LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Gunung Tangkuban Parahu Masih Waspada, Menteri ESDM Peringatkan Bahaya Gas Beracun

Jonan meminta tidak boleh ada aktivitas pariwisata dalam radius 1,5 kilometer dari kawah.

2019-08-28 00:07:27
Gunung Tangkuban Parahu Erupsi
Advertisement

Sebulan setelah erupsi, status Gunung Tangkuban Parahu masih di level waspada. Masih ada potensi gas beracun keluar dari Kawah Ratu, berupa hidrogen sulfida (H2S) dan sulfur dioksida (SO2). Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan usai mengunjungi Pos Pemantauan PVMBG, Selasa (27/8).

Dia melakukan pemantauan dan menerima penjelasan teknis mengenai kondisi wilayah taman wisata alam (TWA) tersebut. Jonan mengaku ingin mengetahui kondisi kawah Tangkuban Parahu secara langsung sebagai pertimbangan untuk mengambil kebijakan.

"Ternyata apa yang terjadi sekarang kurang lebih sama dengan sebelumnya, berarti statusnya masih Waspada," kata Ignasius.

Advertisement

Dia menyoroti potensi keluarnya gas beracun yang bisa membahayakan kesehatan manusia dan berpengaruh negatif kepada makhluk hidup lainnya. Untuk itu, Jonan meminta tidak boleh ada aktivitas pariwisata dalam radius 1,5 kilometer dari kawah.

"Gas beracun ini keluarnya bersamaan dengan erupsi kecil. Gas H2S dan SO2 tidak ramah bagi makhluk hidup. Tangkuban Parahu itu memiliki sepuluh kawah, tiga di antaranya termasuk besar," ujarnya.

Berdasarkan periode pengamatan oleh Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) 27 Agustus 2019 pukul 00.00-06.00 WIB terjadi erupsi menerus di Kawah Ratu menghasilkan material berukuran abu dengan tinggi kolom abu sekitar 15 meter dari dasar kawah.

Advertisement

PVMBG mengingatkan masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu dan pengunjung tidak mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Tangkuban Parahu dalam radius 1,5 km dari kawah aktif. Artinya, TWA Tangkuban Parahu direkomendasikan untuk sementara ditutup.

Sementara itu, Direktur Pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Tangkuban Parahu, Putra Kaban tidak menyebutkan secara rinci kerugian akibat penutupan tersebut. Namun, menurutnya, ada sekitar 5.000 pedagang yang terdampak akibat ditutupnya tempat wisata itu. "Tapi ini risiko, karena ini alam," kata Putra.

Dikritik Warga

Sehari sebelum kedatangan Menteri ESDM, masyarakat sekitar gunung, pemangku adat dan tokoh masyarakat serta kasepuhan Kampung Adat Gamlok Cikole, Kecamatan Lembang menyampaikan enam tuntutan terkait dinamika pasca-erupsi pada 26 Juli lalu.

Pertama, mereka meminta pemerintah pusat hingga desa untuk lebih memperhatikan lagi kondisi masyarakat yang terkena dampak erupsi. Mereka menilai, setelah erupsi belum pernah ada pemerintah desa yang turun langsung ke warga sekitar gunung untuk memberikan arahan terkait jalur evakuasi jika terjadi letusan lebih besar.

Kedua, mereka meminta BPBD membuat sekaligus meninjau kembali jalur evakuasi yang sudah ada dan memberi pelatihan evakuasi kepada masyarakat sekitar gunung.

"Kami juga berharap Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bertanggungjawab atas kerusakan kawasan hutan konservasi di sekitar TWA Tangkuban Parahu yang berakibat masyarakat sekitar gunung kesulitan air bersih," kata Pemangku Adat Gunung Tangkuban Parahu, Budi Raharja, melalui surat terbuka.

Menurutnya, hutan sebagai kawasan resapan air sudah rusak. Ditambah, kawasan pinggir kawah Ratu banyak berdiri bangunan beton dan tembok sehingga air hujan tidak bisa meresap ke. Selain itu, PVMBG juga diminta untuk lebih aktif lagi menyampaikan kondisi terkini terkait aktivitas gunung kepada masyarakat sekitar.

Kepada PT GRPP selaku pengelola TWA Tangkuban Perahu, pihaknya mendesak agar tak melibatkan masyarakat kampung Cikole terlibat dalam konflik sosial dengan membuat surat pernyataan atas nama masyarakat karena dapat menimbulkan konflik horizontal yang lebih luas.

"poin keenam, pengelola harus mengedapankan keamanan pengunjung dan masyarakat Cikole dan tidak mengeksploitasi demi keuntungan perusahaan semata tanpa memperhatikan akibat kerusakan hutan konservasi dan keamanan serta kesejahteraan masyarakat sekitar," ujarnya.

Selama sebulan erupsi, Budi menyebut pengelola TWA Tangkuban Parahu tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada pedagang yang terdampak. Justru, mereka kerap dijadikan tameng agar kawasan TWA segera dibuka kembali untuk umum.

Terakhir, pihaknya meminta semua pihak menahan diri dan sepakat untuk tidak mengganggu Gunung Tangkuban Parahu dalam melakukan aktivitas vulkanisnya. "Karena semua ini adalah kehendak Yang Maha Kuasa, semua peristiwa alam yang terjadi pasti sebagai pertanda dan selalu membawa hikmahnya bagi manusia," tulis dia dalam surat terbuka.

Baca juga:
Sebulan Usai Erupsi, Status Tangkuban Parahu Masih Waspada
Gempa Banten Akibatkan Tremor Gunung Tangkuban Parahu Meningkat
Kembali Erupsi, Status Gunung Tangkuban Parahu Menjadi Waspada
Gunung Tangkuban Parahu Kembali Erupsi Malam Ini
Usai Erupsi, Aktivitas Ekonomi dan Kunjungan Wisata Tangkuban Parahu Belum Pulih

(mdk/ray)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.