Inspektur Jendral, sindiran korupsi Rusia dibawa ke Indonesia
Semua tatanan pemerintah korup, termasuk polisi.
Budaya korupsi yang sistemik tentu tidak asing di telinga kita. Korupsi yang dilakukan raja kecil di daerah, politisi, pejabat negara hingga kecurangan-kecurangan yang dilakukan 'pedagang kakap', akrab menghiasi kehidupan rakyat Indonesia. Ketenangan orang-orang yang tamak tersebut akan menjadi ingar bingar jika seseorang yang dipercaya "pemerintah pusat" datang untuk menginspeksi. Jika memang dari jajaran atas korup, solusi untuk "memoles" kondisi kotanya yang miskin dan berantakan akibat pemerintahan yang tidak becus tentu gampang, suap saja si inspektur.
Potret itu dihadirkan Teater Koma melalui produksi ke-142 yang bertajuk "Inspektur Jendral (Kalau Penguasa Kacau/KPK)". Pertunjukan yang didukung djarum Apresiasi Budaya ini menyadur naskah teater klasik Rusia berjudul Revizor (The Inspector General) karya Nikolai Gogol.
Naskah teater komedi satir Nikolai yang diterbitkan tahun 1836 ini ternyata mempunyai banyak kemiripan dengan "budaya" pemerintah korup di Indonesia yang hingga kini masih terjadi, yaitu cara pemerintah daerah untuk membujuk inspektur dari pemerintah pusat agar menilai positif kinerja mereka yang sebenarnya buruk akibat korupsi.
"Secara garis besar ceritanya tidak akan jauh berbeda, hanya tokoh-tokohnya akan dibawakan menjadi wayang sehingga masih menggambarkan kondisi Indonesia. Semoga penonton dapat mengambil makna yang kaya akan pesan moral tersirat yang berusaha kami sampaikan dalam lakon ini," ujar Nano Riantiarno, sutradara pementasan Inspektur Jendral seperti yang dikutip dalam siaran persnya.
Melokalkan karya Nikolai, N Riantiarno mengganti latar tempat menjadi negara dalam cerita pewayangan yakni Astinapura. Desas desus akan terjadi peperangan antara negeri Astina dan Amarta membuat ibu kota Astinapura mengirimkan seorang Inspektur Jendral untuk menyelidiki kota kecil yang dipimpin oleh wali kota Ananta Bura (Budi Ros). Namun, tidak ada seorangpun yang tahu kapan inspektur itu datang dan apa yang akan diselidikinya.
Kekhawatiran menyerang Ananta Bura dan pejabat-pejabatnya. Sebab semua tatanan korup, termasuk sang polisi. Jika tingkah mereka terkuak oleh sang inspektur jendral, maka tamatlah riwayat mereka menjadi raja-raja kecil di daerah tersebut. Maka pejabat setempat dikumpulkan agar masing-masing dinas segera "memperbaiki" fasilitas-fasilitas yang buruk akibat korupsi.
Desas-desus tersebut rupanya bersamaan dengan datangnya seorang pemuda bernama Anta Hinimba (Rangga Riantiarno) yang tengah tinggal di sebuah penginapan. Kabar tersebut sampai ke telinga sang Walikota sehingga menimbulkan persepsi bahwa Anta Hinimba adalah inspektur yang dikirim dari ibu kota.
Beragam upaya dilakukan untuk membujuk Anta, termasuk disuap. Di dalam cerita teater Nikolai, Anta atau dalam versi Nikolai bernama Khlestakov, itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengeruk uang pejabat setempat, termasuk merayu anak sang Walikota. Namun apakah benar dia sang inspektur jendral yang diutus ibu kota?
Pengalaman Teater Koma dalam seni panggung sudah tidak diragukan lagi untuk membawakan karya adaptasi Nikolai Gogol ke panggung Indonesia. Kostum karya Rima Ananda Omar dan tata rias Sena Sukarya lengkap membalut perwatakan panggung yang juga diperkaya oleh tarian kreasi Ratna Ully. Kelakar-kelakar yang muncul di sana sini membuat pertunjukan lebih rileks.
Namun, pentas yang diadakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) ini terasa berbeda bila dibandingkan pementasan di Graha Bhakti Budaya di Taman Ismail Marzuki. Gedung GKJ memang cocok untuk akustik pentas musik menjadikan suara panggung tak kalah keras dengan suara di kursi penonton.
Pemilihan setting yang dipadankan dengan kapasitas panggung GKJ yang lebih kecil dari Graha Bhakti Budaya sudah tepat. Namun terdapat beberapa ornamen yang tidak lekas disingkirkan dan terasa mengganggu di salah satu adegan.
Setidaknya, pentas Teater Koma yang digelar dari 6 hingga 15 November pukul 19:30 untuk hari Selasa hingga Sabtu dan Minggu mulai pukul 13:30 ini layak ditonton untuk mengusir kepenatan rutinitas kantor dan kesumpekan macetnya ibu kota. Tiket dibanderol dari Rp 75.000 hingga Rp 350.000 ini juga tidak menguras isi kantong untuk sekadar menghiasi otak kanan kita dengan karya-karya seni.
(mdk/noe)