Gus Ipul sebut kemajuan kota diukur dari indeks kebahagiaan
Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut, maju tidaknya kota diukur dari indeks kebahagiaan masyarakatnya. Sayangnya, terkait masalah ini Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Singapura.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut, maju tidaknya kota diukur dari indeks kebahagiaan masyarakatnya. Sayangnya, terkait masalah ini Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Singapura.
Hal ini disampaikan Gus Ipul saat menghadiri Seminar Pembangunan Perkotaan Berbasis Komunitas di Kampus C Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jumat (11/11).
Menurut Gus Ipul, meski pembangunan di sebuah kota dilakukan besar-besaran, jika masyarakatnya masih tidak bahagia, maka pembangunan dianggap kurang berhasil.
"Jadi keberhasilan pembangunan itu bisa dilihat seberapa jauh bisa membuat masyarakatnya senang," ucapnya.
Pendapatan perkapita sebuah keluarga juga turut menentukan sukses pembangunan. "Jika indikator pendapatan yang kita terima Rp 1,8 juta ke atas, maka bisa dikatakan relatif bahagia. Sebaliknya, pendapatan di bawah itu, dikatakan kurang bahagia," katanya.
Menurutnya, ada dua cara meningkatkan pendapatan, yaitu menaikkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran. "Kalau mengurangi pengeluaran, maka harus memperbaiki transportasi publik, dan trotoar," katanya.
"Sehingga masyarakat tidak perlu naik angkot. Jadi, mengurangi pengeluaran masyarakat bisa dilakukan dengan pembangunan infrastruktur," sambungnya.
Gus Ipul mengatakan, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut ada 10 kriteria kota disebut sukses pembangunannya. 10 kriteria itu antara lain; masalah pendidikan, kesehatan, keharmonisan keluarga, waktu luang, pendapatan dan lain-lain.
Di lain sisi, kemajuan kota juga harus memiliki identitas. Kata Gus Ipul masalah ini menjadi penting.
"Karena kota yang ideal itu, di samping pendapatan dan pekerjaan, identitas sosial budaya juga melekat. Sehingga identitas tidak hilang," ungkap dia.
Sayang, sambung Gus Ipul, indeks kebahagian masyarakat di Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Singapura. Untuk itu, Indonesia harus membenahi seluruh indikator yang bisa membawa masyarakatnya bahagia.
"Masalah pendidikan misalnya. Sekarang ini, rata-rata pekerja kita sekolahnya tujuh tahun. Kalau bisa sebelas tahun. Ternyata semakin tinggi pendidikan, maka orang semakin bahagia. Itu kesimpulan indikator tentang pendidikan. Makin sehat, semakin bahagia. Semakin banyak pendapatan, semakin bahagia dan seterusnya," paparnya.
Gus Ipul kembali menegaskan, kabupaten dan kota harus mampu memacu potensi daerahnya, agar memiliki prioritas pembangunan yang akan menjadi ikon daerah.
"Di Banyuwangi misalnya. Banyuwngi memilih pariwisata sebagai prioritas. Maka yang lain-lain mengikuti. Kalau Mojokerto industrinya. Pariwisatanya mengikuti yang berbasis industri. Jadi ini tergantung wali kota dan bupatinya masing-masing," tandas Gus Ipul.(mdk/dan)