesehatan 3M di Jabar menurun 16 persen dari asalnya 160,9 ribu menjadi 135 ribu. Sehingga, menurut dia wajar ada peningkatan kasus positif hingga 41 persen.
Jabar menempati urutan kedua peningkatan kasus positif pascalibur panjang di bawah Jateng (49 persen), di atas DKI Jakarta (14 persen), dan Jatim (5 persen). Secara rata-rata, tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit di empat provinsi tersebut berada di bawah 65 persen.
"Dirjen Yankes, Dirjen Farmalkes (Kementerian Kesehatan RI) mohon pastikan ketersediaan obat dan alat di rumah sakit rujukan agar angka kematian dapat ditekan," kata dia.
Selain itu, untuk menekan terjadinya penularan di dalam rumah, Pemerintah Daerah (pemda) juga perlu terus mendorong penggunaan fasilitas isolasi terpusat bagi pasien bergejala ringan atau tidak bergejala. Luhut meminta Kementerian Kesehatan menyusun pedoman tertulis tentang isolasi terpusat yang dapat diikuti oleh pemda.
"Perlu dilakukan testing dan tracing yang tepat sasaran berdasarkan analisis kluster untuk secepatnya memutus mata rantai penularan Covid-19," katanya.
Keterisian RS di Jabar Meningkat
Sementara itu, Kepala Bapelitbang sekaligus Koordinator Bidang Perencanaan, Data, Kajian dan Analisa Gugus Tugas Covid-19 Kota Bandung Ahyani Raksanagara menyebut tingkat keterisian Rumah Sakit rujukan sudah melebihi angka aman di angka 50 persen.
"Kalau total tempar tidur terisi sekitar 75 persen," kata dia.
Di Kota Bandung, rumah sakit rujukan yang tingkat keterisiannya tinggi adalah RS Hasan Sadikin dan RS Borromeus, meski ia mengaku tidak mengetahui angka secara pasti. Yang pasti, kedua rumah sakit itu memberikan pelayanan pasien dari warga di luar daerah.
Informasi yang dihimpun dari pihak RS Hasan Sadikin, angka pasien yang masih menjalani perawatan di sana berjumlah 105 orang dari total fasilitas yang tersedia sebanyak 131 ruangan.
Kepala Dinas Kesehatan Pemkot Bandung Rita Verita menyebut, berdasarkan data Pusat Informasi Covid-19 (Pusicov) kasus terkonfirmasi aktif di Kota Bandung berjumlah 309, tidak dijelaskan rincian lokasi yang dirawat.