LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Fantastis! Tabungan Siswa Pangandaran yang Tak Bisa Diambil Capai Rp5 M, Ini Sebabnya

Uang tabungan siswa dengan jumlah Rp5 miliar itu, menurutnya terbagi di tiga koperasi. Koperasi-koperasi tersebut pun diketahui memiliki anggota yang berutang cukup banyak.

2023-06-19 18:35:07
Anak Sekolah
Advertisement

Total tabungan siswa di Pangandaran yang bermasalah dan tidak bisa diambil nilainya cukup fantastis. Nilainya mencapai Rp5 miliar.

Besarnya jumlah uang tabungan siswa itu tersebar di sejumlah sekolah yang ada di dua kecamatan.

Bupati Pangandaran, Jawa Barat Jeje Wiradinata mengatakan, terungkapnya nominal uang siswa yang bermasalah setelah pihaknya mengumpulkan para pihak terkait. Mulai dari kepala sekolah di Kecamatan Parigi dan Cijulang, komite, hingga tiga ketua koperasi.

Advertisement

"Saya tadi lebih banyak mendengarkan apa yang terjadi. Terakhir, kita ingin menyelesaikan masalah. Mungkin di awal ini akan inventarisir berbagai data dan persoalan. Total semua hampir Rp 5 miliar di dua kecamatan. Di kecamatan lain cukup bisa jalan," kata Jeje, Senin (19/6).

Penyebab Tabungan Siswa Tak Bisa Diambil

Uang tabungan siswa dengan jumlah Rp5 miliar itu, menurutnya terbagi di tiga koperasi. Koperasi-koperasi tersebut pun diketahui memiliki anggota yang berutang cukup banyak.

Advertisement

"Saya kritisi, cara meminjamkannya sederhana. Kalau di bank kan ada jaminan. Lalu ada survei dulu melihat kemampuan debitur. Ini tidak," katanya.

Ia menjelaskan bahwa persoalan tabungan siswa yang tidak bisa diambil ini tidak lepas dari pandemi Covid-19. Uang tabungan siswa ini ada yang disimpan langsung di guru dan koperasi.

Dari dua skema penyimpanan itu, diketahui ada yang lancar dan ada pula yang mengalami masalah, bahkan mandeg. "Di Cijulang banyak di guru, kalau di Parigi 99 persen ada di koperasi," jelasnya.

Di Cijulang, diungkapkan Jeje, uang disimpan di Koperasi digunakan untuk simpan pinjam namun kemudian macet dalam pembayaran. Selama ini yang meminjam adalah anggota koperasi, di mana mayoritasnya pesertanya adalah guru yang sudah pensiun.

Jeje berjanji akan menyelesaikan persoalan uang tabungan tersebut. "Kan di koperasi tidak ada fresh money. Kedua, uang di sana sini. Kami minta orang tua sabar. APBD juga tidak boleh menutup masalah ini, kecuali untuk beli aset. Kami minta kesabaran. Kami akan selesaikan. Kalau ini susah kita harus jual aset. Mereka (koperasi) juga sudah ok, namun langkah pertama adalah menagih debitur yang macet," katanya.

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.