Dari Dewi Sri ke pertanian organik
Mahesa berbusana hijau, rambutnya disanggul berhias ronce melati sepanjang punggung. Selendang atau sampur berwarna kuning bagian kostum yang penting dalam tarian-tarian Jawa dililitkan di pinggang.
Ratusan orang bertudung kepala anyaman bambu atau caping berduyun-duyun memasuki lapangan Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Delapan belas gubuk berhias orang-orangan sawah didirikan di sisi-sisi lapangan. Suara gamelan mengalun, gunungan hasil bumi berisi sayur mayur dan buah tegak berdiri di atas panggung. Matahari sudah cukup tinggi di sebelah timur.
Mahesa Wahyu Sari (22), warga RT 2 RW 2 Desa Wlahar Wetan menumpang kereta kencana yang ditandu 8 orang memasuki lapangan. Hari Minggu (19/8) pukul 10.00 WIB, ia mesti memerankan Dewi Sri, tokoh kahyangan simbol pelindung kelahiran dan kehidupan yang mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi.
Mahesa berbusana hijau, rambutnya disanggul berhias ronce melati sepanjang punggung. Selendang atau sampur berwarna kuning bagian kostum yang penting dalam tarian-tarian Jawa dililitkan di pinggang.
Nantinya, Mahesa bakal menari di tengah lapangan. Tarian tersebut menjadi inti acara festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan. Festival ini menggambarkan rasa syukur atas bibit padi yang ditanam para petani telah menjadi jaminan kelangsungan hidup warga Wlahar Wetan usai masa panen.
Dalam ranah kebudayaan Banyumas, ekspresi seni sebagai bagian ritus kesuburan memang jadi corak khas pertunjukan rakyat yang bertahan dalam bentang jarak dan waktu nan panjang. Lengger misalnya yang bertranformasi jadi Ronggeng pada tahun 1918, diurai dalam penelitian Sunayadi berjudul Lengger: Tradisi & Transformasi (ISI Yogyakarta, 2000) menjadi bagian upacara kesuburan seperti bersih desa (upacara usai musim panen).
Selain itu, ada pula pertunjukan rakyat Cowongan, ritual memanggil hujan saat kemarau panjang melanda membawa dampak kekeringan pada lahan-lahan pertanian.
"Sudah sejak bulan Juli, saya berlatih tarian Dewi Sri bersama anak-anak dan ibu-ibu di kampung. Kalau di pertunjukan pertama tadi, bersamaan pembacaan legenda Dewi Sri saya memainkan tari Baladewa", kata Mahesa yang merupakan alumnus Pendidikan Seni Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang ini.
Mahesa tak sendiri dalam festival seni pertunjukan rakyat tersebut. Ia juga mendampingi puluhan anak-anak dan ibu-ibu membawakan tari Dewi Sri secara kolosal. Di desa Wlahar Wetan, tempat ia tinggal, mayoritas penduduk memang menggantungkan hidup lewat pertanian. Sejatinya, di festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan warga tengah berpesta merayakan kebanggan mereka sebagai petani.
Warga grumbul Tambangan RT 8 RW 2 Desa Wlahar Wetan semisal, mendirikan gubuk berhias ikatan gabah dan membuat nasi tumpeng berisi sayur mayur dari hasil bercocok tanam. Mereka berdandan ala para pemain Ebeg atau kuda lumping untuk menyemarakkan festival.
Madiyarjo (75), salah satu warga grumbul Tambangan, sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri ikut menyemarakkan festival. Bersama cucu-cucunya, ia berjalan kaki dari kampungnya yang berada di ujung barat desa ikut serta dalam karnaval budaya desa. Menggunakan blangkon, berbusana batik, Madiyarjo menunggang kuda dari anyaman bambu.
Hari itu, ia berlibur dari aktivitas mengelola tiga petak sawah miliknya seluas 3/4 hektare. Ia meriung bersama warga menikmati pertunjukan seni sembari menunggu gunungan hasil bumi diperebutkan oleh warga.
Ketua RT 8 Grumbul Tambangan, Suwito (51) bercerita bahwa 70 % warganya mengelola kurang lebih 10 hektare lahan pertanian. Ia memaknai festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan, sebagai ekpresi rakyat kecil bahwa pertanian dan lahan subur di desa adalah berkah yang patut dijaga dan dipertahankan.
"Anak-anak kami yang kecil-kecil juga terlibat dalam acara ini. Acara ini kan menyenangkan, secara gak langsung anak-anak menyadari sejak dini pertanian jadi tumpuan hidup orang tua mereka. Jadi mereka tahu manfaat pertanian", ujar Suwito.
Festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan yang digelar pertama kali pada tahun 2018 ini, mengangkat tema "Desaku Mandiri Harapanku Sejahtera". Digelar sejak Minggu (19/8) sampai Senin (20/8) acara kebudayaan nampak kental mulai dari tari kolosal Dewi Sri, tari tradisional ebeg, lomba kidung Jawa sampai pentas wayang kulit.
Kepala Desa Wlahar Wetan, Dodiet Prasetyo menjelaskan festival dimaksudkan untuk mengangkat potensi lokal dalam pertanian dengan balutan seni. Seni tradisi bernuansa agricultural ceremonies diangkat untuk mengkampenyekan pemanfaatan alam dengan semangat menjaga kearifan lokal.
Sebabnya, pertanian di Wlahar Wetan secara bertahap telah memulai sistem pertanian organik berbasis kemandirian. Salah satu varietas padi lokal yang telah ditanam oleh para petani yakni jenis Menthik Susu.
"Saat ini ada 15 hektare yang menerapkan pertanian organik. Panen perhektare untuk saat ini baru 4 ton. Idealnya bisa 8 ton perhektare", kata Dodiet.
Memiliki wilayah seluas 365 hektare, kata Dodiet, 120 hektare diantaranya adalah lahan pertanian. Terbagi dalam 18 rukun tetangga dihuni 3500 jiwa, hampir 80 persen warga hidup dari sektor pertanian.
Pertanian tak bisa disangkal telah jadi denyut nadi kehidupan warga. Para petani telah berpeluh keringat dan menyediakan bahu memanggul gabah agar anak-anak mereka bisa berdiri lebih tinggi serta mengembangkan pertanian semakin baik.
Di satu sisi, Festival Seni Budaya Pertanian Wlahar Wetan digelar agar semua warga dapat mensyukuri berkah lahan pertanian. Sementara itu dari sisi lain, lewat festival regenerasi petani di Wlahar Wetan diharapkan tergerak untuk menjangkau peningkatan mutu hasil pertanian sembari menjaga kearifan lokal tanpa merusak alam.
Tata nilai tersebut mencoba disuarakan secara lembut dibalut dalam seni tradisi pertunjukan rakyat.
Baca juga:
Melestarikan permainan tradisional anak di tengah gempuran gadget canggih
33 Rumah adat Gurusina di NTT hangus terbakar
Peudame Ureung, tradisi mendamaikan sengketa di Aceh
KPI DKI Jakarta: citra Betawi di media televisi masih negatif
Bangganya warga pecahkan rekor dunia lewat senam poco-poco khas Indonesia
Pecahkan rekor dunia, Kapolri tegaskan Poco-Poco budaya asli Indonesia