Gelas bambu penyaring kopi buatan pemuda Kebumen buat Jokowi & Megawati
Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah memberikan penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Jawa Tengah kepada Yuri.
Yuri Dulloh, pemuda asal Desa Pucangan, Kecamatan Ambal, Kebumen tengah merasakan buah yang ia tanam. Yuri membangun bisnis dengan menggali dan mengembangkan biji kopi setempat sejak tahun 2009.
Kini, kedai kopi 'Yuam Roasted Coffee' miliknya yang terletak di depan rumah, di tengah perkampungan sudah dikenal luas, bahkan hingga mancanegara. Nama Yuam merupakan kependekan dari nama dan daerah asalnya, Yuri Ambal.
Malah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah memberikan penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Jawa Tengah kepada Yuri.
Entah kebetulan atau garis nasib, Yuri bersahabat dengan Rahmat Sahid, yang merupakan penulis buku Ensiklopedia Keislaman Bung Karno, dimana kata pengantarnya ditulis Megawati Soekarnoputri.
Jadilah, ia menitipkan bingkisan kopi dan gelas bambu penyaring untuk Jokowi juga Megawati.
"Waktu saya ke Istana sebenarnya sudah disiapkan Mas (bingkisan kopi untuk Presiden Jokowi), tapi ada kendala teknis. Makanya, ini mumpung sampean ke sini, saya nitip agar bisa disampaikan ke Pak Jokowi dan Ibu Megawati," kata Yuri dalam keterangannya, Rabu (12/9).
Yuri sendiri kedatangan Rahmat, sahabat sedari kecil ke kedai kopinya. Keduanya pun terlibat perbincangan nostalgia masa lampau.
Dalam obrolan ringan, Yuri dan Rahmat yang semasa kecilnya pernah sama-sama angon, Yuri angon kerbau, dan Rahmat angon kambing, begitu antusias saling bertukar cerita dan pengalaman.
Yuri menceritakan, pengalamannya sejak 2009 menggali potensi kopi lokal dan berbagai kegiatan seperti menghijaukan lahan-lahan yang tidak produktif dilakukan dengan kerja keras sambil terus melakukan edukasi. Hal itu dilakukan untuk membangun kesadaran sekaligus pendidikan kepada masyarakat untuk mau menanam kopi.
Pria yang juga aktif di Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat Desa (PKSMD) ini mengungkapkan, dengan kerja kerasnya itu, ia kini sudah bisa membuka kedai kopi yang diolah dari budidaya sendiri bersama mitra petani kopi yang tersebar di beberapa titik di Kebumen.
Tidak hanya itu, Yuri juga kemudian menciptakan alat penyaring kopi dari bambu. Adapun untuk pengolahan kopi, dari beberapa kali percobaannya ia kemudian berhasil memproduksi bubuk kopi yang diberi nama Kopi Yuam (Yuri-Ambal). Jenis kopi yang dibudidayakan adalah arabika, robusta, wamen, dan nangka.
"Awalnya, banyak yang menertawakan usaha dan kerja keras saya ini. Tapi saya terus lakukan percobaan-percobaan, gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, dan itu yang membawa pada keberhasilan saya bisa produksi kopi bubuk Yuam. Ini sudah saya patenkan (hak paten)," ungkapnya.
Dalam tiga tahun belakangan, nama Yuri dan Kopi Yuam sudah populer. Ia beberapa kali diundang menjadi narasumber utama di acara talk show beberapa televisi swasta nasional. Pengunjung kafenya pun kini dari berbagai daerah, yang tidak hanya ingin menikmati seduhan kopi olahan Yuri, tetapi juga untuk pengembangan riset.
Bahkan, pengunjungnya yang dari luar begeri lebih dari 30 negara, meskipun tempat kafenya jauh dari perkotaan. Para turis yang pernah datang diantaranya dari Perancis, Jerman, Rusia, Turki, Belanda, Korea, Taiwan, Denmark, Australia, Uzbaikistan, Arab Saudi dan India, Singapura.
Dan yang juga membanggakan bagi Yuri Dulloh adalah, berkat kreativitasnya itu ia bisa berkeliling ke beberapa negara. Diantaranya, dia pernah mengikut Festival Indonesia di Moskow, Rusia. Bahkan, Kopi Yuam dan Gelas Bambu karya Yuri diterima untuk dipajang di Museum Seni Oriental di Moskow.
Selain penghargaan Kalpataru dari Jokowi, Yuri juga pernah menyabet pemenang utama lomba kreativitas dan inovasi masyarakat Jawa Tengah 2016, juara Wirausaha Muda Mandiri Jateng, Terbaik UKM Kebumen, dan Juara Utama UKM Jateng.
Sementara itu, Rahmat Sahid yang mendapatkan kepercayaan menyampaikan bingkisan tersebut langsung berkoordinasi dengan Sekjen PDI Perjuangan Hasto kristiyanto, agar Kopi Yuam dan Gelas Bambu itu bisa segera sampai ke Jokowi dan Megawati.
Baca juga:
Kisah pengukir seni kayu di Bali puluhan tahun setia pada profesinya
Berawal dari iseng, pengrajin dari bahan baku parasut raih omzet jutaan rupiah
Inovasi sepatu anti bau antar mahasiswa UMM ke forum entrepreneurship ASEAN
Olah limbah kayu, startup asal Bandung rambah pasar Eropa & incar pendapatan Rp 6 M
Kerajinan berbahan limbah kayu asal Kediri diminati hingga luar Pulau Jawa
Celengan unik dari Badung sampai ekspor ke luar negeri