Gelar aksi tutup mulut, warga Solo minta Jokowi ampuni Merry Utami
Mereka yakin Merry hanya korban, bukan gembong narkoba.
Puluhan warga dan aktivis yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Solo Raya peduli terpidana mati kasus narkoba Merry Utami (42), menggelar demonstrasi di Bundaran Gladag, Kamis (28/7) sore. Dengan menutup mulut memakai lakban, mereka meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) agar memberi pengampunan atau grasi kepada Merry.
"Merry itu bukan gembong narkoba, dia hanya korban mafia. Ada pelakunya yang seharusnya dihukum berat," ujar Endag Lestiyani, koordinator aksi.
Menurut dia, Merry hanyalah korban KDRT yang terpaksa pergi dan dipaksa menjadi pekerja migran oleh suaminya untuk mencukupi kehidupan keluarga. Namun uang hasil jerih payahnya justru disalahgunakan suami untuk berbuat maksiat. Saat bekerja di luar negeri, Merry dijebak dan ditipu sindikat narkoba internasional untuk menjadi kurir narkoba.
"Kami mendukung upaya serius negara untuk memberantas narkoba, namun menentang solusi hukuman mati terlebih kepada korban seperti Merry. Kami minta Presiden Jokowi agar mempertimbangkan penundaan eksekusi yang sedang mengajukan proses grasi," tandasnya.(mdk/cob)