LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Fakta baru kekejaman Pasutri telantarkan 5 anak di Cibubur

Orangtua sadis itu berkelit dengan alasan sang anak nakal sehingga dihukum tidak boleh tidur di rumah.

2015-05-19 07:25:00
Bocah Disiksa
Advertisement

Kasus penelantaran lima anak oleh orangtua terus berkembang. Hasil penyelidikan aparat kepolisian ditemukan narkoba jenis sabu di rumah Utomo Permono (45) dan Nurindra Sari (42) di Cluster Nusa Dua, blok E Perumahan Citra Gran Cibubur.

Orangtua sadis itu berkelit dengan alasan sang anak nakal sehingga dihukum tidak boleh tidur di rumah. Selain itu, D yang selalu ditolak oleh kedua orangtuanya tidak diberi makan siang.

"Ananda D diusir oleh orangtuanya karena nakal. Ia ditolak tak diberi makan siang," ujar Komisioner KPAI Erlinda.

Namun dari hasil pemeriksaan, polisi menduga orangtua ini kecanduan narkoba sehingga berbuat seperti itu. Kini keduanya masih ditahan di Polda Metro Jaya.

Berikut fakta baru kekejaman pasutri ke 5 anaknya:

Polisi sebut orangtua telantarkan anak karena narkoba

Orangtua yang menelantarkan anak, Utomo Permono (45) dan Nurindra Sari (42) positif memakai narkoba jenis sabu. Hal ini berdasarkan pemeriksaan urine oleh Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, Jumat (15/5).

Hasil pemeriksaan urine tersebut menjadi salah satu faktor mereka menelantarkan anaknya Dani selama 1 bulan di Perumahan Citra Gran Cibubur, Cluster Nusa Dua, Cibubur.

"Kalau dianalisa secara psikologi, orangtua Dani positif menggunakan sabu berefek gampang sensitif, paranoid dan human error," kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, Kombes Eko Daniyanto, Senin (18/5).

Menurut Eko, dari gejala human error itu, Utomo Pernomo dan Nurindria Sari kerap melakukan kekerasan kepada anak kandungnya sendiri. Tetapi, Eko belum bisa memastikan apakah kedua pelaku itu menggunakan sabu di depan anak-anak mereka.

"Kita tidak tahu atau ada saksi yang melihat Utomo dan Nur memakai sabu di depan anak mereka. Yang jelas dipakai di kamar dan sengaja dipesan di bawah 1 gram," tambah Eko.

Advertisement

Jadi tersangka karena simpan 0,85 gram sabu

Penyidik Polda Metro Jaya menetapkan orangtua yang menelantarkan lima anaknya, Utomo Permono (45) dan Nurindra Sari (42) sebagai tersangka. Keduanya jadi tersangka terkait kepemilikan sabu seberat 0,85 gram.

"Hasil gelar perkara, keduanya memenuhi unsur untuk statusnya ditingkatkan menjadi tersangka penggunaan dan kepemilikan sabu 0,85 gram," kata Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Eko Daniyanto di Jakarta, Senin (18/5).

Eko mengatakan pasangan suami dan istri Utomo dan Nurindra mengaku kepemilikan narkoba yang ditemukan di rumahnya itu. Eko menuturkan kedua tersangka juga terbukti positif menggunakan sabu berdasarkan hasil tes urine dan darah yang dilakukan Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya.

Saat ini, Utomo dan Nurindra menjalani penahanan di Rumah Tahanan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya. Sebelumnya, petugas Polda Metro Jaya menemukan sabu saat menggeledah rumah Utomo di Citra Gran Cluster Nusa Dua Blok E-8 Nomor 37 Cibubur, Bekasi pada Jumat (15/5).

Advertisement

Orangtua DN dikenal tak bersahabat sama tetangga

Warga di Cluster Nusa Dua, blok E Perumahan Citra Gran Cibubur, Tini (42) dan Fatimah (47) mengatakan bahwa kedua orangtua DN dikenal tidak bersahabat dengan tetangga.

"Kita sudah tidak bisa menggambarkan tentang kedua orangtua DN. Mereka sama tetangga enggak mau ngenal, gak pernah ada interaksi, tegur sapa atau senyum, malah mereka bilang kita semua itu gila," kata Fatimah, Senin (18/5).

Sedangkan Tini berpendapat, ayah DN, UP adalah orang yang terkesan arogan dan sombong. Ia berujar seperti itu karena UP seringkali berbicara dengan nada yang tinggi.

"Saat mau jemput DN di rumah saya, dia datang dengan petantang-petenteng, dengan marah-marah kepada saya. Di situ dia berkata dengan meninggi, dia bilang dia keponakan pejabat, darah biru dan sebagainya, selain itu dia juga sering mengancam warga yang menolong DN," ucap Tini.

(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.