Jenderal Timur minta maaf wartawan Trans7 tertembak
Pihaknya tengah memeriksa seluruh personel yang terkait dengan insiden itu.
Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo mengaku tengah memeriksa seluruh personelnya yang terkait dengan insiden tertembaknya wartawan Trans7 di Jambi. Pekerja media itu tertembak saat sedang meliput demonstrasi penolakan BBM kemarin.
"Semua Polda dan Polres sedang melakukan pemeriksaan. Pasti nanti kenapa dan bagaimana, itu nantinya akan ada setelah pemeriksaan," kata Jenderal Timur Pradopo saat rapat kerja dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/6).
Timur meminta maaf atas kejadian itu. Dia berjanji setelah keluar hasil pemeriksaan, akan mendorong pelaku untuk bertanggungjawab.
"Saya mohon maaf rekan-rekan media yang kebetulan ada di keremunan itu. Misalnya harus ada langkah-langkah tertentunya, polisinya bertanggungjawab sampai dia sembuh," ujarnya.
Setelah APBNP 2013 disetujui dalam sidang paripurna DPR, polisi akan menggandeng Pertamina, TNI dan stakeholder untuk mengamankan kondisi dalam negeri.
"Yang terpenting masyarakat tidak kesulitan. Jangan terganggu," kata Timur.
Sebelumnya, Anton, wartawan Trans7 mengalami luka tembak di bawah mata sebelah kanan saat meliput aksi demontrasi gabungan mahasiswa Jambi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di gedung DPRD Provinsi setempat.
Seperti dituturkan M Arif Raramadhani, Koordinator Aksi Demo, waktu itu Anton bersama sejumlah wartawan lain sedang meliput aksi. Mereka berada di sebelah kiri para mahasiswa. Ketika suasana memanas, para wartawan tetap berada di sebelah massa.
"Waktu kami (massa aksi) berhadap-hadapan dengan polisi, dia (Anton) dan beberapa wartawan masih di sana. Tiba-tiba terdengar suara tembakan gas, lalu tiba-tiba dia kena," kata Arif kepada merdeka.com, Senin (17/6)(mdk/dan)