Demo sengketa lahan di Ubud, warga bawa spanduk gambar Raja Salman
Diperpanjangnya waktu libur rombongan kerajaan Arab Saudi di Bali, tidak hanya jadi momen ajang promosi Pariwisata di Bali. Ini juga dipakai kekuatan bagi warga di Ubud, Bali, menggelar aksi demo di kantor BPN Gianyar, Jumat (10/3).
Diperpanjangnya waktu libur rombongan kerajaan Arab Saudi di Bali, tidak hanya jadi momen ajang promosi Pariwisata di Bali. Ini juga dipakai kekuatan bagi warga di Ubud, Bali, menggelar aksi demo di kantor BPN Gianyar, Jumat (10/3).
Dengan membentangkan sepanduk bergambarkan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, warga sebagian besar ibu-ibu ini menggelar aksi damai menuntut haknya atas penggarap tanah seluas 50 herkar lebih di subak Tegal Jambangan, Ubud Gianyar Bali.
Entah apa tujuannya membawa spanduk bergambar Raja Salman. Namun, pada spanduk dengan dasar warna merah itu bertuliskan "Hormat kami kepada : yang mulia Sri Baginda Raja Salman bin abdulaziz al Saud. Raja yang adil, arif & bijaksana. Tidak pernah: Nyusahkan, meresahkan, apalagi merampas tanah-tanah rakyat."
Pada intinya kedatangan mereka ke kantor BPN di Gianyar, guna mempertanyakan sertifikat ganda hingga seringnya menerima intimidasi pihak ketiga. Mereka sebagian mengakui atas hak penggarapan tanah tersebut sejak tahun tahun 1963. Meski begitu, aksi demo ini berjalan tertib.
"Adanya sertifikat ganda membuat warga resah karena terus mendapat intimidasi. Menyusul dilakukan pengukuran atas terbitnya sertifikat ganda atas dasar konversi yang diterbitkan BPN setempat. Padahal mereka sudah memiliki sejak zaman leluhur pendahulu sebelumnya," ungkap Penasihat Hukum Warga tegal Jambangan, Gede Putu Arsana.
Merasa tidak puas dengan jawaban pihak BPN, puluhan warga kembali berjalan menuju gedung DPRD Gianyar. Soal adanya spanduk Raja Salman, kata dia, dimaksudkan warga sebagai simbolisasi raja bijak dan tidak menyusahkan rakyatnya.
"Tidak seperti yang mereka alami, justru tanah yang sudah ditempati sejak zaman kerajaan, kini dirampas," terangnya.(mdk/ang)