LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Jenderal senior jamin polri tak kan gonjang ganjing dipimpin Tito

Pemilihan Tito sebagai calon kapolri dinilai bisa merusak regenerasi dalam tubuh Polri.

2016-06-17 05:04:00
Tito Karnavian calon Kapolri
Advertisement

Presiden Joko Widodo telah menyerahkan nama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Tito Karnavian sebagai calon Kapolri tunggal menggantikan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun.

Presiden Jokowi punya alasan kuat memilih Komjen Tito. Mantan Kapolda Metro Jaya ini dianggap memiliki kemampuan membangun jaringan sekaligus meningkatkan kualitas institusi Bhayangkara.

"Saya berharap Pak Tito nantinya dapat meningkatkan profesionalisme Kapolri sebagai pengayom masyarakat dan memperbaiki kualitas penegakan hukum narkoba, terorisme dan korupsi," ungkap Presiden di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (16/6).

Advertisement

"Saya yakin beliau punya kemampuan cerdas, memiliki kompetensi yang baik," tambahnya.

Tito mengaku dititipkan pesan khusus oleh Presiden Jokowi. Salah satunya untuk melakukan reformasi di internal Korps Bhayangkara.

"Saya nggak perlu sampaikan (pesan dari presiden). Tapi yang utama beliau inginkan adalah reformasi polisi," ungkap Komjen Tito di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (16/6).

Advertisement

Jika terpilih menjadi orang nomor satu di institusi Polri, maka akpol lulusan 1987 ini melangkahi lima angkatan di atasnya. Ini menjadi tradisi baru dalam institusi Polri. Sebab, pada umumnya pemegang tongkat estafet Tribrata-1 merupakan dua tingkat di atas Kapolri sebelumnya.

Selain Tito ada sejumlah bintang tiga, yakni Wakapolri Komjen Budi Gunawan, Irwasum Komjen Dwi Priyatno, Kabaharkam Komjen Putut Eko Bayu Seno, Kepala BNN Komjen Budi Waseso, Kalemdikpol Komjen Syafruddin dan Sekretaris Utama Lemhannas Komjen Suhardi Alius. Tito tercatat sebagai bintang tiga termuda di Kepolisian.

Kondisi ini juga mengundang kekhawatiran terjadinya gonjang ganjing di internal kepolisian karena dipimpin jenderal yang lebih muda.

"Mengangkat dan memberhentikan Kapolri adalah hak prerogatif presiden. Tapi dalam hal ini seharusnya presiden memperhatikan jenjang karir dan kepangkatan seperti yang diamanatkan Pasal 11 Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian. Artinya kalau Tito dijadikan Kapolri tentunya harus diperhatikan dia masih terlalu muda. Masih ada 5 angkatan di atasnya dan pensiunnya masih sangat panjang sampai tahun 2022. Tentu kurang sehat bagi organisasi Polri," kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane dalam keterangan tertulisnya kepada merdeka.com, Rabu (15/6).

Menurut Neta, masih banyak senior yang jauh di atas Tito. Sehingga mantan Kapolda Metro Jaya itu perlu lebih dulu mendukung perwira yang senior untuk menjadi Kapolri.

"Tito terlalu junior dan masih banyak senior di atasnya. Sehingga tidak baik bagi organisasi Polri, kalau dipaksakan dan didorong Tito untuk menjadi Kapolri. Kalau pun Tito menjadi Kapolri dipastikan dia tidak akan nyaman memimpin para seniornya," katanya.

Namun, senior-senior Tito menjamin tidak ada gonjang ganjing meski nantinya dipimpin juniornya. Berikut rangkumannya.

Baca juga:
Presiden Jokowi ungkap alasan pilih Komjen Tito jadi calon Kapolri
Lobi Komjen Tito ke Jenderal Badrodin agar tak dijadikan Kapolri
Ibas berharap Komjen Tito bisa membawa kepolisian lebih berwibawa
Badrodin tegaskan penunjukan Tito tak rusak internal Polri
Tito Karnavian jadi calon Kapolri, ini reaksi Wakapolda Metro Jaya

Kita tetap solid

Presiden Joko Widodo telah menyerahkan nama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Tito Karnavian sebagai calon Kapolri tunggal menggantikan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun.

Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Pol Dwi Priyatno menyambut baik keputusan Jokowi. Dwi menilai Tito adalah sosok yang tepat memimpin korps Bhayangkara.

"Beliau sangat bagus, profesional dan tepat jadi Kapolri," kata Dwi saat dihubungi wartawan, Jakarta, Kamis (16/6).

Jika nantinya Tito lolos dan dinobatkan menjadi Kapolri, Dwi yakin tak ada kisruh dan gonjang-ganjing meski Tito melompati senior-seniornya. "Kita tetap solid," tandas dia.

Kalau dipilih presiden pasti menerima

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Tito Karnavian dipilih Presiden Joko Widodo sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang memasuki masa pensiun pada bulan Juli 2016.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyatakan, Tito Karnavian pantas dipilih sebagai calon penggantinya. Meski tergolong paling muda di antara jenderal bintang 3 lain di lingkungan Mabes Polri, Tito punya keunggulan dan kemampuannya tak diragukan lagi.

Badrodin menyatakan seluruh petinggi di institusi korps Bhayangkara mengakui keunggulan Tito dan tak meski Tito terbilang muda.

"Ya kalau dipilih presiden ya pasti menerima. Tidak ada masalah. Kita semua di Mabes Polri itu mengakui keunggulan Pak Tito. Cuma dia kan masih junior, tapi kalau dari segi kemampuan mengakui semua," kata Badrodin usai mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (15/6).

Badrodin menjamin tak akan ada kegaduhan di internal korps Bhayangkara karena jenderal bintang tiga yang lebih senior 'dilangkahi' oleh juniornya. Dia menegaskan, calon orang nomor satu di Polri tidak diukur berdasar angkatan ataupun umur.

"Sekarang sudah zamannya siapa yang punya kemampuan dia bisa memimpin," tegasnya.

Tidak ada junior-senior

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso mendukung penuh Komjen Tito Karnavian jadi calon tunggal Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti. Tito ditunjuk Presiden Jokowi sebagai calon tunggal Kapolri melangkahi lima angkatan di atasnya.

Namun Budi Waseso menilai penunjukan Tito merupakan hal wajar. Sebab menurut dia, dalam Polri tidak mengenal angkatan alias junior maupun senior.

"Oh tidak masalah junior dan senior, kalau saya tidak ada masalah. Dan itu yang terbaik. Iya dong tidak ada masalah. Itu terbaik untuk Polri ke depan. Dalam hal ini tidak ada senior junior," kata Budi Waseso di BNN, Rabu (15/6).

Mantan Kabareskrim ini menegaskan siapapun dicalonkan menjadi Kapolri, tidak memandang predikat senior dan junior dalam kesatuan pimpinan. "Saya ingatkan pimpinan kesatuan tidak ada berkaitan dengan senior junior. Artinya kemampuan seseorang," ucapnya.

Percepatan renegerasi tidak apa

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso menilai sosok calon tunggal Kapolri Komjen Tito Karnavian merupakan pribadi yang memiliki riwayat hidup yang baik, sehingga Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak salah menempatkan dirinya sebagai pimpinan di Korps Bhayangkara.

"Beliau (Tito) adalah satu putera terbaik di Polri, sangat layak memimpin instansi Polri ke depan. Kita hormati presiden sudah menentukan pilihannya," ujarnya di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (16/6).

Dirinya juga menampik bahwa di level kepolisian terdapat senioritas, menurutnya di bawah kepemimpinan Tito kinerja di kepolisian lebih baik ke depannya.

"Mudah-mudahan dengan dukungan termasuk senior-senior, Pak Tito dapat melaksanakan tugas yang tentunya berat tapi manakala dikerjakan bersama-sama dengan visi misi yang satu, saya kira bisa bisa lebih baik kepolisian kita," ungkapnya.

"Regenerasi tidak ada urusan panjang dan pendek di mana itu membutuhkan percepatan regenerasi. Tidak apa. Yang penting tujuannya untuk kebaikan orang itu sendiri termasuk bangsa ini dalam penegakan hukum," ujarnya.

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.