Dari samurai sampai tahi kuda dibawa FPI serang Ahok
Bentrokan massa FPI tersebut membuat beberapa anggota kepolisian terluka.
Ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) melakukan aksi tolak Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T Purnama (Ahok), menjadi gubernur. Aksi itu dilakukan di dua tempat, depan Balai Kota dan Gedung DPRD DKI Jakarta.
Demonstrasi sendiri awalnya berjalan damai saat di depan kantor Balai Kota. Namun, ketika mereka pindah ke depan Gedung DPRD DKI Jakarta, ratusan pendemo itu mendadak brutal.
Dalam peristiwa itu, diduga pihak kepolisian kecolongan. Bentrok antara ratusan massa FPI dan polisi pun tak bisa dihindari.
Bentrokan tersebut membuat beberapa anggota kepolisian terluka. Tidak hanya kena lemparan batu, diduga FPI telah mempersiapkan penyerangan ke kantor Balai Kota ini.
Berikut peralatan 'perang' yang dibawa FPI buat demo anti-Ahok seperti dirangkum merdeka.com, Sabtu (4/10):
Samurai
Puluhan massa Front Pembela Islam (FPI) berhasil diciduk polisi usai demo anti-Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat. Selain melempar batu, mereka juga membawa samurai ditutupi bendera FPI.
Pantauan merdeka.com, Jumat (3/10), Kepolisian menyita barang bukti berupa bambu dan senjata tajam milik massa FPI. Mobil pick up dan minibus juga berhasil diamankan.
Dalam penggeledahan polisi, ditemukan samurai panjang dari tangan anggota FPI. Samurai tersebut ditutupi bendera FPI. Diduga hal itu dilakukan guna mengelabui kepolisian.
Batu
Demontrasi Front Pembela Islam (FPI) berakhir ricuh. Massa tiba-tiba langsung melempari Gedung DPRD DKI Jakarta dengan sejumlah batu.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto menduga kericuhan sudah direncanakan para pendemo. Dari pemeriksaan kepolisian, diduga batu-batu yang dipakai buat menyerang polisi disimpan di truk komando.
"Dari hasil olah TKP tidak ditemukan batu di lapangan, tapi dimuat di truk komando, dugaan polisi dr olah TKP chaos udah direncanakan FPI," kata Rikwanto di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (3/10).
Dari kejadian itu, polisi telah mengamankan 20 orang. Sebagian di antaranya berasal dari luar Jakarta, antara lain pria berinisial DD dari Bandung Barat, MK dari Tasikmalaya, dan AC dari Bandung.
Bambu
Demonstrasi Front Pembela Islam (FPI) untuk menolak Ahok jadi gubernur berakhir bentrok. Aksi dadakan itu sempat membuat kepolisian diduga merasa kecolongan.
Dalam bentrokan itu, berbagai senjata dibawa FPI. Senjata paling banyak digunakan ratusan massa FPI itu adalah bambu. Bambu itu biasanya digunakan untuk mengibarkan bendera.
Akibat kejadian itu, sejumlah polisi terluka saat mengawal demo massa FPI anti-Ahok di depan Balaikota dan DPR DKI. Demo berakhir ricuh karena massa bertindak anarkis.
"Anggota Polri menjadi korban aksi anarkis FPI di DPRD dan Balaikota dalam demo tolak Ahok," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto.
Tahi kuda
Aneh-aneh saja senjata Front Pembela Islam (FPI) terakhir ini saat demo menolak Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi gubernur. Sebelumnya, mereka menyerang polisi dengan batu dan samurai.
Tak hanya itu, ternyata sejumlah anggota FPI juga berencana melempari Gedung DPRD dan Balai Kota DKI Jakarta dengan kotoran kuda. Benda tersebut ditemukan polisi di sebuah mobil pick up berstiker Ponpes An-Nur.
Namun, sejauh ini benda menjijikkan itu belum digunakan. Tahi kuda itu masih dibungkus dalam sebuah karung.