Dinas Peternakan Nabire Gencarkan Pemulihan Populasi Babi Pasca Wabah ASF
Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire memulai program pemulihan populasi babi setelah wabah African Swine Fever (ASF) yang mematikan, berupaya mengatasi kerugian peternak dan menstabilkan harga daging di wilayah tersebut.
Dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, telah mengambil langkah proaktif untuk memulihkan populasi ternak babi. Program ini dijalankan menyusul dampak parah dari wabah African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2024 hingga awal 2025.
Langkah utama yang diimplementasikan tahun ini adalah pemberian bantuan bibit babi kepada masyarakat. Inisiatif ini bertujuan untuk mengisi kembali kandang-kandang babi yang kosong akibat kematian ternak.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Perkebunan Nabire, I Dewa Ayu Dwita, menyatakan bahwa program ini merupakan upaya pemerintah daerah untuk membantu peternak yang mengalami kerugian besar. Pemulihan populasi babi diharapkan dapat menstabilkan kembali ketersediaan dan harga daging babi di pasaran Nabire.
Program Restocking Bibit Babi Prioritaskan Peternak Terdampak
Pemerintah Kabupaten Nabire memprioritaskan bantuan bibit babi bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh wabah ASF, khususnya Orang Asli Papua (OAP). Hal ini merupakan bagian dari upaya pemulihan ekonomi lokal setelah banyak peternak kehilangan sebagian besar ternak mereka.
Meskipun demikian, jumlah bantuan yang disalurkan pada tahun ini masih terbatas karena adanya efisiensi anggaran dari pemerintah pusat. Bantuan yang diberikan berupa stimulus, kemungkinan satu pasang babi jantan dan betina untuk setiap peternak yang memenuhi syarat.
Secara keseluruhan, sekitar 100 ekor bibit babi telah disiapkan untuk disalurkan kepada kelompok ternak yang memenuhi persyaratan. Program restocking ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi peternak untuk kembali mengembangkan usaha ternak babi mereka.
Pengawasan Pemotongan Ternak dan Stabilisasi Pasokan Daging Babi
Selain menyalurkan bantuan bibit, pemerintah daerah juga memperketat pengawasan terhadap pemotongan ternak babi di Nabire. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan populasi babi pasca-wabah ASF.
I Dewa Ayu Dwita menegaskan bahwa babi betina produktif tidak diperbolehkan dipotong agar proses pengembangbiakan tetap berjalan optimal. Pemotongan babi hanya diizinkan untuk babi penggemukan yang sudah layak potong, untuk memastikan populasi babi tetap terjaga.
Wabah ASF telah menyebabkan lonjakan harga daging babi di Nabire sejak November 2025, karena ketersediaan babi potong tidak sebanding dengan permintaan masyarakat. Untuk mengatasi kekurangan pasokan ini, pemerintah daerah telah membuka akses masuknya babi potong hidup dari daerah-daerah yang dinyatakan bebas ASF, seperti Biak, Serui, Sorong, dan Manokwari.
Namun, pasokan babi hidup dari daerah-daerah tersebut belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Nabire. Akibatnya, harga daging babi di pasaran masih relatif tinggi, menunjukkan tantangan dalam upaya stabilisasi pasokan dan harga.
Sumber: AntaraNews