LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Istana bantah kunjungan Jokowi ke Papua tak beri manfaat

Istana bantah kunjungan Jokowi ke Papua tak beri manfaat. Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi Sapto Prabowo, mengatakan penyataan Natalius Pigai tersebut dianggap sebagai masukan dan kritikan kepada pemerintah. Terkait kunjungan Jokowi, Johan menegaskan hal itu memberi manfaat yang besar bagi warga Papua.

2016-10-18 12:01:47
Presiden Jokowi
Advertisement

Kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Papua pada 17-18 Oktober 2016 menuai kontroversi. Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, menilai kunjungan Jokowi ke provinsi paling Timur Indonesia tersebut tidak bermanfaat.

Juru Bicara Kepresidenan Johan Budi Sapto Prabowo, mengatakan penyataan Natalius Pigai tersebut dianggap sebagai masukan dan kritikan kepada pemerintah. Terkait kunjungan Jokowi, Johan menegaskan hal itu memberi manfaat yang besar bagi warga Papua.

"Tentu tidak benar jika dikatakan kunjungan Presiden ke Papua tidak ada manfaatnya bagi rakyat Papua. Ada kemajuan yang signifikan yang sudah dilakukan pemerintahan Jokowi-JK kepada masyarakat Papua," ujar Johan melalui pesan singkat kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (18/10).

Misalnya, kata Johan, adanya pembangunan infrastruktur, kemudahan jalur transportasi, dan penurunan harga kebutuhan pokok di Papua yang sangat signifikan.

"Kehadiran Presiden ini juga sebagai bentuk kepedulian Presiden Jokowi kepada rakyat Papua," kata Johan.

Diberitakan sebelumnya, Natalius mengatakan kunjungan Jokowi ke Papua sama sekali tak memberi manfaat bagi warga di Timur Indonesia itu. Justru, Natalius menilai, Jokowi menjadi sumber masalah di Papua karena dianggap tidak memiliki kompetensi sosial untuk membangun kepercayaan, juga kompetensi manajemen pertahanan dan keamanan. Selain itu, adanya kesan permusuhan dengan pemimpin daerah juga memberi kontribusi dalam disharmoni Jakarta dan Papua.

"Adanya fakta peristiwa di mana pelanggaran HAM terhadap kurang lebih 5.000 orang Papua yang ditangkap, dianiaya, disiksa dan dibunuh hanya dalam 2 tahun masa periode beliau, menunjukkan bukti bahwa menciptakan tanah Papua damai dengan penyelesaian pelanggaran HAM hanya menjadi pelayanan bibir atau kata-kata," ungkap Natalius.

Demikian pula ekskalasi berbagai soal juga meningkat di masa pemerintahan Jokowi khususnya terhadap riak-riak dunia internasional terhadap kondisi HAM di Papua bukti nyata ketidakmampuan Jokowi.

"Kita juga menyaksikan program yang didengungkan oleh Presiden untuk bangun pasar mama-mama sampai sekarang tidak pernah ada yang tuntas, bahkan pimpinan Solpap Rojit meninggal secara misterius di Papua," terang dia.

Kalau kunjungan kerja Presiden tersebut tidak substansial, lanjut dia, maka pribadi sebagai putra Papua dan pembela hak asasi manusia, dengan tegas dirinya menolak Jokowi kembali kunjungi Papua untuk tiga tahun mendatang.

"Karena kehadirannya lebih banyak mudarat dari pada manfaatnya," tutur Pigai.

Salah satu problem atas kehadiran Presiden di Papua juga diduga lebih banyak menghabiskan APBD Papua yang mencapai miliaran rupiah. Jika makin banyak Presiden kunjungi, kata dia, makin banyak APBD Papua yang terkuras. Lanjut dia, Kita lebih banyak kritik orang Papua menghabiskan uang otonomi khusus, padahal justru dana Otsus tersebut juga diduga tersedot ke kegiatan kunjungan semacam ini.

Berbeda dengan kunjungan Presiden Gus Dur, tambah Pigai, sekali melakukan kunjungan ke Papua terjadi perubahan secara signifikan dalam berbagai dimensi pembangunan. Salah satu kegagalan Presiden Jokowi untuk memberi manfaat dalam Kunjungan kerja ke Papua juga disebabkan karena Presiden tidak pernah memiliki grand design, dan time frame soal penyelesaian masalah Papua secara komprehensif sehingga berjalan tanpa arah, terkesan amburadul dan tidak terkontrol.

"Saya kira pada masa yang akan datang rakyat harus mencari figur Presiden yang tepat untuk menyelesaikan persoalan bangsa yang kian rumit ini," pungkas dia.(mdk/hhw)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.