Gempa di laut Maluku berkekuatan 6,6 SR akibat lempeng tektonik
Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa bumi dengan kekuatan 6,6 Skala Richter (SR) di wilayah Maluku Utara pada pukul 02.15.14 WIB, akibat adanya tumbukan lempeng tektonik. Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi tektonik dengan hiposenter dangkal.
Humas BMKG Taufan Maulana menyebutkan, dari hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi yang terjadi memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault).
Pusat gempa terletak pada koordinat 1,35 lintang Utara dan 126,41 bujur timur, tepatnya di laut pada jarak sekitar 126.0 kilometer arah barat laut Kota Ternate atau pada jarak 131.0 kilometer arah timur Kota Bitung, pada kedalaman 58 kilometer.
Taufan menuturkan, jika diperhatikan letak episenter gempa bumi, tampak bahwa pusat gempa bumi terjadi berasosiasi dengan zona akumulasi tegangan akibat aktivitas penekanan (kompresi) lempeng tektonik.
Yaitu dorongan lempeng laut Filipina dari arah timur (Busur Halmahera) dan dari arah barat Lempeng Eurasia (Busur Sangihe) yang menekan ke timur secara relatif hingga timbul medan tegangan pada zona punggungan Mayau (Mayau Ridge).
Akibatnya, sambung Taufan, terbangunnya zona kompresi di bagian tengah Lempeng Laut Maluku ini sehingga kawasan Pulau Mayau dan sekitarnya sangat rawan gempa bumi dengan penyesaran naik.
"Implikasi sistem tektonik ini menjadikan aktivitas seismisitas di zona Punggungan Mayau sangat tinggi dan terjadi pada kedalaman dangkal kurang dari 60 kilometer," paparnya.
Lebih jauh Taufan membeberkan, Sistem tektonik itu mengakibatkan sebagian besar aktivitas gempa bumi terjadi di kawasan ini memiliki mekanisme sumber sesar naik, yang merupakan ciri gempa bumi hasil tumbukan lempeng (plate colission). Sehingga sangat relevan jika mekanisme sumber gempabumi ini berupa penyesaran naik (thrust fault).
"Meski gempa bumi berpusat di laut dengan mekanisme sesar naik, tetapi gempa bumi ini tidak menimbulkan tsunami, karena kekuatannya tidak cukup kuat untuk membangkitkan perubahan di dasar laut secara signifikan untuk dapat memicu terjadinya tsunami," ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Dia menambahkan, dari hasil monitoring BMKG selama satu jam pascagempa sudah terjadi gempa bumi susulan (aftershocks) sebanyak dua kali dengan kekuatan 4,3 SR.
Tampak bahwa kecenderungan aktivitas gempa bumi susulan kekuatannya terus melemah. Berdasarkan data magnitudo gempa bumi susulan ini menunjukkan tidak ada potensi akan terjadi gempa bumi dengan kekuatan yang lebih besar.
Taufan mengimbau kepada masyarakat Pulau Mayau, Sulawesi Utara, Halmahera, dan Ternate agar tetap tenang mengingat gempa bumi terjadi tidak berpotensi tsunami.
(mdk/cob)