Hari Anti Tambang, aktivis di Samarinda pajang 27 nisan kematian
Puluhan aktivis anti tambang dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur, Senin (29/5), memperingati Hari Anti Tambang, yang jatuh setiap tanggal 29 Mei. Mereka menjejer nisan kematian di depan kantor Gubernur Kaltim, di Jalan Gadjah Mada, Samarinda.
Puluhan aktivis anti tambang dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kalimantan Timur, Senin (29/5), memperingati Hari Anti Tambang, yang jatuh setiap tanggal 29 Mei. Mereka menjejer nisan kematian di depan kantor Gubernur Kaltim, di Jalan Gadjah Mada, Samarinda.
Mereka menjejer 27 nisan kematian itu bukan tanpa alasan. Sebab, lubang menganga bekas tambang batubara, telah menelan nyawa 27 warga Kalimantan Timur.
"Dampak buruk tambang, mulai dari penggusuran lahan pertanian, dan permukiman seperti yang terjadi di Desa Mulawarman dan Kertabuana di Kutai Kartanegara," kata Dinamisator Jatam Kaltim Pradarma Rupang, dalam keterangan dia, Senin (29/5).
"Juga lahan pertanian di Kelurahan Makroman dan Mugirejo di Samarinda. Belum lagi pencemaran lingkungan, krisis sosial dan ekonomi, hingga merusak sendi kehidupan masyarakat di sekitar tambang," ujar Rupang.
Jatam Kaltim melansir, sedikitnya Pemprov Kaltim telah 8 kali berjanji dalam ragam forum resmi, menuntaskan masalah tambang dengan mencabut 63 izin tambang batubara di Samarinda dan total 826 izin tambang bermasalah di Kaltim.
"Aksi hari ini adalah bentuk penolakan keras terhadap perampasan ruang hidup di Kaltim. Kami menagih janji Gubernur mengeksekusi seluruh tambang bermasalah di Kaltim, menuntaskan kasus korban meninggal di lubang tambang, dan menarik izin tambang di kawasan bentang alam karst Sangkulirang-Mangkalihat," terang Rupang.
Dalam aksi itu, Satpol PP Pemprov Kaltim sempat memindahkan nisan kematian yang disimbolkan aktivis dalam aksinya, meski nisan-nisan itu berada di atas trotoar, di luar pagar kantor Gubernur.
Tidak hanya itu, petugas Satpol juga menghalangi spanduk yang dibentangkan di luar kantor Gubernur, agar tidak terlihat pengguna jalan yang melintas. Spanduk itu bertuliskan "Tambang Merajalela, Negara Turut Serta Menghancurkan Ruang Hidup Rakyat". Dalam penjagaan ketat Polresta Samarinda, aksi bubar tertib setelah aktivis menyuarakan tuntutannya.
Baca juga:
Cerita Freeport pecat hampir 1.000 karyawan dan produksi anjlok
Indonesia bakal pasok 4 juta ton per tahun kebutuhan nikel dunia
Turunkan tingkat kematian, Freeport cetak kader kesehatan cilik
Bos besar Freeport diminta 'turun gunung' selesaikan masalah di RI