Didera air keruh, warga di Banyumas gelar ritual Caos Atur Gandha Arum
Didera air keruh, warga di Banyumas gelar ritual Caos Atur Gandha Arum. Warga melakukan larung sesajen salah satunya menyembelih entok (itik) dan dihanyutkan persis di bawah air terjun Cipendok.
Masyarakat Cilongok menggelar ritual Caos Atur Gandha Arum usai didera keruhnya aliran sungai Prukut, Sabtu (7/10). Warga melakukan larung sesajen salah satunya menyembelih entok (itik) dan dihanyutkan persis di bawah air terjun Cipendok.
Ritual tersebut dilakukan sebab masyarakat dihadapkan putus asa setelah dilanda persoalan air keruh yang terjadi berkali-kali sejak awal tahun 2017. Aliran sungai Prukut memang tak lagi bening dan multiguna berdampak luas bagi warga di lima desa Kecamatan Cilongok yakni Karangtengah, Panembangan, Pernasidi, Karanglo dan Cikidang.
Sedang keindahan alam unggulan kecamatan Cilongok pun nampak tak elok. Curug (air terjun) Cipendok menumpahkan lumpur membuat batang-batang pohon serta daun-daun di sekitarnya diselimuti debu.
Koordinator pengelola Curug Cipendok, Kusharto mengatakan, ritual diselenggarakan untuk menggugah persoalan air keruh dengan pendekatan kebudayaan. Sebelum ritual sikap nelangsa dan kebingungan warga digambarkan dalam bentuk teatrikal dimana petruk, gareng, bawor yang menyimbolkan rakyat kecil mencari-cari semar sang pamomong. Mereka mengadukan keluh kesah air yang mengalir bercampur lumpur mematikan usaha perekonomian mereka.
"Alam tidak bisa dihobongi. Semua ini terjadi karena ulah manusia. Kami warga Cilongok nelangsa," kata Kusharto ditemui Merdeka.com di kawasan Curug Cipendok.
Di sisi wisata sendiri, keruhnya air membuat keindahan alam unggulan Cilongok minim dikunjungi. Kusharto mengatakan, setidaknya dari Januari-September, ia kehilangan kurang lebih 10.000 pengunjung. Menurut dia, penghasilan Rp 100 juta pun menghilang.
"Rata-rata kunjungan 45.000 selama 5 tahun terakhir. Karena 1 tahun ini kerap keruh, baru tembus 35.000 pengunjung," katanya.
Keprihatinan air keruh juga melanda salah satu seniman di Banyumas, Titut Edi Purwanto. Ia pun tergerak melakukan performing art ruwat air bertajuk Gara-gara Geger Moer pada Sabtu (7/10) demi mengingatkan bahwa sebaik-baiknya pemanfaatan alam tak boleh merugikan banyak orang demi satu kepentingan. Di pertunjukan ini digambarkan masyarakat bingung dan mencari-cari jawaban sebab keruhnya aliran sungai prukut.
"Jawaban itu simpang-siur. Masyarakat makin bingung kehilangan pegangan," katanya.
Keruhnya sungai prukut memang jadi pusat perhatian banyak kalangan setelah sisa pembukaan lahan (cut and fill) Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden mengalami longsor karena cuaca buruk.
Tak terhindarkan longsoran menggelontorkan massa sedimen dalam jumlah besar ke hulu sungai Prukut pada awal tahun 2017 dan terulang untuk kedua kali pada akhir Juli 2017 kemarin. Keruhnya air kembali terjadi sejak awal september ini.
Baca juga:
Tuntut air bersih, warga rusak kantor Bupati Muratara dan blokir Jalinsum
Pipa PDAM rusak, Warga Kota Bogor kesulitan pasokan air bersih
55 Desa di Sukabumi alami krisis air bersih
3,9 juta rakyat Indonesia terdampak kekeringan, butuh air bersih
Puncak kemarau diprediksi Oktober, petani di NTT mulai was-was
28.000 Warga di Cilacap rawan terdampak kekeringan dan air bersih
Kekeringan di Cibarusah, warga keluhkan bantuan air bersih