Derita nenek Tetty dibuang anak hingga tidur di poskamling
Pepatah surga di bawah telapak kaki ibu tak berlaku bagi anak-anak nenek Tetty.
Pepatah surga di bawah telapak kaki ibu tak berlaku bagi anak-anak nenek Tetty (78). Bayangkan, anak-anaknya dengan tega tak merawat sang Ibu di sisa umurnya. Bahkan, ketiga anak perempuannya tak segan memukulinya karena kesal memiliki ibu seperti Tetty. Perumahan Griya Rejo Indah PGRI di Dusun Japunan, Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tak ubahnya sebagai sebuah permukiman dan perumahan umum biasa. Namun di pos keamanan lingkungan (poskamling) di RT 10 RW 18, tinggal seorang nenek renta. Nenek Tetty mengaku biasa tidur hanya beralaskan triplek yang dilapisi kardus untuk sekadar menghangatkan. Bantalnya, berupa gulungan-gulungan koran bekas. Sementara gulungan kasur kapuk miliknya hanya dipakai untuk melindungi tubuh dari terpaan angin saat malam hari datang. Ketua RT tempat Nenek Tetty tinggal, Soetono mengaku sudah mengadukan keberadaan Tetty kepada Kepolisian Sektor Mertoyudan hingga Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Transmigrasi (Disnakesostrans) Kabupaten Magelang, tetapi belum ada kejelasan hingga saat ini. Nenek Tetty mengenang masa jayanya beberapa tahun silam ketika menjadi agen teh merek terkenal, dan memiliki dua buah kios kelontong di Kota Magelang. Namun keadaan berbalik setelah musibah kebakaran melanda kios miliknya. Nenek Tetty bangkrut dan menjual rumahnya.
Kini, nenek Tetty hidup mengenaskan tinggal di Poskamling di Perumahan Griya Rejo Indah PGRI Dusun Japunan, Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. AJ Soetono (64), Ketua RT 10 Perumahan Griya Rejo Indah PGRI menjelaskan bahwa Nenek Tetty sudah tiga bulan tinggal di bekas poskamling perumahan setempat.
Pihaknya pernah beberapa kali menghubungi salah satu anaknya yang tinggal di Karanggading Kota Magelang. Namun, mereka hanya berjanji akan menjemput dan sampai saat ini Nenek Tetty belum juga dijemput anak kandungnya.
"Kami kasihan dengan Nenek Tetty, dia sudah sepuh (lansia), kami khawatir dia sakit, padahal musim hujan begini," kata Soetono.
Berikut kisah sedih nenek Tetty yang dibuang anaknya hingga tidur di poskamling:Nenek Tetty tidur di poskamling beratap seng dan tanpa penutup
Padahal, bangunan beratap seng dan tanpa penutup itu sangat jauh dari kata layak. Bersama dengan sang nenek, terdapat sejumlah bungkusan plastik kresek berikut sebuah kasur yang diikat serta dilapisi tikar.
Dengan ukuran bangunan 3 meter x 3 meter tersebut, Nenek Tetty (78), demikian panggilan akrab seorang ibu berumur 78 tahun itu, tak bisa berbuat banyak dalam melakukan aktivitas.
"Setiap hari saya tidur di sini. Kasurnya tidak saya pakai karena sayang takut kalau kotor karena atapnya bocor setiap hujan. Kalau mau mandi, buang air dan lainnya, saya ke masjid," ujar Nenek Tetty kepada merdeka.com, Magelang, Sabtu (21/3).Tidur hanya beralaskan triplek dan koran
Nenek Tetty mengaku selama tinggal di poskamling itu, warga sekitar cukup baik kepadanya. Sesekali ada warga yang belas kasihan memberi makanan dan minuman ataupun uang sekadarnya.
"Makannya dikasih sama ibu-ibu yang baik hati. Ini saya sekarang belum makan sama sekali karena yang biasanya memberi lagi sakit. Saya doakan saja semoga lekas sembuh," terang nenek Tetty kepada merdeka.com, Sabtu (21/3).Pemkot setempat cuek dengan keadaan Nenek Tetty
"Kami sudah lapor, petugas sudah survei ke sini, tetapi belum ada tindakan apapun sampai sekarang. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah," katanya.
Soetono berharap, pemerintah dan polisi peduli dengan nasib Nenek Tetty yang diterlantarkan oleh anak kandungnya sendiri. Apalagi dengan cara dianiaya kemudian diusir.
Sesuai dengan pasal 34 UUD 1945 yang disusun oleh para pahlawan dan merupakan founding father Indonesia, bahwa negara berkewajiban untuk mengurusi fakir miskin dan anak-anak terlantar.Ditipu, diusir dan ditelantarkan anak
Namun nahas, uang hasil menjual rumah amblas ditipu seseorang. Nenek Tetty kemudian tinggal bersama satu-satunya anak laki-laki bernama Heru. Mereka mengontrak rumah di Perumahan Griya Rejo Indah.
Tetapi karena tidak mampu membayar biaya kontrakan, Nenek Tetty diusir. Sedangkan sang anak, Heru, pamit hendak mencari pekerjaan namun justru meninggalkannya entah ke mana.
"Setelah itu saya diantar ke rumah anak bungsu saya di Karanggading (Kota Magelang) tetapi saya enggak betah, saya disia-sia, saya dipukuli. Padahal seumur hidup, saya tidak pernah diperlakukan seperti itu, bertengkar dengan tetangga juga tidak," ungkap Nenek Tetty.
Merasa tertekan dan tidak betah tinggal dengan anak bungsunya, Nenek Tetty lalu memutuskan untuk mencari Heru.
"Saya berharap bisa bertemu anak laki-laki saya (Heru), saya cuma cocok dengan dia, saya ingin bertemu dia. Heru... Ibu kangen kamu nak. Ke sini yah, ibu terlantar di sini!" ucap Nenek Tetty sambil menangis.
Tapi, sejak pamit hendak mencari kerja, warga tidak pernah mendengar kabar keberadaan Heru hingga sekarang. Karena kasihan, warga perumahan kemudian membiarkan Tetty tinggal setiap hari di bekas poskamling yang tidak dipakai.
"Di sini kalau siang sangat panas, kalau malam sangat dingin, atapnya bocor-bocor kalau hujan susah mas," ujar Nenek Tetty.