Jasa Marga: Terminal bayangan Jatibening picu kejahatan
Setiap harinya ada sekitar 25 bus yang menaikkan dan menurunkan penumpang di terminal bayangan Jatibening.
Jasa Marga meminta pengertian masyarakat soal langkah-langkah pihaknya melakukan penutupan Terminal bayangan Jatibening. Menurut Direktur Operasi Jasa Marga, Hasanudin, keberadaan terminal itu sudah jelas melanggar aturan.
"Kami mohon dukungan semua pihak khususnya mereka yang berunjuk rasa tadi pagi agar Jatibening tidak jadi terminal bayangan," ujarnya saat ditemui wartawan, Kamis (27/7)
Selain melanggar regulasi, menurut Hasanuddin, keberadaan terminal bayangan ini dianggap meresahkan masyarakat khususnya pengguna jasa Tol. Terminal bayangan juga mengundang tindak kejahatan di sekitar lokasi tersebut.
"Terminal bayangan ini mengundang tindak kriminalitas dan juga bisa mengancam keselamatan ratusan ribu pengguna jalan tol Jakarta-Cikampek, kalau sering terjadi kecelakaan, tentunya ini menjadi tanggung jawab kami, " katanya.
Berdasarkan data yang dimiliki oleh Jasa Marga, pada puncak jam sibuk yaitu dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB per hari, sedikitnya ada 25 bus angkutan umum yang melintas di tol dan sebagian besar bus-bus itu melakukan aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang.
"Hal seperti ini nanti akan coba kita bicarakan sama mereka," pungkasnya.
Sebelumnya, warga melakukan aksi protes atas upaya Jasa Marga menutup gerbang Tol Pondok Gede Timur di Jatibening. Persoalan ini sudah terjadi cukup lama. Berkali-kali Jasa Marga mencoba menutup akses jalan tersebut. Alasannya, situasi di jalan tol tersebut tidak terkendali dengan kendaraan yang menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan tol.(mdk/ian)