Harimau Sumatera terjerat perangkap di hutan Bener Meriah
Harimau Sumatera terjerat perangkap di hutan Bener Meriah. Diperlukan perjalanan selama dua hari dari perkampungan terdekat untuk mencapai lokasi.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Dinas Kehutanan Aceh bekerja sama dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) berhasil menyelamatkan seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang terjerat jaring.
Harimau nahas ini ditemukan oleh petugas patroli di hutan Samarkilang, Kabupaten Bener Meriah, Jumat (21/10). Saat ditemukan, harimau terjerat perangkap yang sengaja dipasang pihak tertentu.
Mendapatkan informasi ada harimau terjerat, pihak BKSDA Aceh pun mengirim tim rescue yang terdiri dari ketiga lembaga tersebut serta dokter hewan dari Pusat Studi Satwa Liar Unsyiah.
"Kita kirim tim untuk memastikan harimau itu selamat dari pemburu," kata Kepala BKSDA Aceh, Genman S. Hasibuan di Banda Aceh, Senin (31/10).
Katanya, sambil menunggu kedatangan tim rescue, tim patroli terus mengawasi lokasi di sekitar harimau yang terjerat. Diperlukan perjalanan selama dua hari dari perkampungan terdekat untuk mencapai lokasi ini. Sebelum tim rescue tiba di lokasi, diperoleh kabar dari tim patroli bahwa harimau yang terjerat berhasil melepaskan diri.
"Kami memastikan satwa tersebut tidak berhasil dipanen oleh pelaku perburuan. Dijerat yang ditertinggal, masih ditemukan sisa-sisa bulu yang menempel," jelas Genman S. Hasibuan.
Dia mengatakan, harimau itu sengaja dijerat oleh pemburu yang memasang perangkap harimau di kawasan hutan lindung di Samarkilang. Dengan kondisi hutan sekunder dataran rendah yang cukup baik, di lokasi ini masih ditemukan populasi harimau dan mangsanya.
Tetapi ancaman yang tinggi dari kegiatan perburuan menyebabkan populasi tersebut turun drastis dalam beberapa waktu ini. Patroli pengamanan dan perlindungan satwa liar yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan Aceh, BKSDA Aceh bersama FKL di wilayah ini sudah mulai menunjukkan hasil walaupun belum sepenuhnya menekan perburuan.
"Pada bulan Oktober 2016 ini saja tim berhasil merusak 9 perangkap harimau," terangnya.
Sementara itu Direktur FKL, Dedyansyah, menyatakan bahwa Samarkilang menjadi target operasi timnya sejak dua tahun belakangan ini. Saat ini sudah terbentuk satu tim untuk melindungi wilayah tersebut. Tim yang dibentuk ini terdiri dari empat orang, dari masyarakat dan seorang staf Polisi Hutan (Polhut).
"Kami berencana menambah tim di wilayah ini agar memperkuat pengamanan wilayah tersebut selain melakukan edukasi ke sekolah-sekolah. Kami berharap, semua pihak dapat saling bersinergi untuk mencegah perburuan satwa liar dan kerusakan hutan di KEL serta meningkatan kesejahteraan masyarakat dari sumber selain eksploitasi hutan," ungkap Dedy.
Bentang alam Kawasan Ekosistem Leuser–Ulue Masen, jelasnya, merupakan habitat terpenting Harimau Sumatera di dunia yang ditetapkan sebagai lokasi pemulihan populasi Harimau Sumatera bersama tempat lain yaitu TN Kerinci Seblat, TN Bukit Tigapuluh, TN Bukit Barisan Selatan, Kampar-Kerumutan dan Bukit Balai Rejang Selatan.
"Diperkirakan paling sedikit 150 individu dari 400 individu harimau sumatera liar yang tersisa di dunia hidup di bentang alam ini," tutupnya.(mdk/cob)