LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

JP Coen, peletak fondasi kolonial yang visioner

Secara tidak langsung, Coen juga punya sumbangsih membentuk, secara tidak sengaja, Bangsa Indonesia.

2013-09-21 07:06:51
JP Coen
Advertisement

Jan Pieterszoon Coen adalah Gubernur Jenderal Hindia Belanda peletak dasar fondasi koloni. Fondasi utama yang dibentuk JP Coen adalah menjadikan Batavia, sekarang Jakarta sebagai pusat pemerintahan Kompeni (VOC) Belanda yang beroperasi di Asia.

Dengan sistem pemerintahan yang sepenuhnya baru di zamannya. Sistem yang dibangun dengan di atas puing rasionalitas, jauh dari struktur feodal kerajaan yang ada di nusantara. Coen memerintah selama dua periode, pada 1619-1623 dan 1627-1629.

Ahli kolonial dari Universitas Indonesia Bondan Kanumoyoso menuturkan, pada abad ke XVII Coen sudah bisa memetakan arah ekonomi dunia dengan menjadikan Batavia sebagai pusat pemerintahan dan keperluan dagang VOC. Dia tahu persis, betapa strategisnya Batavia jika dijadikan pusat pemerintahan Hindia Belanda.

"Coen itu sosok peletak dasar fondasi kolonialisme Belanda, ini terlepas positif atau negatif. Dia yang membangun koloni dengan membangun pusat pemerintahannya di Batavia yang sekarang menjadi Jakarta. Dia adalah sosok Gubernur Jenderal dengan visi jauh ke depan," kata Bondan menjelaskan saat ditemui merdeka.com di rumahnya di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur pada Jumat (20/9).

Lebih lanjut Bondan menerangkan, Coen bisa meyakinkan pejabat VOC agar memiliki pusat pemerintahan koloni yang menetap, agar semua rencana usaha dan ekspansi lainnya bisa dilakukan terencana dengan baik. Kelebihan Coen yang lain, menurut Bondan, dia bisa memprediksi Batavia akan menjadi kota pusat suatu pemerintahan untuk jangka panjang. Bahkan Indonesia pun masih menjadikan Jakarta menjadi Ibu Kota negara sampai saat ini.

"Bayangkan, saat itu Indonesia yang belum ada. Sedangkan geopolitik nusantara masih terpisah-pisah oleh kerajaan-kerajaan. Coen sudah memiliki gambaran. Kota ini akan menjadi besar menjadi pusat satu pemerintahan yang terdiri dari konfederasi yang terpisah-pisah. Itu visinya Coen. Secara tidak langsung, Coen juga punya sumbangsih membentuk, secara tidak sengaja, Bangsa Indonesia," ujar Bondan lebih lanjut.

Namun menurut Bondan, sejarah tidak bisa dilihat dalam bentuk yang hitam putih. Termasuk sosok Coen itu sendiri. Dengan alasan itu, Coen tidak serta merta bisa disebut pahlawan bagi bangsa Indonesia. Bagi Bondan, apa yang dilakukan Coen yang merancang Batavia sebagai pusat pemerintahan untuk jangka panjang adalah bukan sebuah kesengajaan. Pilihannya didasari atas dasar ekonomi untuk VOC dan murni untuk penjajahan.

"Kalau bagi bangsa Indonesia dia memang bukan pahlawan, karena dia melakukan itu bukan dengan kesengajaan. Kalau sengaja, maka dia akan menyejahterakan, bukan menyengsarakan," kata Bondan.

Coen membayangkan kolonial yang akan dia bangun adalah kolonial yang dibentuk dibentuk oleh orang Belanda, didominasi dan diperintah oleh orang Belanda. Kemudian hidup dengan budaya calvinis, agamanya orang Belanda. Bahkan menurut Bondan, sampai mati, Coen masih mencita-citakan itu.

Sebelum bermarkas di Batavia, menurut Bondan, VOC Belanda belum memiliki kantor pusat pemerintahan yang beroperasi di Asia. Mereka sering berpindah-pindah dan harus menyesuaikan diri dengan kehidupan wilayah yang dikuasainya. Mulai dari budaya, agama, hingga bentuk bangunan. Namun, ketika Jayakarta direbut, Belanda benar-benar menghancurkannya dan menyulapnya menjadi kota dengan suasana dan bangunan gaya Belanda.

"Yang paling kuat arsitektur jajahan Belanda adalah Batavia. Kalau di tempat lain masih terbawa dengan arsitektur setempat. Namun di Batavia semuanya diimplementasikan dengan utuh. Di Batavia semua gagasan orang Belanda dituangkan. Jadi Jayakarta direbut dan benar-benar dihancurkan kemudian dibangun menjadi kota baru dengan nuansa Belanda," kata Bondan.

Selain itu, menurut Bondan, sosok Coen sangat terdokumentasi dengan baik. Dia menulis surat ke markas Kompeni di Belanda dengan rutin. Sepengetahuan Bondan, surat-menyurat dan tulisannya dibukukan yang tebalnya sampai 6.000 halaman.

"Itu selama dia dua kali menjabat sebagai Gubernur Jenderal. Dia adalah sosok gubernur yang paling banyak sekali menulis yang menuangkan pikiran akan tanah koloninya," ujar Bondan.

21 September 1629, atau 384 tahun lalu, JP Coen meninggal dalam usia masih muda, 42 tahun. Hari ini, merdeka.com akan menuliskan serial tentang JP Coen yang kontroversial dari berbagai sisi. Baik atau buruknya.

Advertisement
(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.