Deretan tempat prostitusi yang disulap jadi tempat ibadah
Di Indonesia sendiri terhitung cukup banyak masyarakat yang berprofesi sebagai PSK.
Sejak zaman dahulu kala ternyata prostitusi sudah merajalela. Saat itu, manusia telah menukar uang dan barang dengan melakukan hubungan seksual selama ribuan tahun.
Di Indonesia sendiri terhitung cukup banyak masyarakat yang berprofesi sebagai PSK, terlihat dari banyaknya tempat prostitusi yang sempat marak belakangan ini. Namun dari maraknya tempat prostitusi tersebut para pemerintah setempat tidak tinggal diam.
Mereka menyulap kotanya menjadi kota yang lebih baik dan bermartabat, mulai dari tempat belajar mengajar hingga menjadi tempat ibadah.
Berikut tempat-tempat prostitusi yang disulap menjadi tempat ibadah:
Kelurahan Dadap, Tangerang
Forum Komunikasi Pimpinan Daerah bersama pemerintah Kabupaten Tangerang kabarnya telah membahas rencana penertiban bangunan lokalisasi prostitusi di Dadap, Kosambi Kabupaten Tangerang.
Tidak hanya pemerintah yang turun tangan, masyarakat juga turut serta membantu pemerintah agar penertiban tersebut dapat berjalan lancar dan benar-benar terhindar dari permasalahan prostitusi.
Ahmed Zaki Iskandar, Bupati Tangerang mengatakan, target pemerintah untuk melakukan penertiban lokalisasi prostitusi tersebut akan bersih di tahun 2016.
"Semua elemen harus dilibatkan dalam prosesnya nanti, jangan sampai terjadi reaksi dari penghuni lokalisasi" Ujarnya kepada merdeka.com, Kamis (3/12).
Zaki mengimbau kepada semua pihak terkait agar melakukan sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat sehingga penghuni lokalisasi tersebut dapat mengetahui dengan jelas tujuan dan maksud pemerintah. Ia juga memaparkan, tempat bekas lokalisasi tersebut akan dibangun sebuah tempat ibadah yaitu masjid raya dan Islamic Center sebagai kebutuhan utama sarana keagaman masyarakat.
Kramat Tunggak, Jakarta Utara
Dulu, Lokalisasi Kramat Tunggak merupakan lokalisasi terbesar di Jakarta. Lokalisasi di wilayah Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, saat itu diisi lebih dari 2.000 orang PSK yang dikendalikan oleh 285 mucikari pemilik rumah bordil.
Kampung ini dikabarkan sempat rusak akibat pernah terjadi kasus bayi yang dibuang kemudian dijual oleh warga sekitar. Kemudian, banyak dari warga sekitar yang berprofesi menjadi pekerja seks komersial.
Dulu moral warga di sekitar lokalisasi hancur lebur. Sebagian PSK tidak dapat kos di kawasan lokalisasi, sehingga tinggal bercampur dengan warga. Mereka memberikan keuntungan ekonomi karena langganan makan dan cuci baju pada warga sekitar. Karena itu kehadiran para PSK malah disambut baik oleh warga.
Sejak saat itu, Kramat Tunggak selalu berdenyut suara musik dangdut, banyak minuman beralkohol hingga rayuan para lelaki hidung belang.
Namun itu dulu, saat ini sejak Zaman kepemimpinan Sutiyoso, Lokalisasi Kramat Tunggak Jakarta Utara telah berubah. Kramat Tunggak telah disulap menjadi Jakarta Islamic Center dengan arsitektur gapuranya yang megah ala Eropa.
Saritem, Bandung
Sejarah adanya tempat prostitusi Saritem, Bandung juga tidak lepas dari sejarah penjajahan Belanda pada kala itu. Tempat prostitusi Saritem mulai berdiri sejak tahun 1838.
Saat itu, ada seorang gadis bernama Saritem. Saritem adalah seorang pedagang Jamu yang cantik, berhidung mancung dan berkulit putih. Kecantikannya membuat pembesar Belanda tertarik dan menjadikannya selir. Dia pun resmi menjadi nyonya Belanda dan sering dipanggil Nyi Saritem.
Sejak itu, Nyi Saritem sering diminta oleh para serdadu Belanda untuk mencarikan gadis cantik untuk memenuhi hasrat seksualnya. Tidak hanya dari Bandung, Saritem juga mengumpulkan gadis-gadis dari Cianjur, Sumedang, Garut, dan Indramayu. Sejak itu nama Saritem mulai tersohor hingga kini.
Banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Bandung untuk menertibkan lokalisasi tersebut. Hingga di tahun 2007, saat kepemimpinan Dada Rosyada, Saritem telah ditertibkan, bahkan telah disulap menjadi sebuah sekolah agama, yakni pesantren Daruttaubah.