Indonesia langganan hibah pesawat militer bekas
Baru saja pemerintah Indonesia menerima hibah empat pesawat Hercules C-130 H dari Australia.
Agaknya Indonesia sudah menjadi negara langganan penerima pesawat bekas dari negara lain. Baru saja pemerintah Indonesia menerima hibah empat pesawat Hercules C-130 H, dari Australia, Selasa (2/7) kemarin. Penyerahan ini dilakukan di Darwin oleh Panglima Angkatan Bersenjata Australia David Hurley. Acara ini juga disaksikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan juga mitranya Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith.
Walau namanya hibah, tetap ada saja dana yang harus dikeluarkan pemerintah Indonesia. Untuk empat pesawat tersebut dibutuhkan dana perbaikan, pengecatan dan suku cadang sebesar 50 juta dolar Australia atau sekitar Rp 483 miliar. TNI AU memang membutuhkan pesawat angkut berat sekelas Hercules untuk melaksanakan misi-misi tempur maupun nontempur seperti penanganan bencana alam.
"Hibah ini menunjukkan semakin dewasanya hubungan Indonesia Australia dan lebih memperkuat hubungan kedua negara. Pesawat Hercules ini sangat dibutuhkan, terutama untuk operasi-operasi militer bukan perang seperti penanganan bencana," ujar Purnomo.
Hibah empat pesawat Hercules C-130 H ini mendapat komentar miring dari DPR. Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin menilai lebih baik pemerintah membeli pesawat baru saja. Apalagi pemerintah Australia sebenarnya menawarkan enam buah pesawat Hercules baru seharga USD 90 juta atau Rp 850 miliar. Menurutnya buat apa membeli bekas, kalau harga baru pun sebenarnya tak jauh beda.
Sebelum hibah empat Hercules ini, tentu publik masih ingat rencana hibah 24 pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Untuk mengup-grade F-16 dari Blok 25 ke Blok 52, dibutuhkan biaya sekitar USD 670 juta atau Rp 5,6 triliun. Hal ini pun menuai polemik sebelum akhirnya DPR setuju.
Hibah pesawat tempur bekas bukan hal baru. Tahun 1971, Australia juga menghibahkan satu skadron atau sekitar 18 pesawat F-86 Avon Sabre. Hibah pesawat tempur itu untuk menandakan pulihnya kembali kerja sama militer RI dan Australia yang sempat tegang pasca Operasi Trikora tahun 1960an.
Setelah itu Indonesia mendapatkan 16 buah pesawat latih T-33 T-Bird tahun 1973 dari AS. Karena kekurangan pesawat tempur, TNI AU kemudian mempersenjatai pesawat T-33 itu. Kemudian pesawat tersebut digunakan dalam konflik Timor Timur sejak tahun 1978.
Jauh ke belakang, TNI AU juga memulai kekuatannya dari hibah. Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Republik Indonesia, TNI juga memperoleh seluruh aset Militaire Luchtvaart (ML) atau Angkatan Udara Kerajaan Belanda, yang berada di wilayah Indonesia. Hal itu merupakan kesepakatan Konferensi Meja Bundar tanggal 23 Agustus 1949.
Ada 173 pesawat milik Belanda yang diserahterimakan. Pesawat tersebut adalah Pipper Cub/L-4J, C-47 Dakota, B-25 Mitchell, P-51 Mustang, Auster, AT-6 Harvard, PBY Catalina, BT-13 Valiant, Gruman Goose G-21A, serta Lockheed 12.
Yang harus diperhatikan, bagaimana agar pesawat hibah ini layak terbang. Rasanya sudah cukup Bangsa ini berduka karena kehilangan pilot-pilot terbaiknya akibat pesawat tua.(mdk/has)