LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Gus Sholah: NU Terlalu Besar untuk Diwadahi PKB

Pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Solahuddin Wahid atau Gus Sholah menekankan, Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh hanya 'dikangkangi' oleh satu partai demi ambisi politik.

2019-02-20 23:36:00
PKB
Advertisement

Pengasuh Ponpes Tebuireng, Jombang, KH Solahuddin Wahid atau Gus Sholah menekankan, Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh hanya 'dikangkangi' oleh satu partai demi ambisi politik.

Terlebih di tahun politik seperti saat ini, partai-partai politik (Parpol) berbasis Islam, saling klaim sebagai partainya orang NU, demi mendapat dukungan suara dari Nahdliyin (sebutan warga NU).

Termasuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekalipun, kata Gus Sholah, yang kerap menyerukan agar warga NU memilih partai besutan Muhaimin Iskandar tersebut.

Advertisement

"NU terlalu besar untuk diwadahi PKB. Terlalu besar! Jadi dia (NU) perlu partai (lainya)," tegas Gus Sholah di acara Oase Bangsa bertema Muslim Peduli Pemilu yang digelar di Surabaya, Rabu (20/2).

Sebagai organisasi Islam terbesar di Tanah Air, tegas Gus Sholah, NU harus bisa menyalurkan kader-kadernya di berbagai Parpol. "Jadi di Demokrat banyak, di Golkar banyak, di PPP banyak, di PKB juga ada. Rasanya tidak ada masalah. Jadi memang tidak harus seperti itu (NU hanya diwadahi satu Parpol)."

Adik kandung almarhum Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ini juga menandaskan, jika ada seruan untuk memilih salah satu Parpol, itu tidak dibenarkan, karena bisa mengecilkan posisi NU di mata warganya.

Advertisement

Seperti kasus Pilgub Jawa Timur 2018 contohnya, Gus Sholah menyebut bahwa Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj sempat menyerukan agar warga NU memilih Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

"Dulu waktu pemilihan gubernur ya, (ada) video Pak Said itu, kemudian menyatakan warga NU harus memilih Saifullah Yusuf, nyatanya kan gak diikuti," ungkapnya.

Mayoritas warga NU kala itu, khususnya NU kultural, justru memilih Khofifah Indar Parawansa yang sekarang sudah resmi menjadi gubernur Jawa Timur, ketimbang mengikuti instruksi PBNU. "Ya iya, itu fakta," tegasnya.

Namun, NU tidak pernah belajar dari Pilgub Jawa Timur, dan kembali mengulang di Pemilu 2019 dengan menyerukan agar warga NU memilih KH Ma'ruf Amin, yang menjadi Cawapres dari calon petahana, Joko Widodo (Jokowi).

"NU tidak boleh berpolitik praktis. Kalau warga NU memilih Pak Ma'ruf Amin itu wajar-wajar saja gitu lho, tidak perlu harus dikatakan warga NU harus memilih Pak Ma'ruf Amin oleh struktur NU, itu yang tidak benar. (Termasuk memilih prabowo) ya silakan saja," tandas Gus Sholah.

Baca juga:
PKB Dukung Jokowi Tegakkan Hukum Terhadap Perusak Lingkungan
Berstatus PTT di Dinkes, Pasutri Caleg PKB di Tulungagung Akhirnya Mundur
Cak Imin Tegaskan PKB Tak Bakal Masuk Persaingan yang Pakai Agama
Cak Imin Sebut Jokowi Unggul 2 Persen dari Prabowo di Jabar
Cak Imin: Kalau Ada yang Menghina NU, Senyumin Saja
Cak Imin Klaim 98 Persen Warga NU Pilih Jokowi

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.