Ichsanuddin Noorsy dan Sri Bintang anggota grup WA Peduli Negara
Ichsanuddin Noorsy dan Sri Bintang anggota grup WA Peduli Bangsa. Ichsanuddin dicecar 32 pertanyaan seputar Sri Bintang. Dirinya mengaku nyaris tak pernah satu forum dengan Sri.
Ichsanuddin Noorsy mengaku penyidik menanyakan seputar Sri Bintang Pamungkas. Dalam pemeriksaan itu, dirinya mengatakan materi pemeriksaan kurang lebih mirip ketika dirinya diperiksa sebagai saksi untuk tersangka makar yang lain, Rachmawati Soekarnoputeri pada Selasa (10/1) lalu. Dia dicecar 32 pertanyaan.
"Kalau yang 10 Januari itu kan diperiksa terkait Rachmawati Soekarnoputri sebagai tersangka dan kawan-kawan disebutnya. Nah kalau hari ini pemeriksaan menyangkut Sri Bintang Pamungkas saja, ada 32 pertanyaan dan 14 halaman laporan," kata Ichsanuddin usai pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Rabu (18/1).
"Substansi sih sama, karena pengulangan. Tapi lebih ditekankan ke Sri Bintang Pamungkas. Bagaimana apa pernah satu forum? Bagaimana pendapat saya mengenai kajian beliau? Itu misalnya," sambungnya.
Dalam hal ini, dirinya mengatakan memiliki grup WhatsApp (WA) dengan Sri Bintang. "Saya sebetulnya nyaris tidak pernah satu forum dengan Sri Bintang. Sementara perbedaan kajian dengan Sri Bintang, saya punya kajian akademik, dan saya tidak pernah melihat kajian akademik dari Bintang. Itu perbedaan mendasar saya. Kalau kenal dekat sih enggak, tapi saya satu grup WA dengan mereka di grup Peduli Negara," katanya.
Dia juga mengaku pernah ikut menjadi pembicara di Universitas Bung Karno, Jakarta tanggal 20 November 2016, yang membahas aksi demonstrasi 4 November dan perkembangan ekonomi global.
"Yang paling menarik itu justru pada kajian di UBK pada 20 November. Nah di kajian 20 November itu, kan fokusnya memang ke posisi 2 kan, posisi tentang penistaan agama dan perkembangan ekonomi global. Nah pada penistaan agama itu saya melampirkan berkas yang memuat mengenai tujuh media asing yang menceritakan demo 4-11, nah mereka mengkonstruksikan demo 4-11 itu demo Islam vs Kristen, saya tegas saja ya terbuka. Dan itu juga yang saya sampaikan di UBK," kata dia.
Dia menilai dinamika yang terjadi saat ini juga pernah terjadi pada 2002 lalu dan juga menjadi kajiannya.
"Saya bilang tadi ini bukan peristiwa baru, peristiwa ini menjadi kajian saya sejak 2002. Ketika kita mulai salah langkah dalam pemulihan ekonomi. Dan menjadi puncak ketika kita membenarkan azas non diskriminatif pada kebijakan ekonomi. Sehingga yang muncul adalah ketimpangan ekonomi, sosial, regional, intelektual, dan infrastruktur. Yang pada pemerintah sekarang menyebutnya 'Sentralisasi Jawa', kalau orang baru ngerasain sekarang saya sudah ingatkan sejak 2002. Dampaknya terasa secara vertikal dan horizontal. Dampak ini sudah saya sampaikan di berbagai tempat. Bagaimana strategi pembangunan kita sebenarnya sehingga kita melahirkan sebuah masyarakat yang memang bisa mengatasi masalah perekonomian? Saya lihat mereka membicarakan akibat, bukan sebab. Saya melihat kesalahan dalam struktur amandemen. Itulah mengapa pentingnya kita kembali ke ekonomi konstitusi," bebernya.
Baca juga:
Polisi kembali periksa Ichsanuddin Noorsy terkait kasus makar
Kasus dugaan makar, polisi periksa Rachmawati di rumah
Kejati DKI kembalikan berkas kasus makar Sri Bintang ke Polda Metro
Tito soal kasus makar Rachmawati dkk: Hukum tak boleh diintervensi
Polda Metro soal tudingan Rachma: Ada model laporan polisi model A
Saat Kapolda Metro tersengat ucapan Fadli Zon soal kasus makar