Ini cara ampuh jika mata terkena semburan bisa kobra
Ada cara medis tradisional dan modern. Dua-duanya ampuh atasi bisa kobra.
Selain gigitan berbisa, ular jenis naja sputatrix atau kobra melindungi diri dengan semburan bisa beracun. Secara naluriah, arah semburan menuju ke mata korbannya. Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat secara medis, efek yang ditimbulkan sangat fatal bahkan berakibat kebutaan secara permanen.
Rudy Rahardian dari Sioux Ular Indonesia berbagi pengalaman, cara mengatasi semburan seekor ular kobra. Semburan itu diterimanya di sekitar mata, saat berusaha menjinakkan kobra yang ditemukan warga.
"Rasanya seperti ditonjok, mata panas dan sulit dibuka," kata Rudy Rahardian saat presentasi di Desa Waspada Gigitan Ular di Universitas Brawijaya Malang, Minggu (30/8).
Saat terkena semburan, yang harus dilakukan oleh korban atau orang di sekitarnya, menyiramkan air sebanyak-banyaknya di mata dan wajah. Bekas semburan dibilas dengan air, agar racun bisanya terdorong oleh air.
"Mata dibasuh beberapa kali dengan air mengalir, bahkan seluruh kepala dibenamkan ke air berulang-ulang," katanya.
Sementara Dr Ruth Sabrina bt Safferi asal Malaysia mengungkapkan, selain dibasuh dengan air juga bisa dilakukan penyedotan dengan menggunakan alat berbentuk lensa. Alat tersebut dipasangkan di retina mata, berfungsi untuk pembasahan dan menyedotan.
"Morgan lens banyak digunakan di rumah sakit di Malaysia, tapi penyiraman air besih juga cukup," katanya.
Tri Maharani, dokter spesialis emergency yang juga dokter IGD RSUD Bondowoso mengungkapkan, membasuh bekas semburan dianggap cara yang efektif. Pembasuhan bisa menggunakan cairan infus atau air biasa.
"Bisa disiramkan 3 sampai 6 liter air. Disiramkan secara terus menerus," katanya.
Dokter selanjutnya akan melakukan pemeriksaan secara fisik di bagian mata. Akan dilakukan pemantauan, kemungkinan adanya iritasi atau pembengkakan.
Tentang alat lensa morgan yang biasa digunakan di Malaysia, Tri menyebut sangat efektif juga. Tetapi selama dua tahun menangani kasus gigitan ular berbisa, alat itu tidak pernah ditemukan di Indonesia.
"Kita tidak punya alat itu, cukup mahal sekitar Rp 2,5 juta per unit," katanya.(mdk/cob)