Deru Ombak dan Cerahnya Cuaca di Lokasi Kecelakaan Sriwijaya Air SJ182
Aktivitas di dalam KRI Semarang tak terlalu padat. Maklum, di KRI ini khusus untuk membawa tim medis regu penyelam. Tampak beberapa personel melakukan pemantauan kondisi di lokasi perairan.
Kondisi cuaca di sekitar perairan laut Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu tampak cerah berawan, Senin (11/1). Deru ombak tak terlalu kencang, namun cukup tinggi. Di sini ratusan orang berjibaku melakukan evakuasi korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ182.
merdeka.com bersama sejumlah Tim SAR ikut menyaksikan proses evakuasi dengan menggunakan KRI Semarang.
Sekitar pukul 15.15 WIB, tampak sejumlah kapal maupun sekoci (perahu karet) yang tersebar di sejumlah titik lokasi sekitar perairan Pulau Laki. Sekoci ini digunakan tim penyelam untuk mencari puing pesawat serta penumpang Sriwijaya Air.
Selain itu, terlihat beberapa helikopter yang lalu lalang melakukan pencarian via udara.
Aktivitas di dalam KRI Semarang tak terlalu padat. Maklum, di KRI ini khusus untuk membawa tim medis regu penyelam. Tampak beberapa personel melakukan pemantauan kondisi di lokasi perairan.
©2021 Merdeka.com/bachtiar
KRI Semarang dilengkapi dengan Alat Mobile Hyperbaric Chamber yang digunakan untuk memulihkan kondisi para penyelam. Alat tersebut berbentuk seperti tabung yang ditempatkan pada sebuah mobil truk di geladak bawah kapal.
Sampai dengan saat ini, KRI Semarang hanya mengitari lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya di sekitar laut Laki dan Lancang, sejak tiba pada pukul 13.37 Wib. Dan belum ada tim penyelam yang dievakuasi ke kapal ini.
Sementara, dari kejauhan juga terlihat Kapal Republik Indonesia (KRI) Rigel-933 yang dikelilingi sejumlah sekoci. Walaupun belum terlihat jelas aktifitas yang dilakukan di kapal tersebut. Hanya terlihat sejumlah personil memakai pakaian hitam di beberapa sekoci.
©2021 Merdeka.com/bachtiar
KRI Rigel 933 merupakan kapal yang pernah meraih prestasi dengan berhasil menemukan kotak hitam atau black box pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang pada 2018 lalu.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksmana Pertama TNI Julius Widjojo menyampaikan, pihaknya akan menyiapkan sejumlah kapal untuk melakukan pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh pada Sabtu (9/1).
Kata dia, kapal yang dikerahkan seperti KRI Teluk Gili Manuk (onboard Tim Kopaska), KRI Kurau, KRI Parang, KRI Teluk Cirebon, KRI Tjiptadi, KRI Cucut -866, KRI Tengiri. Lalu ada pula, dua Sea Rider Kopaska serta dua kapal Tunda yakni TD. Galunggung dan Malabar.
“Tambahkan KRI Rigel 933 deteksi 3D (dikerahkan untuk pencaharian Sriwijaya), yang sukses saat Lion Air (jatuh 2018),” kata Julius.
Lanjut dia, kapal Rigel mempunyai sinar yang dapat membantu dalam mencari bangkai pesawat. Kemudian pihaknya juga menyiapkan Heli Nbell 412 EP HU 4205 onboard KRI Bontang posisi sandar dermaga JICT Jakarta.
Mencari Kotak Hitam
Lebih lanjut, Tim penyelam TNI AL akan memfokuskan diri mencari kotak hitam atau black box Sriwijaya Air SJ-182 di dua titik yang sudah dipetakan KRI Rigel-933.
"Titik itu sudah kita tandai sejak semalam oleh KRI Rigel, hari ini sudah dilakukan penyelaman," kata Panglima Komando Armada I Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid dari KRI Rigel-933 di Perairan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Senin (11/1).
Rasyid memaparkan, tim penyelam yang bertugas terdiri dari 14 orang dari Batalyon Intai Ambfibi (Yontaifib) Mainir, 13 orang dari Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska), 17 orang dari Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Koarmada, dan 13 orang dari Detasemen Jalamangkara (Denjaka).
Tim penyelam juga diperkuat dengan penggunaan Remotely Operated Vehicle (ROV) yang dikendalikan dari KRI Rigel-933.
"Hari ini kita dapat signal cukup jelas dari kotak hitam Sriwijaya Air. Semoga secepatnya bisa kita dapatkan," harap Rasyid.
Pesawat Sriwijaya Air bernomor register PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak pada Sabtu (9/1) pukul 14.40 WIB dan jatuh di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Pesawat jenis Boeing 737-500 itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.
Pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta pukul 14.36 WIB. Jadwal tersebut mundur dari jadwal penerbangan sebelumnya 13.35 WIB. Penundaan keberangkatan karena faktor cuaca.
Berdasarkan data manifest, pesawat yang diproduksi tahun 1994 itu membawa 62 orang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru. Dari jumlah tersebut, 40 orang dewasa, tujuh anak-anak, tiga bayi. Sedangkan 12 kru terdiri atas, enam kru aktif dan enam kru ekstra.
Keberadaan pesawat itu tengah dalam investigasi dan pencarian oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Koordinasi langsung dilakukan dengan berbagai pihak, baik Kepolisian, TNI maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
(mdk/rnd)