LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Gubernur Bali malu ada anak mau sekolah bertaruh nyawa lewati sungai

Gubernur Bali malu ada anak mau sekolah bertaruh nyawa lewati sungai. Pastika tidak menyangka, karena sudah dua periode menjabat sebagai Gubernur Bali, tetapi tidak satupun dari aparatur setingkat Desa, Camat hingga Dinas Pendidikan, melaporkan hal itu.

2017-01-15 23:35:00
Anak Sekolah
Advertisement

Siswa SDN 5 Ringdikit, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali harus berjuang melewati arus sungai yang deras demi mengeyam pendidikan. Hal ini membuat sejumlah pihak prihatin, termasuk Gubernur Bali Made Mangku Pastika.

Pastika menyaksikan langsung melihat kebenaran kabar tersebut dengan meninjau ke lokasi, Minggu (15/1) saat anak-anak pulang sekolah usai mengikuti kegiatan ekstrakulikuler.

Pastika tidak menyangka, karena sudah dua periode menjabat sebagai Gubernur Bali, tetapi tidak satupun dari aparatur setingkat Desa, Camat hingga Dinas Pendidikan, melaporkan hal itu.

anak sekolah di Bali pergi sekolah seberangi sungai ©2017 Merdeka.com/gede nadi

Advertisement




Bahkan begitu tiba di lokasi, Pastika menyaksikan bahayanya anak-anak menyeberang dengan hanya berpegangan seutas tali yang mengambang sembari menenteng tas dan sepatunya.

"Ya ampun, ternyata masih ada seperti ini, ini memprihatinkan. Malu sebagi pemimpin," ucap Pastika saat melihat anak-anak itu melintas.

Yang membuat Pastika sejenak menutupkan mata, ketika mendengar cerita bahwa kondisi ini sudah dijalankan sejak tahun 1984 pasca SDN 5 Ringdikit berdiri. Mereka pun nekat, mempertaruhkan nyawa dengan melintasi sungai, hanya untuk bisa mengejar pendidikan setinggi-tingginya.

anak sekolah di Bali pergi sekolah seberangi sungai ©2017 Merdeka.com/gede nadi

Advertisement



Kondisi ini mereka alami, karena tidak adanya akses menuju ke sekolah mereka. Untuk bisa menuju sekolah, mereka harus memutar arah jalan menuju ke jalan raya, dengan waktu 30 menit menuju ke sekolah, itupun harus mengendarai kendaraan. sehingga, satu-satunya akses hanya dengan menyeberangi sungai yang di atas bendungan irigasi.

"Ini sudah lama terjadi bahkan bertahun-tahun, kenapa malah dibiarkan? Kalau anak-anak ini hanyut siapa yang tanggung jawab? Yang bertanggung jawab pertama Prajuru Desa, karena tidak peduli warganya. Kasihan anak-anak ini, demi untuk bisa sekolah," kata Pastika di hadapan para warga yang mengrumuninya.

Saat itu Gubernur langsung memerintahkan jajarannya agar dibuatkan jembatan sementara dari kayu. Sebab, sungai merupakan kewenangan dari Pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS), dan bantuan itu menurut Pastika, sangat lama.

"Nunggu orang hanyut dulu ada korban jiwa, baru pusat bantu. Itu lama, saya minta sementara jembatan pakai kayu dulu, agar anak-anak aman. Saya minta minggu depan, sudah tidak ada anak-anak nyeberang lagi seperti ini, sudah ada jembatan. Utamakan itu," tegas Pastika menginstruksikan.

Baca juga:
Miris, banyak anak sekolah di Ihnil Riau keranjingan 'ngelem'
Cegah narkoba ke sekolah, Walkot Makassar minta tas siswa digeledah
Sekolah disegel, 200 siswa di Kupang Barat terbengkalai
Bolos sekolah, 26 pelajar di Malang nongkrong di warkop dan warnet
Masa akhir libur sekolah, Kota Tua dipadati pengunjung
Bupati Dedi ingin pelajar aplikasikan nilai-nilai dalam kitab agama

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.