Gus Dur dukung kelompok-kelompok minoritas ini
Gus Dur memang dikenal dekat dengan masyarakat dari kalangan lintas iman. Gus Dur misalnya kerap blusukan ke gereja.
Mendiang mantan Presiden RI keempat Abdurrahman Wahid alias Gus Dur juga kerap disebut sebagai pembela kelompok minoritas. Alasan kemanusiaan dan konstitusi untuk melindungi semua warga negara Indonesia, Gus Dur selalu berdiri di depan melindungi kelompok-kelompok minoritas ini, meski menerima hujatan dan cacian. Ini terjadi pada 2008 lalu, ketika mulai ramai berita menyangkut pembubaran jamaah Ahmadiyah. Ketika banyak ormas Islam yang memusuhi jamaah ini, Gus Dur yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB mempertahankan sikapnya, yakni melindungi Ahmadiyah. Topik pilihan: PKB | Humor Gus Dur Gus Dur juga dikenal memiliki kepedulian terhadap kaum minoritas Tionghoa di Indonesia. Mendiang mantan presiden keempat, itu seringkali menerima tamu-tamu dari lintas agama dan etnis di kantornya untuk sekedar menjalin silaturahmi. Sebuah prilaku yang jarang dilakukan pimpinan NU di masa sebelumnya. Topik pilihan: PKB | Humor Gus Dur Gus Dur juga kukuh memberikan perlindungan kepada penganut Islam Syiah di Indonesia. Gus Dur bahkan mengizinkan penganut mazhab Islam Syiah untuk menggunakan masjid di depan rumahnya. Berbagai cercaan dan hujatan pun diterima Gus Dur. Karena hal itu pula ia bahkan dianggap sebagai seorang Syiah. Topik pilihan: PKB | Humor Gus Dur Gus Dur juga pernah menghadiri acara pemilihan Putri Waria Indonesia 2006. Bahkan Gus Dur sendiri mengaku ditawari menjadi penasihat Ikatan Waria Indonesia (IWI). Tentu saja sikap Gus Dur ini menuai kontroversi dari banyak kalangan. Baca juga:
Gus Dur memang dikenal dekat dengan masyarakat dari kalangan lintas iman. Gus Dur misalnya kerap blusukan masuk ke gereja-gereja. Dia juga membuka dialog dengan siapa saja.
Anda tentu ingat bagaimana Gus Dur melindungi orang-orang Tionghoa. Hanya beberapa bulan setelah menjabat, Gus Dur mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional. Gus Dur juga mencabut semua peraturan pemerintah yang pernah dibuat pemerintahan Soeharto tentang larangan mengadakan perayaan kebudayaan Tionghoa.
Berikut ini di antaranya beberapa kelompok minoritas yang didukung Gus Dur ketika mereka dalam keadaan tertekan:Ahmadiyah
Menurut dia, jamaah Ahmadiyah merupakan warga negara Indonesia. Menurut Gus Dur, pembelaan terhadap Ahmadiyah merupakan perwujudan dari nilai-nilai Pancasila yang telah disepakati sejak dulu kala sebagai dasar negara.
Pada waktu itu, kata dia, ada 7 orang perwakilan, di antaranya Serikat Islam, Muhammadiyah, Partai Arab Indonesia dan Masyumi. Mereka menyetujui bahwa Pancasila adalah dasar negara, karena Pancasila menjadi semangat kebangsaan. Pancasila bermula dari pemahaman diri dan menyatakan hak untuk kebebasan berpikir.Tionghoa
Bagi Gus Dur, semua golongan, etnis, suku di Indonesia memiliki harkat dan martabat yang sama. Tidak seperti kebanyakan orang yang hanya bermetafora, sikap itu kemudian betul-betul dilakoni Gus Dur ketika menjadi presiden.
Hanya beberapa bulan setelah menjabat, Gus Dur mengumumkan Imlek sebagai hari libur nasional. Gus Dur juga mencabut semua peraturan pemerintah yang pernah dibuat pemerintahan Soeharto tentang larangan mengadakan perayaan kebudayaan Tionghoa atau huruf Tionghoa. Dia pula yang mengupayakan penghapusan SKBRI dan pengakuan agama Kong Hu Cu.Syiah
Beberapa tokoh Syiah selama ini juga dekat dengan Gus Dur. Misalnya Jalaludin Rakhmat. Dia mengaku sering berdialog dengan Gus Dur. Bahkan dalam salah satu kisah humor, Kang Jalal, demikian dia akrab disapa, pernah mengajak Gus Dur bertemu dengan ulama Syiah di Iran.Kelompok Waria
Terlebih, Gus Dur juga menyatakan setuju dan bersedia menjadi penasihat IWI dengan alasan dalam UUD 1945, waria memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Dalam kesempatan itu, Gus Dur juga menyatakan bangga para waria bisa menggelar acara seperti itu.
Ini asal-usul ungkapan Gus Dur,
Humor Gus Dur: Betina saja
Guyonan Gus Dur: Antara kampus dan bioskop
Ini cara Gus Dur ubah keangkeran Istana Merdeka
Artis-artis kontroversial ini pernah dibela Gus Dur