DKI bakal garap lahan di Tangerang atasi harga cabai meroket
DKI bakal garap lahan di Tangerang atasi harga cabai meroket. Diakuinya solusi ini agak terlambat karena baru dilakukan saat harga cabai sudah terlanjur naik. Meski begitu, Sumarsono tetap optimis langkah tersebut bisa mengantisipasi lonjakan harga cabai di kemudian hari.
Sejak awal tahun, harga cabai belum juga turun. Salah satu penyebab tingginya harga cabai karena pasokannya menurun drastis dikarenakan beberapa daerah pemasok dilanda cuaca buruk sehingga banyak petaninya yang gagal panen dan tidak bisa memenuhi permintaan.
Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono, sedang memutar akal untuk mengatasi harga cabai yang tidak wajar di Jakarta. Salah satunya adalah dengan inspeksi pasar untuk meninjau harga cabai di setiap pasar.
"Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta hari ini bersama pemerintah pusat melalui Menteri Perdagangan sedang keliling di tiga tempat Priok, Senen dan Manggarai. Prinsipnya akan diselesaikan dengan mengimbangkan suplai," kata Sumarsono, di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (12/1).
Selain meninjau harga cabai di pasaran, sesuai usulan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, Pemprov juga akan mengoptimalkan semua lahan tidur menjadi perkebunan cabai.
"Penggarapan lahan tidur di Tangerang yang 11 hektare akan dipakai untuk cabai," ujar Sumarsono.
Diakuinya solusi ini agak terlambat karena baru dilakukan saat harga cabai sudah terlanjur naik. Meski begitu, Sumarsono tetap optimis langkah tersebut bisa mengantisipasi lonjakan harga cabai di kemudian hari.
"Harusnya lahan-lahan tidur di DKI dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan seperti ini. Saat ini cabai dulu saja yang kita tanam," kata Sumarsono.
Penanaman cabai akan difokuskan karena dinilai sebagai persoalan yang mendesak. Untuk pemanfaatan lahan untuk keperluan yang lain bisa dilakukan setelahnya.
"Inikan sementara, bukan lahan cabai permanen karena dia (lahan) belum digunakan jadi ditanami cabai dulu, 3 bulan lah bisa panen. Problem kita sekarang 1 tahun itu harus 120 ton suplai. Kita sekarang itu di Jakarta, Kramat Jati paling rendah 40 kemarin maksimum 70 ton. Jadi kurangnya masih separuh," tandasnya.(mdk/lia)