Di Sunda, gerhana dimaknai kegalauan antara bumi dan matahari
Gerhana dalam budaya sunda disebut samagaha, sebuah kegalauan yang terjadi dalam setiap rasa.
Fenomena gerhana matahari yang terjadi hari ini Rabu (9/3), menjadi perhatian publik di berbagai daerah di Tanah Air. Tak terkecuali di Purwakarta, Jawa Barat.
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menuturkan dalam budaya Sunda, gerhana matahari dimaknai sebagai bentuk kegalauan alam.
"Gerhana dalam budaya sunda disebut samagaha, sebuah kegalauan yang terjadi dalam setiap rasa. Peristiwa itu merupakan kegalauan antara bumi dan matahari," kata Dedi di Taman Maya Datar Purwakarta, Rabu (9/3).
Disinggung terkait kebiasaan masyarakat Sunda pada masa lalu, selalu melakukan ritual ketika terjadi gerhana, ditepis oleh Dedi. Dia menyatakan dalam pandangan masyarakat Sunda ketika ada fenomena alam seperti itu, lebih mengedepankan untuk bertafakur.
"Kalau ada kebiasaan saat gerhana orang hamil harus bersembunyi, itu tidak ada kaitannya dengan kebiasaan orang Sunda," ujar Dedi.
Dedi menjelaskan hanya saja ketika ada kebiasaan serupa, itu merupakan bentuk ilmiah karena ditakutkan akan berdampak pada faktor psikologi sang ibu dan janinnya.
"Karena jika orang hamil itu dikhawatirkan pikiran dan perasaannya mudah terpengaruh, sehingga bahaya terhadap janinnya. Kalau berbicaranya sekarang, itu sangat ilmiah namun orang tua dulu tidak bisa menjelaskannya," ujar bupati yang sekaligus sebagai budayawan Sunda itu.
Dedi menyatakan jika terjadinya gerhana merupakan fenomena alam, karena matahari sebagai sumber energi dihalangi oleh bulan.
"Karena matahari sebagai sumber energi, itu dihalangi sejajar dengan bulan yang merupakan pemancar energi," pungkas Dedi.
Baca juga:
Adu balap para nelayan Belitung usai gerhana matahari
Demi menanti gerhana matahari, warga Minahasa Utara rela berkemah
Bicara soal gerhana, Gus Ipul bercerita tentang Batara Kala
Di Manggar, gerhana bisa kalah oleh kopi
Perangko edisi gerhana matahari seharga Rp 100.000 laris manis