Deretan pasukan elite penebar teror bak 'malaikat maut'
Saat mereka turun, para bandar pun ketakutan melihatnya. Siapa saja mereka?
Pemerintahan Filipina di bawah kepemimpinan Presiden Rodrigo Duterte kini tengah gencar memburu para kartel narkoba. Perintah langsung diberikan oleh presiden, tak hanya kepada aparat keamanan negara itu, tapi juga seluruh rakyatnya.
Sesaat setelah menduduki jabatannya, Durterte langsung menyatakan perang terhadap bandar narkoba. Tak hanya itu, dia juga menjanjikan hadiah bagi warga sipil yang berani menangkap atau membunuh buruannya, tentunya jika dianggap melawan.
Alhasil, dalam waktu singkat seluruh markas sang kartel diserbu, baik oleh rakyat, pasukan paramiliter bahkan ormas setempat. Korban pun berjatuhan, kebanyakan yang tertangkap merupakan bandar kecil, tapi itu tak membuat massa mengurungkan niatnya.
Yang lebih sadis lagi, bandar-bandar itu harus mengalami penyiksaan sebelum merenggang nyawa.
Perang terhadap narkoba ini juga melibatkan pasukan elite di kepolisian, mereka adalah Special Action Force atau disingkat SAF. Selain menanggulangi terorisme, satuan ini juga banyak menjalani medan pertempuran di selatan Filipina, termasuk melawan Abu Sayyaf.
Saat berada di medan tempur, mereka bertindak layaknya sang malaikat maut, bergentayangan mencari musuh. Kini, medan yang dihadapi bukan hanya selatan Filipina, tapi juga pusat kota, termasuk Manila sendiri. Para kartel kini tengah menjadi buruan besar-besaran.
Tidak terhitung jumlah penggerebekan yang mereka lakukan, baik yang ditangkap dalam keadaan hidup maupun hanya tinggal jasadnya saja.
Di Brazil sendiri, peredaran narkoba dan berkuasanya para kartel telah meresahkan masyarakat. Mereka tak segan membunuh atau menyiksa warga yang dianggap sebagai penghalang berlangsungnya bisnis haram tersebut.
Untuk mengatasi aksi brutal para kartel tersebut, kepolisian Rio De Janeiro telah membentuk satuan khusus. Satuan ini diberi nama Batalion Operasi Khusus Polisi atau bahasa aslinya Batalhao de Operacoes Policiais Especiais atau disingkat BOPE.
Mereka inilah yang kerap diterjunkan untuk melakukan penyerbuan ke lokasi persembunyian bos kartel narkoba. Tak jarang, dalam menjalankan tugasnya mereka juga diadang warga sekitar. Meski begitu, pasukan elite ini dibebaskan untuk membunuh targetnya, jika dianggap membahayakan.
Cikal bakal BOPE dimulai dengan berdirinya Pusat Operasi Khusus (NuCOE) pada 19 Januari 1978 lalu. Tim elite ini dibentuk sebagai respons atas kasus penyanderaan di Penal Institute Evaristo de Moraes. Untuk menambah sangar, pasukan elite ini mendapatkan logo tengkorak, dua pistol dan sebuah pisau, yang memiliki arti 'kemenangan atas kematian'.
Saat menjalankan tugasnya, pasukan ini dilengkapi kendaraan lapis baja, di antaranya bernama Pacificador (Pencipta Kedamaian), atau Caveirao (Tulang Besar) dan satu helikopter UH-1 Huey. Kendaraan itu dipakai setiap mereka menjalankan operasi di daerah kumuh, ketika berhadapan dengan tentara bayaran kartel narkoba yang dilengkapi senjata berat. BOPE juga memiliki bulldozer untuk menghancurkan pengadang, barikade dan blokade jalan.
Masalah kartel narkoba juga menjadi masalah di Meksiko. Di negeri ini para penjahat tak hanya mengincar warga sipil, tapi juga pejabat pemerintah, polisi bahkan jurnalis. Untuk menghadapinya, Presiden Felipe Calderon mengumumkan perang terhadap seluruh bandar narkoba pada 11 Desember 2006.
Perang ini sebenarnya sudah dimulai sejak era Presiden Vicente Fox pada awal tahun 2000-an. Salah satu yang terlibat adalah Grupo de Operaciones Especiales yang berarti Grup Operasi Khusus yang disingkat GOPES. Mereka bekerja sama dengan Marinir untuk membasmi para kartel narkoba.
Bagaimana dengan Indonesia?
Baca juga:
Video: 4 Pasukan elite dunia ini tampil dengan topeng menyeramkan
Membandingkan kemampuan Kopassus dengan pasukan elite Australia SASR
Pasukan Katak Malaysia: Jangan macam-macam dengan kami
Ini sosok tentara Australia yang diklaim paling hebat di negerinya
Gilanya militer Rusia didik pasukan elite Spetznaz