Hidupkan petrus, bersihkan kampung narkoba
"Ada petrus sebenarnya itu efektif untuk habisi bandar narkoba,"
Beberapa lokasi di Jakarta terlanjur identik dan dicap dengan sebutan kampung narkoba. Semisal kampung bahari di Jakarta Utara, kampung Berlan di Jakarta Timur, kampung Ambon di Jakarta Barat, atau Johar Baru di Jakarta Pusat. Massifnya peredaran narkoba di daerah itu pada akhirnya membentuk citra daerah tersebut sebagai sarang barang haram.
Berulang kali polisi melakukan razia, penggerebekan, untuk memburu bandar-bandar narkoba di daerah tersebut. Meski sudah banyak Bandar yang dijebloskan ke jeruji besi, tetap saja peredaran narkoba di wilayah itu tumbuh subur. Muncul pertanyaan, apa mustahil memberhangus kantong-kantong peredaran narkoba?
Kriminolog Universitas Indonesia Erlangga Masdiana menuturkan, bukan sebuah keniscayaan membabat habis peredaran narkoba di kampung-kampung tersebut. Asalkan masyarakat ikut berperan. Tapi yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Sehingga sarang narkoba tetap terjaga.
"Sekarang ini justru masyarakat atau warga yang takut. Takut melapor sehingga bandar bebas bergerak. Takut karena tidak ada jaminan perlindungan," ujar Erlangga saat berbincang denganmerdeka.com, kemarin.
Jakarta menjadi surga bagi para bandar. Alasannya, warga Jakarta cukup secara kemampuan financial untuk membeli barang haram. Para Bandar narkoba tidak hanya bergerilya di kampung-kampung kumuh. Perlu dicatat, sesungguhnya justru Bandar besar itu bersembunyi dan bergerak di perumahan mewah dan belum tersentuh.
"Yang di kampung-kampung itu yang kelihatan. Yang invisibel di perumahan elit. kalau bandar kecil mereka main di kampung, Bandar besar di perumahan elit," katanya.
Narkoba masuk ibu kota melalui banyak pintu dan beragam cara. Dia menyebutkan, ganja dipasok dari daerah Sumatera, sabu-sabu dan morfin dari negara tetangga, sedangkan inex kini diproduksi di Dalam negeri.
Erlangga menegaskan, untuk membersihkan kampung narkoba perlu dua pendekatan dan metode. Pertama, dengan eksternal kontrol. Maksudnya, penindakan tegas terhadap para Bandar. Penggeledahan dan razia tidak bisa hanya sewaktu-waktu, harus rutin, kalau perlu setiap saat.
Dia sependapat dengan ide Kepala Badan Narkotika Nasional Budi Waseso menghidupkan lagi petrus alias penembak misterius yang jadi momok di era kepemimpinan Presiden Soeharto.
"Ada petrus sebenarnya itu efektif untuk habisi bandar narkoba. Saya rasa perlu karena ini lebih berbahaya dari teroris, jadi penanganan harus khusus. Berantas kampung narkoba bukan mustahil. Karena ini kalau di zaman orde baru dianggap subversif, mengancam kelangsungan negara," tegasnya.
Jika ada indikasi beking dari aparat penegak hukum baik polisi atau tentara, itu tidak bisa dibiarkan. "kalau terbukti dibekingi, langsung tangkap dan beri hukuman seberat-beratnya. Kalau perlu dipermalukan," tambahnya.
Pendekatan kedua dengan internal control. Dalam hal ini mengajak masyarakat dan warga terlibat aktif Dalam Gerakan melawan narkoba. Tujuannya agar warga berani melaporkan peredaran narkoba di wilayahnya, penindakan diserahkan ke pihak berwajib. Pendekatan internal control juga dilakukan dengan pendidikan di sekolah dan penyuluhan di masyarakat.
Baca juga:
Kampung Bahari digerebek, Kepala BNN koordinasi ke Polres Jakut
Bandar narkoba di Kampung Bahari merengek minta tolong saat dibekuk
Polres Jakut gerebek pengguna narkoba di Kampung Bahari
Cari bandar narkoba, polisi pagi-pagi gerebek Kampung Bahari
Kantor Hukum dan HAM Jatim bantah ada peredaran narkoba di Lapas
Pemuda di Sukoharjo gelar aksi simpatik perangi bandar narkoba