LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Darurat Alat Pelindung Diri Buat Dokter dan Perawat Pasien Corona

Tenaga medis sedang berjuang menyelamatkan nyawa ratusan pasien terinfeksi Covid-19. Dalam perjuangan mereka, setidaknya sudah ada enam dokter gugur dalam upaya menyelamatkan para pasien corona.

2020-03-23 14:38:17
Corona di Indonesia
Advertisement

Tenaga medis sedang berjuang menyelamatkan nyawa ratusan pasien terinfeksi Covid-19. Dalam perjuangan mereka, setidaknya sudah ada enam dokter gugur dalam upaya menyelamatkan para pasien corona.

Lebih ironis lagi, mereka meninggal karena tertular virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China itu. Satu di antaranya gugur karena kelelahan.

Mereka terpapar saat menangani pasien Covid-19 tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai. Sebagian besar mereka bukan petugas medis di rumah sakit rujukan pasien novel coronavirus.

Advertisement

Saat ini, tenaga medis masih memiliki keterbatasan APD sehingga berpotensi terjangkit Covid-19 sangat besar. Sudah saatnya pemerintah bergerak cepat. Pemerintah harus segera mendistribusikan APD kepada tenaga medis.

Sesuai Standar WHO

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Mohammad Adib Khumaidi mengatakan, tenaga medis membutuhkan alat proteksi diri sesuai standar World Health Organization (WHO) atau organisasi kesehatan dunia. Mulai dari masker sampai baju pelindung.

Advertisement

Alat pelindung diri ini jangan hanya didistribusikan kepada rumah sakit rujukan Covid-19. Tetapi juga rumah sakit non-rujukan, klinik hingga puskesmas.

"Front liner yang menerima kasus pasien pertama kan bukan hanya rumah sakit rujukan, tapi bisa juga di klinik kasus mandiri, dokter praktik atau rumah sakit-rumah sakit yang bukan rujukan," ujarnya, Senin (23/3).

Adib menuturkan, selain menjadi garda terdepan menangani pasien terinfeksi, tenaga medis juga merupakan orang pertama yang berpotensi terjangkit Covid-19. Sebab, mereka yang berhadapan langsung dengan pasien yang sedang sakit.

Karena itu, pemerintah harus memproteksi seluruh tenaga medis. Langkah ini bukan hanya menyelamatkan nyawa dokter atau perawat melainkan seluruh rakyat Indonesia.

"Ini bukan melindungi dokternya saja, tapi ini melindungi masyarakat. Karena bukan tidak mungkin dokternya atau perawat atau tenaga kesehatan lain dia juga akan berinteraksi dengan pasien yang lain atau masyarakat bahkan keluarga," ucap dia.

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Agus Dwi Susanto juga menyampaikan hal sama. Dia mendorong pemerintah mendistribusikan APD kepada seluruh rumah sakit.

Agus menekankan, pendistribusian APD jangan hanya ditujukan kepada sejumlah rumah sakit rujukan pasien Covid-19. Sebab, tenaga medis yang rentan terjangkit berada di rumah sakit non-rujukan.

"Sebagian besar kasus tenaga medis yang terkena bukan di rumah sakit rujukan Covid. Perilaku penggunaan APD dan ketersediaan APD juga harus di rumah sakit non rujukan," kata dia.

Di tengah jumlah kasus Covid-19 terus bertambah, alat pelindung diri (APD) baik masker dan baju pelindung tenaga medis semakin menipis. Di RSUD Kayu Agung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) misalnya.

Tenaga medis rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Sumatera Selatan ini terpaksa memakai baju operasi bekas yang dicuci ulang sebagai ganti baju pelindung. Lantaran stok ADP sangat minim. Direktur RSUD Kayu Agung Mirda T Zulaikha mengakui stok masker, hand sanitizer dan baju pelindung diri tenaga medis sangat tipis.

"Di tengah penularan Covid-19 yang berkembang masif, kebutuhan sarana medis sangat krusial bagi kami. Apalagi RSUD Kayu Agung menjadi rumah sakit rujukan," katanya, Kamis (19/3).

Stok yang ada hanya cukup untuk sekitar 3 hari ke depan saja. Termasuk APD baju pelindung yang hanya tersedia 20 set.

Namun untuk stok APD seperti kacamata dan sepatu boot, masih cukup aman dalam jangka waktu panjang. Untuk mengantisipasi minimnya stok hand sanitizer, RSUD Kayu Agung menyiasatinya dengan menggunakan sabun yang dijual di pasaran.

Sementara untuk mengantisipasi kekurangan baju pelindung diri antivirus, mereka menggunakan baju operasi bekas yang dicuci ulang.

"Daripada pelayanan terhenti sama sekali, kami terpaksa memilih memakai baju bekas operasi yang telah dicuci secara higienis," ucap Direktur RSUD Kayu Agung ini.

Kejadian serupa terjadi di RS Kesdam Cijantung, JakartaTimur. Petugas medis terpaksa menggunakan jas hujan saat menangani pasien Covid-19 karena keterbatasan ADP. Foto petugas medis itu kemudian viral di media sosial.

Salah seorang dokter yang bertugas RS Kesdam Cijantung, Shinta Kharisma mengatakan, kekurangan ADP sudah teratasi. Ia memastikan tidak ada lagi petugas medis mengenakan jas hujan sebagai pelindung diri. Semua sudah sesuai SOP penanganan pasien.

"Karena langsung ditindaklanjuti oleh satuan kami. Karena kami di bawah Kesdam Jaya. Sudah teratasi," kata dia.

RSUD dr Slamet Garut juga mengalami hal yang sama. Pada Minggu (8/3), tim pengantar pasien terinfeksi Covid-19 terpaksa menggunakan jas hujan karena stok ADP habis. Pasien tersebut hendak dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Direktur RSUD dr Slamet Garut yang juga merupakan Penanggung jawab Tim Penanganan Infeksi Emerging Covid-19 Kabupaten Garut, dr Husodo Dewo Adi mengatakan, bahwa APD di tempatnya memang telah habis. Hal tersebut pun kemudian menjadi salah satu alasan pasien PDP corona dirujuk ke RSHS Bandung.

"Kita hanya memiliki stok 20 PDP, dan sekarang sudah sudah habis setelah menangani dua pasien yang pemantauan dan pengawasan corona. Memang stok dari suplyer APD ini kosong karena tingginya angka permintaan," ujarnya.

Karena habisnya APD, kata Husodo, saat PDP corona dirujuk ke RSHS Bandung pun tim pengantar terpaksa menggunakan jas hujan. Walau masih dikatakan aman, namun menurutnya penggunaan APD lebih aman dibandingkan menggunakan jas hujan.

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.