Fakta Unik Bekantan: 250 Pohon Rambai Ditanam SBI-BMSI untuk Habitat di Pulau Curiak
Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan PT Bridgestone Mining Solutions Indonesia (BMSI) menanam 250 pohon rambai untuk memulihkan habitat bekantan di Pulau Curiak. Penasaran dampaknya?
Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) dan PT Bridgestone Mining Solutions Indonesia (BMSI) telah berkolaborasi dalam upaya penting untuk memulihkan ekosistem mangrove. Sebanyak 250 batang pohon rambai ditanam di Pulau Curiak, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Inisiatif ini secara khusus ditujukan untuk mengembalikan dan memperkuat habitat alami bekantan, satwa endemik Kalimantan yang statusnya terancam punah.
Pulau Curiak diidentifikasi sebagai salah satu benteng terakhir bagi populasi bekantan yang terus menurun. Oleh karena itu, rehabilitasi habitat melalui penanaman mangrove rambai menjadi langkah krusial. Ketua Yayasan SBI, Amalia Rezeki, menekankan pentingnya upaya ini untuk keberlangsungan hidup bekantan.
Kolaborasi antara SBI dan dunia usaha seperti PT BMSI diharapkan memberikan dampak signifikan. Program ini tidak hanya bermanfaat bagi bekantan, tetapi juga bagi masyarakat sekitar yang akan merasakan manfaat dari ekosistem yang sehat dan lestari. Ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan alam.
Upaya Konservasi Bekantan di Pulau Curiak
Pulau Curiak, yang terletak di Barito Kuala, Kalimantan Selatan, merupakan rumah alami bagi monyet bekantan (Nasalis larvatus), sebuah spesies primata endemik Kalimantan. Satwa ini kini menghadapi ancaman kepunahan serius akibat kerusakan habitat dan faktor lainnya. Penanaman 250 batang rambai ini bertujuan meningkatkan kualitas ekosistem pulau, menjadikannya lebih kondusif bagi kelangsungan hidup populasi bekantan.
Ketua Yayasan SBI, Amalia Rezeki, menyatakan apresiasinya terhadap PT BMSI yang telah memilih SBI sebagai mitra dalam program konservasi ini. “Pulau Curiak merupakan salah satu benteng terakhir bagi populasi bekantan, sehingga upaya rehabilitasi habitat dengan penanaman mangrove rambai sangat penting,” ujarnya. Hal ini menggarisbawahi urgensi tindakan konservasi yang dilakukan.
Ina Rosalinda, General Manager Administrative Division PT BMSI, menambahkan bahwa penanaman mangrove rambai akan membantu menjaga ekosistem pulau. Dengan demikian, habitat bekantan akan semakin terjaga dan mendukung keberlangsungan hidup mereka. Kolaborasi ini diharapkan memberikan kontribusi nyata terhadap keseimbangan ekosistem dan pelestarian lingkungan di Indonesia.
Kolaborasi Strategis dan Bridgestone E8 Commitment
Program konservasi ini adalah bagian integral dari implementasi Bridgestone E8 Commitment, sebuah kerangka kerja keberlanjutan. Kerangka ini mencakup delapan nilai inti: Energy, Ecology, Efficiency, Extension, Economy, Emotion, Ease, dan Empowerment. Nilai-nilai ini menjadi panduan kontribusi perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan hingga tahun 2030.
Ina Rosalinda menjelaskan bahwa nilai-nilai tersebut menjadi dasar bagi setiap langkah dan inisiatif lingkungan yang dijalankan PT BMSI secara konsisten. Sejak tahun 2018, PT BMSI rutin melaksanakan program CSR dengan fokus utama pada sektor lingkungan. Pemilihan pelestarian monyet bekantan pada tahun 2025 didasarkan pada fakta bahwa habitatnya berada di Kalimantan, area yang juga penting bagi sektor pertambangan dan industri alat berat.
“SBI adalah mitra yang tepat untuk merealisasikan program ini, karena mereka memiliki dedikasi dalam melindungi satwa endemik,” ungkap Ina. Ia menambahkan bahwa dengan menanam mangrove rambai, PT BMSI bersama SBI berupaya memperkuat ketahanan ekosistem. Langkah ini juga bertujuan memperkaya keanekaragaman hayati di Pulau Curiak secara berkelanjutan.
Edukasi dan Peran Generasi Muda dalam Konservasi
Selain fokus pada pelestarian habitat monyet bekantan, program CSR PT BMSI dan SBI juga mencakup penyelenggaraan “Sekolah Konservasi”. Program edukatif ini dirancang untuk melibatkan generasi muda secara aktif dalam upaya konservasi lingkungan. Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat menjadi peserta utama dalam inisiatif ini.
Melalui “Sekolah Konservasi”, mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan. Mereka mengikuti diskusi, menerima penyampaian materi, dan melakukan praktik lapangan mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif dan pengalaman langsung kepada para peserta.
Ina Rosalinda berharap bahwa dengan adanya “Sekolah Konservasi”, generasi muda dapat meningkatkan kepedulian mereka. Hal ini penting terutama terhadap satwa endemik serta berkontribusi nyata dalam upaya konservasi lingkungan di masa depan. Inisiatif ini menunjukkan pentingnya investasi pada pendidikan untuk keberlanjutan alam.
Sumber: AntaraNews