Dua dokter 'koboi' pengumbar tembakan
Aksi penembakan kembali terjadi di ibu kota Jakarta. Kali ini, penembakan terjadi siang bolong, pukul 14.30 WIB di sebuah klinik di Jl Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (9/11) kemarin.
Aksi penembakan kembali terjadi di ibu kota Jakarta. Kali ini, penembakan terjadi siang bolong, pukul 14.30 WIB di sebuah klinik di Jl Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (9/11) kemarin.
Pelaku dan korban merupakan suami istri yang berprofesi sebagai dokter. Pelaku alias sang suami diketahui berinisial dokter H sedangkan korban bernama dokter Letty Sultri.
Sebelum penembakan terjadi, dokter H dan dokter Letty sempat terlibat adu mulut di klinik tempat Letty praktik.
"Kemudian korban langsung masuk ke dalam ruangan sambil meminta tolong," ujar Kapolres Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo, kemarin.
Kemudian, salah satu karyawan menghampiri korban dan melihat pelaku membawa senjata api. Karena ketakutan, saksi menghindar. Tak lama setelah itu, saksi mendengar suara letusan senjata api sebanyak 6 kali. Pelaku kemudian kabur dengan mengendarai sepeda motor.
"Kemudian pelaku melarikan diri meninggalkan TKP. Pelaku menembak korban hingga meninggal dunia dengan gunakan senjata api," katanya.
Selang berapa saat kemudian, pelaku menyerahkan diri ke polisi. Soal senjata yang dipakai pelaku, polisi belum mengetahui jenisnya.
Polisi masih melakukan penyelidikan atas kasus ini. Namun dugaan sementara, dokter H menembak istrinya karena tak mau dicerai.
"Dugaan sementara suami tidak mau dicerai, saya kira motif awalnya itu," katanya.
Sebelumnya, aksi 'koboi' dokter mengumbar tembakan juga terjadi di Mal Gandaria City, Jakarta, Jumat (6/10) lalu. Saat itu, seorang petugas parkir Mal Gandaria City bernama Zuansyah (21) mengalami penganiayaan oleh pria yang mengendarai mobil dinas TNI, sekira pukul 20.30 WIB, di basement 2 mal tersebut.
Pria tersebut melakukan penganiayaan dan meletuskan pistol yang dibawanya ke atas setelah ditagih biaya parkir oleh korban. Dia tak terima ditagih biaya parkir karena menurutnya mobil dinas TNI tak dikenai biaya parkir.
Beberapa waktu kemudian identitas pelaku terungkap. Polisi pun berhasil menangkapnya. Pelaku bukanlah anggota TNI. Pelaku adalah pensiunan dokter di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Pelaku bernama Dr dr Anwari, SH, SpKFR, MARS, MH.
Kepada polisi, sang dokter mengaku mobil berpelat TNI itu adalah milik sang istri yang bertugas sebagai dokter di RSPAD. Soal pistol, dia mengaku diberikan oleh teman pada tahun 2000.
Dr Anwari pun mengaku menyesali perbuatannya. Pernyataan itu disampaikannya saat dipindahkan dan dibawa dari Polsek Kebayoran Lama ke Mapolres Jakarta Selatan.
"Mohon maaf saya tidak bisa menjawab pertanyaan wartawan yang baik. Saya tidak bisa menjawab. Karena sedang kalut. Jelas menyesali perbuatan itu," ucap Anwari di Polres Jaksel, Senin (9/10) lalu.
Saat itu, dia dibawa ke Polres Metro Jakarta Selatan karena tahanan di Polsek Kebayoran Lama sudah cukup banyak. Rupanya, penahanan pelaku sempat ditangguhkan. Namun, bukannya bersikap baik, sang dokter malah kembali mengulangi perbuatannya melakukan penganiayaan.
"Ya ada penangguhan. Karena pertimbangan, ya sudah ini proses penyidikannya juga sudah selesai, maksimal, sudah cukup, maksudnya begitu. Akhirnya kita lakukan penangguhan penahanan ternyata ada kejadian sekali. Makanya kami lakukan tindakan. Penahanan terhadap bersangkutan," kata Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Iwan Kurniawan di Mapolres Jakarta Selatan, Senin (30/10).
Kepolisian ternyata menerima sejumlah laporan terkait dokter Anwari. Laporan atas dokter Anwari itu diterima Polsek Pesanggrahan dan Polres Jaksel. Kasusnya hampir sama yakni melakukan penganiayaan. Namun kali ini menggunakan senapan angin.
"Ya kasusnya hampir sama melakukan penganiayaan kemudian juga menggunakan senjata angin, karena senjata apinya sudah kita lakukan penyitaan. Sekarang yang bersangkutan sedang dilakukan proses penyidikan di Polres Metro Jakarta Selatan, di Sat Reskrim," katanya.
Dia menjelaskan kasus penganiayaan tersebut terjadi di jalan dan sebuah klinik di Pesanggrahan. Korbannya adalah satpam dan ketua RT.
"Yang kemarin itu lokasinya ada di jalan ya. Yang di klinik korbannya satpam terus Ketua RT. Kan dua korban yang di Pesanggrahan itu, satu di Kebayoran Lama, satu pengerusakan LP nya dibuat di Polres. Tapi kalau yang di Pesanggrahan kemarin yang terakhir menggunakan senjata angin," katanya.
Untuk sementara, pihaknya baru mendapati dua senjata milik pelaku yakni pistol yang digunakan saat mengancam petugas parkir di Mal Gandaria City dan senapan angin. Pihaknya juga akan mengecek lebih dulu apakah diperlukan tes kejiwaan terhadap pelaku.
"Untuk laporan polisi yang sudah masuk ke kita total semuanya jumlahnya ada empat (kasus). Termasuk yang di Kebayoran Lama," katanya.
Soal motif, dia mengaku belum bisa menjawabnya. Dia menjelaskan senapan angin dibeli secara biasa oleh pelaku. Sementara, pistol sudah jelas tidak memiliki izin.
"(Dapat dari mana senjatanya?) Ya seperti yang waktu itu kita sampaikan, bahwa dia dapat dari temannya. Tetapi yang bersangkutan tidak bisa menjelaskan siapa temannya itu, karena sudah lama tahun 2000," jelasnya.
Polisi bakal menjerat dokter Anwari dengan Undang-undang Darurat. "Ya dikenakan Undang-undang Darurat," katanya Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Iwan Kurniawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (2/11).
Baca juga:
Polisi sebut dokter tembak istri hingga tewas pernah perkosa rekan kerja
Begini suasana menegangkan saat Dokter Letty ditembak suami di Cawang
Usai tembak Dokter Letty, suami bawa dua senjata rakitan ke polisi
Detik-detik Dokter Letty ditembak suami saat berada di klinik
Nasib tragis Dokter Letty 'didor' suami karena perceraian
Sempat kabur, H serahkan diri usai tembak Dokter Letty