LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Hikayat dangdut, dari India hingga Inul Daratista

Tidak bisa dipastikan kapan musik dangdut mulai dikenal di Tanah Air. Tapi setidaknya, tahun 1940-an mulai bermunculan.

2012-04-23 07:19:00
Musik Dangdut
Advertisement

Perjalanan musik dangdut memiliki sejarah panjang, dari awalnya musik melayu hingga disebutlah dengan istilah dangdut. Tarik menarik popularitas antara biduan Indonesia dan Malaysia juga sempat terjadi, meski akhirnya musisi dangdut Tanah Air tampil mendominasi.

Tidak bisa dipastikan kapan musik dangdut mulai dikenal di Tanah Air. Tapi setidaknya, tahun 1940-an mulai bermunculan aliran-aliran musik yang nantinya menjadi cikal bakal musik dangdut.

Adalah Munif Bahasuan yang dianggap sebagai pelopor musik dan maestro dangdut Tanah Air. Munif Bahasuan, pencipta lagu-lagu melayu yang juga seorang penggiat Orkes Melayu Kelana Ria ini tak salah jika disebut sebagai maestro dangdut Tanah Air lantaran karya-karyanya yang luar biasa.

Lagu ciptaannya, 'Kudaku Lari' yang dipopulerkan A Haris pada tahun 1953 silam, dianggap oleh Munif Bahasuan sebagai salah satu pelopor irama yang kelak bakal menjadi lagu dangdut. Kenapa demikian? Lagu tersebut telah berani memasukkan gendang, atau dalam bahasa India disebut tabla, pada orkes yang semula hanya menggunakan gitar, bas, mandolin, dan harmonium.

Selain A Harris, muncul lagi nama-nama penyanyi dangdut pada era tahun 50-an, seperti Emma Gangga, Hasnah Thahar, dan Juhana Satar. Namun pada tahun 50-an itu, musik dangdut kalah pamor dengan musik negeri Jiran Malaysia.

Adalah P Ramlee, legenda musik melayu Malaysia keturunan Indonesia ini berhasil memindahkan kiblat musik melayu ke Malaysia. Lagu-lagu yang sampai sekarang masih masyhur, seperti 'Engkau Laksana Bulan', Azizah, membuat P Ramlee berjaya dan tak tersaingi. Musik melayu Tanah Air pun mati suri kala itu.

Akan tetapi, pada tahun 1960-an, kondisi berbalik. Musisi melayu Tanah Air Said Effendi mampu membuat masyarakat Indonesia kembali mencintai hasil karya anak negeri. Melalui lagu-lagu populer yang diciptakannya sendiri, Timang-timang, Fatwa Pujangga, seperti Bahtera Laju, serta lagu karya orang lain, seperti Semalam di Malaysia (Syaiful Bahri) dan 'Di ambang Sore' (Ismail Marzuki), menjadikan P Ramlee tak lagi dipuji. Said Effendi menjadi kian bersinar saat dia menyanyikan lagu Seroja karya Husein Bawafie. Sukses dengan Seroja, Said dilirik oleh sutradara Nawi Ismail untuk main dalam film garapannya dengan judul sama. Sutradara terkenal Asrul Sani pun menggaet Said Effendi di film Titian Serambut Dibelah Tujuh.

Pada era 1970-an, dangdut kian melejit. Pada tahun inilah para musisi dangdut bermunculan, seperti A. Rafiq, Rhoma Irama, Reynold Panggabean, Herlina Effendi, Elvy Sukaesih, Mansyur S, Mukhsin Alatas, Ida Laila dan Camelia Malik. Musik dangdut pun makin dicintai di negeri sendiri.

Nah, pada tahun 1980-an, dangdut bersinergi dengan musik pop, rock dan disko. Dangdut juga mulai bersinergi dengan musik-musik tradisional seperti gamelan, jaranan, jaipongan dan musik tradisional lainnya.

Sementara tahun 90-an, dangdut semakin 'mesra' dengan musik-musik tradisional. Maka, akhirnya muncullah dangdut campursari, dan dangdut-dangdut yang berkolaborasi dengan musik-musik tradisional lainnya.

Pada era 2000-an, orang mulai jenuh dengan dangdut orisinil. Para musisi di Pantura, Jawa Timur pun berkreasi dengan mengembangkan jenis musik dangdut baru yaitu dangdut koplo. Dangdut koplo ini merupakan metamorfosa dari dangdut campursari yang sudah dianggap usang.

Para pegiat dangdut orisinil, seperti si raja dangdut Rhoma Irama rupanya tak begitu suka dengan perkembangan lagu dangdut koplo yang luar biasa menarik simpati massa. Dangdut koplo dianggap terlalu menampilkan sensualitas sang penyanyi, dengan goyangan-goyangannya yang mengguncang birahi, daripada mengedepankan kualitas suara.

Kondisi ini diperparah dengan perseteruan antara Rhoma Irama dengan Inul Daratista, gadis asal Pasuruan, Jawa Timur yang tiba-tiba melejit lewat goyang ngebornya. Pada saat itu, musik dangdut seakan terbelah, antara yang pro dengan Inul dan pro terhadap sang raja dangdut. Hingga saat ini pun, konflik antara keduanya belum benar-benar selesai.(mdk/ian)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.