Gara-gara studi banding, Ridwan Kamil & Soekarwo tegang di Twitter
Pemkot Surabaya menyatakan tidak pernah menolak permohonan studi banding.
Wali Kota Bandung, Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengungkapkan kekecewaannya di jejaring sosial Twitter, lantaran wakilnya, Oded Muhammad Danial, ditolak saat hendak melakukan studi banding ekstensifikasi penerimaan pajak di Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur. Namun, cuitannya itu langsung ditanggapi oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.
"Jatim ramah untuk siapa-pun mas @ridwankamil, diklarifikasi agar tidak memunculkan persepsi buat Jatim. *Pakde Karwo," tulis Soekarwo seperti dikutip dari akun Twitter-nya, Rabu (24/2).
Saat dikonfirmasi terkait masalah ini, Kabag Humas Pemkot Surabaya, M Fikser, mengaku bingung. Sebab dia merasa tidak pernah menolak, dan menyatakan tetap membuka diri bagi daerah lain ingin studi banding ke Kota Pahlawan itu.
"Selama ini, Pemkot (Surabaya) selalu membuka diri. Ada banyak daerah lain yang mengajukan surat pengajuan ke Pemkot. Hampir setiap hari ada. Karena pesan Bu Risma (Wali Kota Tri Rismaharini) kita harus mau berbagi dengan kota lain," kata Fikser kepada merdeka.com, Rabu (24/2).
Menurut Fikser, pengajuan dari Ridwan Kamil sudah diterima pihak Pemkot Surabaya.
"Setiap pengajuan itu kan dikirim oleh staf ke staf. Jadi komunikasinya antarstaf. Namun, karena jadwal yang ada di Pemkot Surabaya cukup banyak, kita harus me-re schedule jadwal. Artinya kan tidak bisa harus hari ini kita terima. Kita atur komunikasinya lagi untuk menentukan jadwal di hari yang lain," ujar Fikser.
Jadi, menurut Fikser, ketika pengajuan studi banding Ridwan Kamil belum bisa diterima hari ini, menurutnya itu wajar.
"Ada protokoler yang harus dilalui. Kita harus reschedule jadwal. Jika hari ini tidak bisa, kita bisa tentukan hari yang lain, dan ini komunikasinya staf antar staf," lanjut Fikser.
"Kalau misalnya yang datang wali kota, kan yang nemui harus wali kota. Kalau wakil wali kota, yang nemui wakil wali kota dan seterusnya. Nah untuk menentukan ini, kan kita harus melihat jadwal-jadwal yang sudah ada," ucap Fikser.
Fikser mengaku sangat menyesalkan kejadian ini. Padahal, lanjut dia, Pemkot Surabaya tidak berniat menolak studi banding Wakil Wali Kota Bandung.
"Saya tidak tahu kenapa terjadi seperti ini. Kami tidak pernah ada niatan menolak daerah manapun. Kita punya data, mereka (Bandung) sering melakukan studi banding ke Surabaya, dan diterima dengan baik. Termasuk saat mereka datang ke Dinas Cipta Karya, mereka kita terima," tutup Fikser.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebagai pengusung duet Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana, bereaksi atas cuitan Ridwan. Bahkan, PDI Perjuangan Kota Surabaya menganggap Emil sedang bergurau. Sebab menurut mereka, selama ini Kota Surabaya tak pernah pelit berbagi pengalaman dengan daerah lain.
"Selama ini, Bu Risma tegas meminta jajarannya untuk melayani semua permintaan kunjungan studi banding. Apalagi untuk saling meningkatkan kualitas pelayanan, Kota Surabaya selalu menyambut baik," kata Wakil Ketua PDIP Surabaya, Didik Prasetiyono.
Sementara soal cuitan Emil, Didik menilainya sebagai lelucon. "Mungkin Pak Ridwan bercanda, dan tidak diperlukan bagi pemerintah kota menanggapi masalah cuitan itu. Apalagi beliau (Ridwan Kamil) kan punya selera humor tinggi, karena memang tak ada penolakan studi banding yang ditolak Pemkot Surabaya," ujar Didik.
Didik melanjutkan, masyarakat Surabaya dikenal terbuka dan terus terang. "Maka cuitan Pak Wali Kota Bandung juga ditanggapi sebagai canda seorang sahabat. Seperti Bonek bersahabat dengan Viking (suporter Persib)," lanjut Didik.
Meski begitu, Didik menyarankan supaya pola komunikasi akan diatur sesama wali kota, baik formal lewat jajaran pemerintah maupun secara informal lewat telepon. "Mungkin setelah ini Pak Ridwan bisa menjelaskan kronologis, agar tidak menimbulkan persepsi Pemkot Surabaya pelit berbagi ilmu," tutup Didik.(mdk/ary)