Diisukan Pailit, PT Pos Klaim Kuasai 40 Persen Pasar Di Solo
Di tengah isu pailit tersebut, Kantor Pos Surakarta (Solo) justru mengklaim menguasai 40 persen market jasa pengiriman paket di Kota Solo. Berbagai program promosi membuat masyarakat tertarik untuk melakukan pengiriman melalui Kantor Pos Solo.
PT Pos Indonesia diguncang isu pailit alias bangkrut. Perseroan tersebut bahkan dikabarkan tidak bisa membayar gaji karyawan dan punya banyak masalah. Di tengah isu pailit tersebut, Kantor Pos Surakarta (Solo) justru mengklaim menguasai 40 persen market jasa pengiriman paket di Kota Solo. Berbagai program promosi membuat masyarakat tertarik untuk melakukan pengiriman melalui Kantor Pos Solo.
Pernyataan tersebut dikemukakan Kepala Kantor Pos Surakarta Munthoha kepada wartawan di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Gladag, Solo, Senin (2/9). Tingginya minat masyarakat tersebut dipengaruhi tarif yang murah dan layanan yang bisa menjangkau seluruh Indonesia.
"Di Solo Raya kiriman-kiriman penjualan online kita cukup besar. Porsinya sampai sekitar 40 persen. Memang banyak pesaing kita, ada JNT, JNE dan lainnya," katanya.
Menurut Munthoha, pihaknya tidak takut bersaing. Apalagi PT Pos mempunyai cabang atau jaringan yang luas hingga desa atau kecamatan. Ia menyampaikan, kontribusi terbesar berasal dari pengiriman surat dan pengiriman barang dan sisanya adalah pengiriman korporasi.
"Keseluruhan kontribusi dari surat dan barang untuk kantor kami mencapai 80 persen," jelasnya.
Meski telah menguasai pasar di Soloraya, Munthoha mengaku belum bisa 100 persen memenuhi target pendapatan. Tahun 2018 capaian target sekitar 97 persen, sedangkan di tahun 2019 ini, baru mencapai 83 pesen dari total target sebesar Rp90 miliar.
Untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, pihaknya telah melakukan penyesuaian tarif pengiriman mulai 1 September 2019. Penyesuaian tarif justru dengan penurunan tarif yang bervariasi. Yakni antara Rp3000 hingga Rp4000 per kilogram.
Selain melakukan penyesuaian tarif, lanjut Munthoha pihaknya juga memberlakukan strategi baru dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yakni dengan dua aplikasi Pos Giro Mobile dan layanan aplikasi Cash on Delivery Customer to Customer Pos (COD C2C Pos).
Aplikasi Pos Giro Mobile seperti halnya dompet digital yang nantinya bisa digunakan untuk membayar listrik, asuransi kendaraan dan lainnya. Sedangkan layanan COD C2C Pos adalah layanan untuk transaksi jual beli barang di luar marketplace yang sudah ada, atau transaksi customer to customer. Yakni penjualan barang yang dilakukan melalui media sosial.
"Kami ingin memberikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ketika masyarakat butuh layanan lengkap, PT Pos satu-satunya perusahaan kurir yang menyediakan layanan jasa pembayaran," pungkasnya.
Baca juga:
Pos Indonesia Rugi Rp30 Miliar Akibat Meterai Palsu
Pengenaan Bea Meterai Digital Tunggu Pengesahan Rancangan Undang-Undang
Cerita Menteri Rudiantara Sulap PT Pos Jadi Tempat Menabung
Kembangkan Bisnis, Pos Indonesia Siap Rambah Industri Digital
Genjot Penggunaan Meterai Asli, Pos Indonesia Gelar Acara Penghargaan
Pulihkan Kinerja Keuangan, PT Pos Indonesia Diminta Transformasi Bisnis