Kapolri sebut di Riau marak penyelundupan dan perlu diawasi
Tito memerintahkan agar anak buahnya di Riau menutup pelabuhan tikus dianggap sebagai jalur para pelaku.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian merasa banyak masalah harus dibenahi Polda Riau. Maraknya penyelundupan menjadi pekerjaan rumah besar selain masalah kebakaran hutan dan lahan.
Itu disampaikan Tito saat mengunjungi Riau bersama Kadiv Humas Irjen Boy Rafli Amar, Kadiv Propam Muchammad Iriawan dan Kakorlantas Irjen Agung Budi Maryoto ke Pekanbaru, Selasa (30/8).
"Selain Karhutla (kebakaran hutan dan lahan), konflik sosial, perilaku anggota Polri, persoalan penyelundupan juga (harus) ditangani," kata Tito didampingi Kapolda Riau Brigjen Supriyanto.
Tito memerintahkan agar anak buahnya di Riau menutup pelabuhan tikus dianggap sebagai jalur para pelaku selundupan barang impor ilegal itu. Dengan cara itu, menurut Tito, para pelaku akan mengimpor barang melalui pelabuhan resmi dan memberikan masukkan bagi negara.
"Prinsipnya butuh tindakan tegas. Jangan sampai pasokan barang dalam negeri tidak tercukupi, masyarakat bergantung supply barang dari luar (negeri)," jelasnya.
Tito berharap, langkah untuk menambah jumlah pasokan produk ke wilayah agar masyarakat terjamin kebutuhannya. Tentunya dengan jalur resmi.
"Tapi memang di tempat tertentu, supply barang yang tergantung dari luar negeri, ini harus ditutupi dikompensasi supply barang dari dalam negeri. Karena banyak masyarakat di tempat tertentu membutuhkan barang dari luar. Jangan sampai nanti ditutup, kemudian supply barang dari dalam negeri tidak ada, mereka (masyarakat) menjadi kesulitan. Prinsipnya harus ditindak tegas," terangnya.
Untuk diketahui, sejumlah kabupaten di Riau merupakan jalur yang berbatasan langsung dengan perdagangan internasional, yakni Selat Malaka. Di antaranya, yakni jalur perairan di Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir, Kepulauan Kepulauan Meranti serta Kotamadya Dumai.(mdk/ang)