LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Demi menyambung hidup, nenek Sita semangat jadi juru parkir

Nenek Sita merasa lebih senang bekerja ketimbang berdiam diri di rumah.

2016-04-21 16:15:36
Hari Kartini
Advertisement

"Terus, terus!" Begitu teriakan seorang wanita tua saat mengatur mobil akan keluar dari sebuah minimarket, di Simpang Sekip, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang. Suaranya terdengar, lantang meski giginya sudah ompong.

Dia adalah Asitawati, atau kerap disapa Sita. Nenek berusia 76 tahun itu saban hari mencari nafkah sebagai juru parkir di deretan empat ruko sepanjang 20 meter itu.

Begitu mobil melaju, nenek Sita kembali duduk di kursi di depan toko. Sesekali dia menyeka keringat di wajahnya karena terik matahari cukup menyengat.

Saat nenek Sita istirahat, merdeka.com mengajaknya berbincang. Sambil tersenyum, janda ditinggal wafat suaminya lima tahun lalu itu bersedia menceritakan kisah hidupnya, hingga berakhir menjadi juru parkir.

"Sudah sepuluh tahun nak ngurus parkir. Dari dulu cuma di sini saja," kata nenek Sita kepada merdeka.com, Kamis (21/4).

Ibu tujuh orang anak itu mengaku menggeluti pekerjaan itu, lantaran tak betah tinggal di rumah sejak ikut anaknya yang menikah dengan orang Palembang. Sebelumnya, dia tinggal di Tanjung Sejaro, Kecamatan Indralaya, Ogan Ilir, sebagai petani. Dia tak kuat lagi berkebun karena badannya mulai lemah.

Dibantu menantunya, nenek Sita mendaftarkan diri ke Dinas Perhubungan Palembang buat menjadi juru parkir. Surat izin resmi pun dikantonginya sehingga dia memulai pekerjaan itu.

Setiap hari, nenek Sita berangkat ke lokasi parkir pukul 08.00 WIB. Sekitar pukul sepuluh malam, nenek Sita pulang ke rumah dijemput salah satu cucunya.

"Tadinya ikut anak saja, dia nikah sama orang sini. Tak betah juga tinggal di rumah," ujar nenek Sita.

Sepuluh tahun lalu, kata nenek Sita, tarif parkir motor hanya Rp 300, sementara roda empat Rp 500. Per hari, nenek Sita harus menyetor Rp 1.500. Saat itu, nenek Sita berhasil mengantongi penghasilan bersih Rp 15 ribu per hari.

Beberapa tahun terakhir, pendapatan nenek Sita bertambah berkisar Rp 50 ribu, seiring naiknya tarif parkir ditetapkan pemerintah. Namun, setorannya juga ikut naik menjadi Rp 23 ribu setiap harinya.

Nenek Sita mengaku sangat bersyukur dengan rezeki diterimanya. Uang itu cukup buat menyambung hidup dan membayar kontrakan seharga Rp 500 ribu per bulan, dihuninya bersama dua cucunya di Lorong Langgar, Kelurahan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang.

"Kadang ada yang tidak bayar, kadang kasih lebih. Alhamdulillah, itu rezeki saya. Cukuplah untuk bayar kontrakan sama kasih jajan cucu-cucu," ucap nenek Sita.

Di sisa umurnya, nenek Sita hanya berharap pekerjaannya itu tetap diizinkan pemerintah. Sebab, tak ada lagi pekerjaan layak dilakukannya kecuali mengumpulkan uang dari pengendara memarkirkan kendaraannya.

"Mudah-mudahan saya sehat, panjang umur, biar bisa kerja terus. Cuma ini buat cari uang. Jangan digusur karena saya punya suratnya jadi tukang parkir," tutup nenek Sita.

Advertisement

Baca juga:
Kartini dari timur tetap mengajar walau honor tak dibayar 3 tahun
Rita Suwanda, 'Kartini' melanglang buana berbekal pencak silat
Seniman cantik ini sulap wajahnya jadi RA Kartini
Maestro keroncong Waljinah dapat penghargaan di Hari Kartini
Hari Kartini, istri Ridwan Kamil rappelling dari ketinggian 20 meter

(mdk/ary)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.