Eks Napiter Ungkap Pola Rekrutmen Teroris di Media Sosial
Dia mengatakan orang bisa direkrut tanpa tatap muka dengan media sosial. Mereka bisa membina dan melakukan baiat tanpa harus bertemu.
Mantan narapidana terorisme (napiter), Haris Amir Falah mengungkap saat ini rekrutmen teroris lebih mudah dilakukan di media sosial. Dia menjelaskan yang sering digunakan para teroris untuk merekrut yaitu dengan menggunakan aplikasi pesan telegram dan facebook.
"Ada beberapa media sosial yang menjadi alat yang mereka lakukan secara intensif, misalnya telegram, maaf saya harus sebutkan itu, media sosial itu, di facebook juga digunakan," katanya pada saat diskusi dengan tema 'Besatu Melawan Teror' dalam akun YouTube Sindo Trijaya, Sabtu (3/4).
Dia mengatakan orang bisa direkrut tanpa tatap muka dengan media sosial. Mereka bisa membina dan melakukan baiat tanpa harus bertemu.
"Betul, sekarang itu karena teknologi sudah canggih orang bisa direkrut tanpa bertemu muka, mereka bisa aktif tanpa birdialog, mereka bisa dibina lewat media sosial. Jadi orang tanpa bertemu jadi dia bisa menjadi seorang pengantin," ungkapnya.
Dia mengatakan sistem baiat saat ini tidak perlu bertemu. Mereka kata Haris bisa melakukan dengan cara baiat gaib. Menurut dia dengan cara tanpa tatap muka doktrin tersebut bisa terjadi.
"Iya boleh dibilang pelaku dan korban, artinya ada karena ada usaha yang terprogram yang mencari mangsa dan merekrut, kemudian membina, karena sistem baiat itu tidak perlu bertemu, mereka bisa melakukan baiat gaib, mereka bisa bertemu dengan pimpinan, bisa di kamar sendirian, kemudian berbaiat, mereka sudah terikat dengan program itu," bebernya.
Perekrutan Menyasar Milenial
Sementara itu, dia juga tidak menepis perekrutan tersebut juga menyasar generasi milenial. Hal itu dia alami juga pada saat SMA.
"Saya dulu direkrut ketika saya SMA, karena sedang mencari jati diri, ingin menunjukkan kehebatan dan kemudian bertemu lah apa yang mereka punya bertemu dengan dokrin-dokrin bisa menyalurkan apa keinginannya," ungkapnya.
Dia juga mengatakan hingga kini perekrutan para milenial masif dilakukan. Hal tersebut terlihat dengan adanya kasus teror yang dilakukan di Mabes Polri, Jakarta serta para anak-anak yang baru saja bebas usai menjalani hukum lantaran melakukan aksi tindakan teror.
"Sampai sekarang anak-anak muda sangat luar biasa yang direktur, saya 3 hari lalu juga ke LP gunung sindur sebagai besar baru keluar masih 22,23, paling tua 25 tahun," tambahnya.
Sementara itu dia pun enggan membeberkan siapa otak dari perekrutan tersebut. Sebab dia mengatakan saat ini yang memegang kendali adalah orang yang takut mati.
"Yang megang remotnya para pembinanya lah. Ya itulah disayangkannya ya, orang-orang dibikin berani mati tapi dia hanya berani hidup," ungkapnya.
Pandemi Dimanfaatkan Meneror
Haris mengatakan pandemi Covid-19 menjadi salah satu momentum yang dilakukan para teroris untuk menjalankan aksinya. Sebab dia menilai para pelaku adalah orang-orang yang tidak memiliki rasa kemanusian.
"Justru itu dimanfaatkan (Pandemi), ini justru orang-orang sudah mati rasa kemanusiaannya," kata dia.
Dia menjelaskan para aksi teror beraksi dengan cara menciptakan dan bertemu momentum. Walaupun demikian dia mengatakan hal tersebut bisa saja terjadi bersamaan.
"Sangat boleh jadi dua-dua itu bisa terjadi, mungkin orang ingin menciptakan sebuah momentum karena ada isu-isu yang kelihatannya kacamata orang-orang radikal ini ketidak adilan seperti itu," ungkapnya.
"Jadi momentum itu kalau mau diciptakan mahal, mereka lebih memilih bertemu dengan momentum," tambahnya.
Sementara itu, dia juga menilai dua wasiat yang ditulis dari aksi teror di Makassar dan Mabes Polri Jakarta adalah sebuah konten utama untuk melakukan perekrutan. Yaitu dengan mengaungkan kalimat-kalimat menyerang yang menilai bahwa aparat, Presiden, Polisi, TNI mereka harus diserang.
"Makanya saya sebut orang ini ada jaringan atau tidak, bagi saya persoalan ini mereka melakukan penyimpangan dalam agama ini paling berat," bebernya.
(mdk/gil)