LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Geliat Perajin Tas di Jombang Bangkit dari Gempuran Covid-19

Semua dunia usaha nyaris babak belur dihantam tsunami pandemi virus corona alias Covid-19. Tidak terkecuali nasib para perajin tas di Jombang, Jawa Timur.

2021-03-19 05:03:00
Kisah Inspiratif
Advertisement

Semua dunia usaha nyaris babak belur dihantam tsunami pandemi virus corona alias Covid-19. Tidak terkecuali nasib para perajin tas di Jombang, Jawa Timur.

Meski dengan napas yang masih ngos-ngosan, para pelaku usaha kerajinan rakyat ini pun mencoba untuk terus bertahan dan bangkit dari keterpurukan yang sudah melanda sejak awal corona menyerang.

Salah satunya adalah Ike Norawati (38), perajin tas di Dusun Kemambang, Desa Diwek, Kecamatan Diwek, Jombang. Sebagai perajin kecil, mau tidak mau diakuinya bahwa pandemi Covid-19 ini turut menghantam usahanya. Ia bahkan sempat terpuruk dan usahanya nyaris gulung tikar. Semangat dan dukungan dari keluarga, kini menjadi pelecut baginya untuk bangkit dari keterpurukan.

Advertisement

"Usaha ini dimulai pada 2014 lalu. Saya mulai merintis usaha kerajinan di rumah dengan membuat bros," kata Ike belum lama ini.

Dari kerajinan awal itu, dirinya mulai mengembangkan usahanya. Secara perlahan, ia juga mulai membuat kerajinan berupa tas, dan asesoris lain dengan menggunakan bahan kain perca, kayu kelapa serta daun pandan.

Selama menggeluti usaha itu, dirinya tak mendapatkan kendala yang berarti. Namun saat virus corona mewabah di Indonesia, usaha yang digelutinya perlahan mulai lesu. Hal ini pun diikuti dengan makin merosotnya pendapatann. Jika sebelum pandemi ia bisa meraup pendapatan belasan juta rupiah, namun sejak corona melanda hampir 80 persen ia kehilangan pendapatan.

Advertisement

"Sebelum ada pandemi bisa dapat uang Rp 15 juta per bulan. Tapi mulai ada Covid-19 itu, pendapatan turun drastis hingga 80 persen. Satu bulan hanya bisa menjual 1 atau 2 tas kerajinan saja," ungkapnya.

Dihajar pandemi Covid-19 hanya bisa membuat Ike pasrah. Namun ia menyadari, jika kesulitan yang dihadapinya juga dialami semua orang. Kondisi itu tentu tak ingin dibiarkannya berlama-lama. Bersama keluarga yang mendukungnya, ia pun berusaha bangkit dan kembali berusaha.

"Saya menyadari bahwa situasi saat ini juga dialami oleh semua orang. Beruntung, keluarga terus memberi semangat dan motivasi," tuturnya.

Untuk menopang usahanya, ia pun sempat beralih produksi. Ike pun memutar otak berinovasi membuat masker dari limbah kain agar usahanya tak ambruk. Produk asli berupa kerajinan tas, hanya diproduksi sesuai pesanan dan kebutuhan stok saja.

Dia mengaku, turunnya omzet ini terpaksa diikuti dengan merumahkan tiga pegawainya. Dari empat orang pegawai yang dimilikinya, kini hanya satu orang yang dapat dipekerjakannya.

"Ada empat orang pegawai, sekarang tinggal satu orang pegawai, lainnya saya rumahkan. Sebab pendapatan usaha saya turun sampai 80 persen. Biar usaha terus jalan, saya inovasi buat masker," ucapnya.

Awal 2021, menjadi awal tahun kebangkitannya. Selain mulai rajin berproduksi, ia juga mulai menjajal pasar baru via media sosial. Dan ternyata, ia mendapat respons yang bagus dari masyarakat.

Tidak hanya masker, namun produk awal yang digelutinya juga mulai banyak diminati kembali oleh masyarakat. Ia pun kembali memproduksi hiasan tas biasa berbahan kayu kelapa dan pandan dengan menggunakan kain perca.

Tas biasa yang dibeli dengan harga Rp 75 sampai Rp 80 ribu per biji, ia sulap dengan hiasan limbah kain hingga menjadi menarik dan bernilai tinggi. Rata-rata, pelangganya kelas menengah ke atas.

"Bahan dasar tas wanita dari kayu kelapa dan pandan saya beli. Kemudian saya desain ulang menjadi elegan dan cantik dengan hiasan pernak pernik serta rangkaian bunga-bunga," ujarnya.

Meski belum pulih 100 persen, namun geliat usahanya perlahan mulai pulih. Ia mengaku, setidaknya dalam sebulan ia sudah mampu meraup omset Rp 5 juta hingga Rp 8 juta.

"Omzet saya kisaran Rp5 juta sampai Rp8 juta per bulan. Alhamdulillah," imbuhnya.

Untuk itu, ia pun memiliki saran pada perajin lainnya, agar terus bersemangat berjuang meski masih di tengah guyuran pandemi Covid-19. Sebab ia yakin, di tengah cobaan ini, pasti ada jalan keluar untuk berbagai usaha.

Baca juga:
Kisah Kakek di Suriah Rawat 11 Cucu Yatim Piatu
Intip Bos Jalan Tol Jusuf Hamka Bagi-Bagi Uang ke Anak-Anak Bisa Pancasila
Kisah Mbah Asrofi, Kakek Tunanetra yang Panjat Pohon Kelapa Demi Berbagi
Kisah Anton Medan Jadi Mualaf, dari Preman Kelas Kakap Jadi Murid KH Zainuddin MZ
Kisah Bang Dzoel Fotografer Tanpa Tangan & Kaki, Hasil Jepretannya Indah Banget
Meninggal Dunia, Ini Perjalanan Anton Medan Pendakwah Mantan Narapidana Selama Hidup
Penampakan Tempat Tinggal TKW Tak Lulus SD Penghasilan Rp3,7 M, Ada 27 Kamar Mewah

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.