GP Anshor sebut full day school bisa suburkan kelompok radikal
Gus Yaqut mengungkapkan, madrasah diniyah merupakan benteng terakhir bagi negara dari kelompok-kelompok radikal. Dia meyakini, siswa-siswa kelulusan madrasah diniyah tak ada satu pun yang terkontaminasi paham radikal.
GP Ansor menolak gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy terkait penerapan full day school. Alasannya karena sekolah lima hari berpotensi menciptakan kelompok-kelompok radikal di Indonesia.
Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut C Qoumas mengatakan, full day school akan memberangus kesempatan anal-anak untuk belajar di sekolah diniyah. Hal tersebut yang membuat GP Ansor dan Nahdlatul Ulama menentang sistem sekolah lima hari itu.
"Jelas ini akan memangkas waktu anak didik belajar di Sekolah Diniyah. Karena sekolah diniyah itu biasanya jam 2 atau jam 3 sore. Kalau sekolah 8 jam, anak-anak baru pulang jam 3 jam 4, bagaimana mereka akan belajar agama di diniyah?" katanya kepada merdeka.com di Solo, Kamis (10/8).
Gus Yaqut mengungkapkan, madrasah diniyah merupakan benteng terakhir bagi negara dari kelompok-kelompok radikal. Dia meyakini, siswa-siswa kelulusan madrasah diniyah tak ada satu pun yang terkontaminasi paham radikal.
"Kalau madrasah diniyah ini akan dikaitkan dengan full day school, itu sama saja negara ini akan mengembangkan dan membesarkan kelompok-kelompok radikal," tutup Gus Yaqut.
Baca juga:
Tolak fullday school, PKB siap tinggalkan dan tak capreskan Jokowi
Golkar minta PKB komunikasi dengan Jokowi soal full day school
PPP usul PKB buka posko ketimbang ancam tarik dukungan ke Jokowi
Soal full day school, Jokowi diminta tak lupa madrasah dan pesantren
Demo tolak full day school ricuh, massa dan polisi saling dorong