LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA
  2. NASIONAL

John Tobing Pencipta Lagu "Darah Juang" Meninggal Dunia, ini Pesan Terakhirnya

John Tobing telah berjuang melawan diabetes dan stroke selama beberapa tahun terakhir, sehingga seringkali ia harus dirawat di rumah sakit.

Kamis, 26 Feb 2026 14:30:00
john tobing
John Tobing Disemayamkan di Rumah Duka Arimatea RS Bethesda (Foto: Kukuh/Liputan6.com) (© 2026 Liputan6.com)
Advertisement

Keluarga almarhum Johnsony Maharsak Lumban Tobing, yang lebih dikenal dengan nama John Tobing, mengharapkan agar lagu perjuangan 'Darah Juang' terus dinyanyikan di berbagai tempat tanpa adanya tuntutan royalti. Mereka menyatakan bahwa John Tobing ingin agar warisannya diingat oleh seluruh generasi bangsa tanpa harus terikat dengan urusan royalti.

"Sesuai harapan Bapak yang disematkan di lagu Darah Juang tersebut, ia ingin lagu tersebut menggema di seluruh pelosok Nusantara dan Bapak hanya ingin dikenang sebagai pencipta lagu yang membekas bagi perjuangan bangsa," ungkap salah satu putranya, Gopas Kibar Syang Proudy (18), saat ditemui di rumah persemayaman Rumah Duka Arimatea RS Bethesda pada Kamis, 26 Februari 2026.

Rencananya, jenazah John Tobing akan disemayamkan hingga hari Sabtu, 28 Februari 2026, sebelum dimakamkan di TPU Madurejo, Prambanan, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gopas menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir, John telah berjuang melawan diabetes dan stroke. Ia sempat dirawat di RS Panti Rini selama dua bulan mulai dari 29 November 2025.

"Lalu balik ke rumah pada 28 Januari 2026 kemarin," jelasnya.

Advertisement

Setelah menjalani perawatan di rumah, mendiang John kembali dilarikan ke RS Hermina pada 8 Februari dan diperbolehkan pulang beberapa hari setelahnya. Terakhir, pada Rabu, 25 Februari 2026, John kehilangan kesadaran dan kemudian dirawat intensif di RSA UGM hingga menghembuskan napas terakhir.

"Saat dikabarkan henti jantung, kami sekeluarga tengah di rumah karena bapak tidak bisa ditunggui sebab dirawat di ICU. Bapak dinyatakan meninggal pukul 08.45 WIB," katanya.

Advertisement

Terpesona oleh Sosok Ayahnya

John Tobing Disemayamkan di Rumah Duka Arimatea RS Bethesda (Foto: Kukuh/Liputan6.com) © 2026 Liputan6.com

Gopas menggambarkan hari-hari terakhir dari sosok ayahnya yang sangat ia kagumi. Selama menemani ayahnya di rumah sakit, ia bertemu dengan banyak teman-teman ayahnya yang datang untuk membesuk. Mereka berbagi cerita tentang perjuangan John, terutama melalui lagu yang ia ciptakan, Darah Juang.

"Beliau tidak pernah padam memikirkan nasib bangsa ini. Tapi saya hanya bisa bilang, Bapak tidak usah berjuang lagi karena Bapak orangnya pantang menyerah," ungkapnya.

Awalnya, Gopas menganggap ayahnya hanya sebagai teman ngobrol dan teman bernyanyi saat ngopi di pagi dan malam hari. Namun, banyaknya cerita dari para pengunjung membuatnya semakin mengagumi sosok ayahnya yang rendah hati dan senang berbagi cerita dengan siapa pun.

"Mungkin yang membuat saya sedih, terakhir itu bapak bilangnya ingin bebas. Dia ingin segera sembuh dan bisa seperti dulu lagi," tambahnya.

Selama proses pemakaman John, gereja akan mengadakan doa bersama untuk mengenang almarhum.

Setelah doa di malam Jumat, keluarga akan melaksanakan tradisi Martonggo Raja, yaitu pertemuan keluarga untuk membahas persiapan jenazah, pembagian tugas, dan pengaturan adat agar semua berjalan dengan lancar.

Tradisi ini menjadi momen penting untuk mempererat tali silaturahmi di antara anggota keluarga dan menghormati almarhum dengan cara yang sesuai dengan adat yang berlaku.

Tidak Takut Melawan Ketidakadilan

Kenangan tentang John Tobing juga diungkapkan oleh kakak iparnya, Edy Purnomo. Ia menceritakan bahwa sejak muda, John sudah dikenal sebagai sosok yang idealis dan berani melawan ketidakadilan yang diciptakan oleh rezim Orde Baru.

"Saat aksi demo, dia selalu di depan," kenangnya.

Salah satu cerita paling dramatis yang pernah didengarnya adalah ketika John masih mahasiswa dan pulang ke Temanggung. Saat sedang menikmati makan siang di Magelang, John tiba-tiba diserang oleh aparat yang mendatanginya dan dipukul dengan popor senjata.

Akibat serangan itu, saraf mata John mengalami kerusakan, sehingga ia tidak dapat melihat dengan baik di malam hari.

Advertisement

"Meskipun aparat keamanan mengincarnya, mereka tidak berani menciduk John karena ayahnya adalah seorang hakim yang bertugas di Temanggung pada saat itu," ujarnya.

Berita Terbaru
  • BRI Peduli Bangun PLTS di Bandung Barat, Langkah Nyata Terangi Desa dan UMKM
  • Indonesia-India Bakal Teken Sejumlah MoU di Tengah Kunjungan PM Narendra Modi
  • Tunggu Konfirmasi Iran, Menlu Sugiono dan Ketua MPR RI akan Hadiri Pemakaman Ayatollah Khamenei
  • Konsep Pelatihan Sarjana Penggerak Diubah dan Keselamatan Peserta Jadi Prioritas
  • Pemilihan Logo HUT ke-81 RI Jadi Tonggak Sejarah Baru
  • berita update
  • darah juang
  • john tobing
  • meninggal
Artikel ini ditulis oleh
Editor Dani Mardanih
K
Reporter Kukuh Setyono, Lia Harahap
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.