Disebut geng kriminal berbahaya di Pulau Dewata, Laskar Bali berang
Laskar Bali, kata Ketut Rochineng masuk dalam daftar organisasi resmi yang diakui pemerintah pada Februari tahun 2014.
Disebutkan sebagai salah satu geng berbahaya dalam situs Rocketnews24, Laskar Bali berang. Sekjen Laskar Ketut Rochineng menyebut bahwa organisasinya legal dan terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan (Ormas).
"Maaf kami bukan gangster, kami ormas resmi yang terdaftar di pemerintahan. Data dari mana menyebutkan kami gangster," bantah Ketut Rochineng, di Denpasar, Bali, Selasa (3/2).
Rochineng yang juga sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Bali ini menyebutkan bahwa Laskar Bali saat ini tidak lagi berbentuk ormas tetapi sudah sebagai bentuk organisasi politik.
"Jangan samakan kami dengan ormas-ormas lain. Kami resmi dan diakui oleh pemerintah, surat resminya ada lho. Dan kami sejalan dengan program-program Bali Mandara yang dicanangkan pemerintah Provinsi Bali," tegas Rochineng.
Menurutnya, Laskar Bali yang sering disebut LB berdiri pada tahun 2001. Sejalan dengan kegiatan dan pergerakan, dibentuklah DPC di masing-masing daerah. "AD/RT kami jelas, masing-masing daerah sudah terbentuk dan masing-masing wilayah juga ada korlap atau korlip," ungkapnya.
Laskar Bali, katanya masuk dalam daftar organisasi resmi yang diakui pemerintah pada Februari tahun 2014 lalu. "Kami mulai diakui pemerintah Februari tahun lalu. Itu karena kegiatan kami sejalan dengan progam pemerintah," akunya.
Sebelumnya, situs Rocketnews24, Selasa (2/2), melansir kabar mengejutkan. Dalam daftar yang mereka susun, Organisasi Masyarakat Laskar Bali masuk dalam kategori geng kriminal paling berbahaya di Asia.
Laskar Bali dinilai bisnis pariwisata lewat aksi memalak yang ekstrem. Situs Rocketnews pun memetakan ada lima geng besar di Pulau Dewata, tapi Laskar Bali adalah penguasanya. Rata-rata punya izin resmi dari pemerintah sebagai dengan status paguyuban keluarga besar.
"Laskar Bali menjalin banyak kontrak pengamanan dengan restoran dan kelab malam kawasan wisata di Bali. Mulai dari Kuta, Legian, hingga Seminyak, dijaga oleh anggota Laskar Bali," ungkap Amy Chavez, penulis artikel tersebut.
Ormas ini sempat pecah kongsi, menghasilkan geng Baladika yang juga fokus menjalankan bisnis pengamanan. Anggotanya mencapai 25 ribu orang.
Amy mengaku mendapatkan informasi bahwa warga lokal pun tidak suka dengan sepak terjang Laskar Bali. "Mereka sangat berkuasa," kata salah satu narasumber bernama Ketut.
Adapun pengguna jasa Laskar Bali, bernama Wayan, menilai ormas ini tidak berbahaya. Pemilik restoran di Pantai Sanur itu merasa bisnisnya aman berkat bantuan anggota laskar. Tiap bulan dia membayar jasa pengamanan senilai Rp 500 ribu. Sedangkan hotel berbintang biasanya dipatok tarif Rp 1 juta.
"Jika ada yang bikin onar di restoran kami, (Laskar Bali) bergerak lebih cepat dari polisi," ungkap Wayan.
Sedangkan dalam buku "Snowing in Bali" yang ditulis Kathryn Bonella, Laskar Bali punya bisnis kotor di balik jasa pengamanan. Ormas ini dituding memuluskan perdagangan narkoba, senjata ilegal, serta prostitusi. "Laskar Bali bisa lepas dari stigma karena setiap ada anggota berbuat onar, maka organisasi ini akan mengatakan tidak ada kaitannya," tulis Bonella.
Saking berkuasanya, Bonella menyebut polisi atau surat kabar lokal di Bali tidak akan berani mengungkap sepak terjang ormas tersebut. Selain Laskar Bali, rocketnews memasukkan nama Yakuza Yamaguchi-gumi dan Triad di Makau sebagai geng berbahaya di Asia lainnya.(mdk/hhw)