JK sindir kebiasaan buruk kepala daerah soal rumah sakit
Menurut JK, rumah sakit dengan banyak pasien merupakan bukti kegagalan pencegahan penyakit oleh pemerintah setempat.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyindir kepala daerah yang kerap membanggakan antrean pasien rumah sakit, yang dikira sebagai wujud keberhasilan dalam pelayanan publik. Menurutnya, pendapat itu salah kaprah.
"Kalau kepala daerah ada yang bilang, pak saya punya daerah, rumah sakitnya antre pasien dari pagi sampai siang karena layanannya. Padahal itu adalah tanda-tanda kegagalan yang hebat, karena itu artinya kesehatan masyarakat dalam hal pencegahan tidak berjalan di daerah itu," kata Wapres Jusuf Kalla di hadapan undangan saat meresmikan program studi pendidikan dokter dan program studi profesi dokter di Universitas Bosowa (Unibos), Makassar, Senin, (25/7).
Hadir di acara tersebut Menristek Dikti Mohammad Natsir, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Ketua Yayasan Aksa Mahmud yang menaungi Universitas Bosowa, Aksa Mahmud, Rektor Unibos Saleh Pallu dan Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu.
Jadi kata Wapres yang akrab disapa JK ini, jangan diukur tingkat kesehatan daerah itu dari banyaknya rumah sakit dan dokter, justru harus diukur dari sepinya rumah sakit dan sedikitnya dokter, barulah disebut tingkat kesehatan meningkat.
JK menambahkan, Fakultas Kesehatan di universitas itu jangan cuma mengajarkan mengobati orang tetapi juga mengajarkan bagaimana orang-orang tidak ke dokter, bagaimana agar kesehatan orang-orang itu jadi baik.
"Coba perhatian, setiap ketemu orang pasti pertanyaanya, bagaimana sehat? Tidak pernah bertanya, bagaimana sakit?," tutur JK yang disambut tawa hadirin.
Di hadapan Aksa Mahmud, ketua Yayasan Aksa Mahmud yang tidak lain masih ada hubungan ipar itu, JK menyampaikan penghargaannya kepada Fakultas Kedokteran, Universitas Bosowa yang dibina oleh Universitas Airlangga dan Universitas Hasanuddin. Menurutnya itu sinergitas yang bagus karena akan lahir perpaduan kelebihan saat melakukan pembinaan.
"Jadi Unhas tidak akan jago sendiri karena ada pembandingnya. Itu penting karena persaingan bisa digunakan dengan semangat kompetisi," pungkas JK.(mdk/cob)