Heboh pocong keliling setiap malam Bintara Bekasi jadi sepi
Banyak warga yang takut beraktivitas pada malam hari.
Isu pocong di Kampung Pengasinan, Kelurahan Bintara, Bekasi Barat, Kota Bekasi menyebar luas dalam hitungan hari. Cerita dari mulut ke mulut semakin membuat warga yang sebelumnya tidak tahu menjadi ketakutan.
Banyak warga yang takut beraktivitas pada malam hari. Bahkan terkadang pada malam harinya Kampung Pengasinan terlihat sepi tidak seperti biasanya. Seperti yang diceritakan oleh salah satu warga Bintara, Aldi. Pria yang berprofesi sebagai tukang ojek ini takut ngojek pada malam hari.
"Saya hanya ngojek sampai sore saja. Padahal biasanya ngojek sampai malam hari," kata Aldi kepada merdeka.com, Jumat (12/9).
Tidak hanya Aldi, seorang satpam SMP 14 di Bintara yang lokasinya di dekat makam Mbah Raden juga merinding mendengar cerita tentang pocong. Karena terkadang harus jaga malam, seorang sekuriti yang enggan disebutkan namanya itu sering was-was jika pada malam hari.
"Awalnya saya diceritakan oleh teman yang sedang main. Antara percaya dan enggak percaya sih," ujarnya.
Menurut penuturan sekuriti tersebut, anak-anak sekolah di SMP 14 juga sudah mendengar isu pocong. Ada yang takut dan ada yang menanggapinya biasa saja.
Isu pocong di Kampung Pengasinan, Kelurahan Bintara, Bekasi Barat, Kota Bekasi sudah berembus sejak pertengahan Agustus bulan lalu. Ceritanya bermula dari meninggalnya seorang pemuda warga setempat bernama Ipan Supriyatna.
Ipan meninggal pada 16 Agustus karena sakit. Ada dugaan pemuda yang berprofesi sebagai sopir angkot itu tewas karena over dosis.
Ipan meninggal sekitar pukul 16.00 WIB. Kemudian pihak keluarga langsung menguburkan pada hari itu juga. Karena menjelang petang, petugas penggali kubur di makam Mbah Raden, Yanto sempat menolak. Alasannya waktu tidak memungkinkan karena pihak keluarga datang sekitar pukul 17.30 WIB. Karena terus didesak, Yanto akhirnya menyanggupi untuk menggali.
"Saat dikubur, tali pocong di kaki tidak dibuka, malah dikencengin. Yang menguburkan adalah pihak keluarganya yaitu abangnya sendiri. Saya lupa namanya," jelas Yanto.
Tiga hari setelah pemakaman, abang almarhum malah sering kesurupan. Pihak keluarga kemudian memanggil orang pintar. "Ada yang salah katanya, arwah minta tali pocong dibuka," cerita Yanto.
Setelah berkali-kali kesurupan, 12 hari setelah pemakaman pihak keluarga baru meminta agar makam dibongkar. Namun permintaan keluarga ini ditolak Yanto. "Pasti jasad almarhum sudah bau karena sudah lama dikuburkan," jelasnya.
Karena tak bisa dibongkar kembali, orang pintar itu kemudian menyarankan agar pihak keluarga menaburkan kacang ijo di atas makam serta mengubur p
akaian almarhum di samping makam. Hal ini dilakukan agar arwah almarhum bisa tenang.
Cerita kesurupan dan tali pocong inilah yang kemudian menyebar di Kampung Pengasinan. "Sebenarnya enggak ada pocong. Warga hanya ketakutan saja. Setelah ditabur kacang ijo, abangnya tidak pernah kesurupan lagi," katanya.