Hilang dihempas tsunami, 10 tahun Arif jadi gelandangan di Medan
Arif hilang saat masih berusia 6,5 tahun dan adiknya 4,5 tahun karena dihempas gelombang tsunami yang menerjang Aceh.
Septi Rangkuti (52) dan istrinya Jamaliah (42) saat ini sedang bahagia bukan kepalang. Dua buah hatinya yang terpisah selama 10 tahun akibat dihantam tsunami kita telah kembali di tengah-tengah keluarga mereka. Sebelumnya pada Selasa (6/8) keluarga Rangkuti menemukan anak perempuannya Raudhatul Janah alias Weniati (14) tidak lama berselang terdengar kabar anaknya Arif Pratama juga masih hidup dan kebenaran itu dipastikan setelah mendatangi tempat yang disampaikan. Keluarga Septi Rangkuti (52) dan Jamaliah (42) awalnya tinggal di Lr Kangkong Desa Pangong, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Namun setelah tsunami memporak-porandakan Aceh, mereka lalu pindah ke Kabupaten Padang Luwas, Sumut. Setelah hidup menggelandang di Medan, kehidupan yang dilakoni Arif ternyata sangat keras. karena jadi gelandangan, Aridf kerap diperlakukan semena-mena oleh warga lainnya. Septi Rangkuti (52) dan istrinya Jamaliah (42) tidak mengira jika dua anaknya, Arif Pratama dan Raudhan Jannah sudah meninggal dunia karena terhempas gelombang tsunami. Mereka pun sudah pasrah bahwa dua buah hatinya itu menjadi korban bencana dahsyat itu.
Sebelumnya, anak perempuan mereka yang bernama Raudhatul Janah alias Weniati (14) telah ditemukan pada Selasa (6/8) setelah hilang selama 10 tahun akibat dihantam tsunami Aceh. Saat hilang Raudhatul baru berusia 4,5 tahun. Kini giliran anak laki-lakinya Arif Pratama Rangkuti (17) yang ditemukan.
Arif sendiri hilang saat masih berusia 6,5 tahun. Kedua kakak beradik itu terlepas dari tangan ayahnya sesaat setelah diletakan di atas papan, ketika itu seluruh masyarakat di wilayah pesisir Aceh menyelamatkan diri dari kejaran gelombang tsunami.
Lalu bagaimana kisah ditemukannya Arif setelah 10 tahun terpisah dari ayah dan ibunya? Berikut kisahnya:Arif dan adiknya hanyut dihantam tsunami
Pada saat terpisah Arif Pratama masih berusia sekitar (6,5) sementara Raudhan (4,5), keduanya terlepas dari tangan ayahnya sesaat setelah diletakan di atas papan, ketika itu seluruh masyarakat di wilayah pesisir Aceh menyelamatkan diri dari kejaran gelombang tsunami.
Kedua bocah itu hanyut dan ditemukan nelayan di Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, Weni diasuh oleh ibu angkatnya di Aceh Barat Daya (Abdya) sementara Arif dibawa orang ke Medan.
"Alhamdulillah ternyata mimpi suami saya melihat anaknya ternyata kenyataan, meski kondisinya sudah jauh berubah, tapi dari ciri-ciri bukan hanya kami yang yakin, tetanggapun merasa kenal dengan wajah anak kami," katanya menambahkan.Terpisah dari orangtua karena tsunami, Arif jadi gelandangan
Arif Pratama ditemukan oleh kedua orang tuanya di Pasar Payakumbuh, Sumatera Barat pada Selasa (18/8). Selama ini Arif dipanggil dengan sebutan Ucok, hidup gelandangan di pasar kota karena tidak memiliki tempat tinggal.
"Tahun 2007 dia masuk ke Payakumbuh, sebelumnya sempat tinggal di Medan, Sumatera Utara," cerita Jamaliah (42) ibu kandungnya.Jadi gelandangan muka Arif disiram air panas
Bahkan salah satu satu yang paling dia ingat adalah ketika disiram air panas oleh warga. Kisah itu pun dia ceritakan kepada ibunya Jamaliah (42). Sang ibu pun menangis tersedu mendengar pengakuan anaknya yang sudah beranjak dewasa itu.
"Di Medan, Sumatera Utara, di sana kehidupannya sangat sadis, sampai-sampai disiram mukanya dengan air panas dan masih berbekas, masyaallah," cerita Jamaliah (42) ibu kandungnya.Bertemu 2 anak setelah hilang 10 bak mimpi
Namun takdir berkehendak lain, kedua anaknya ternyata masih hidup dan akhirnya bisa bertemu meski setelah 10 tahun berpisah. Anak-anak yang dulu saat hilang masih keecil kini sudah jadi remaja saat bertemu kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah ternyata mimpi suami saya melihat anaknya ternyata kenyataan, meski kondisinya sudah jauh berubah, tapi dari ciri-ciri bukan hanya kami yang yakin, tetanggapun merasa kenal dengan wajah anak kami," kata Jamaliah